Ekspansi Belanja Pemerintah Mereda, Uang Beredar Juni Menurun, Penyaluran Kredit Meningkat
Bank Indonesia melaporkan, Kamis (23/7/2026), uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun, atau tumbuh 8,7 persen (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan Mei 2026 sebesar 10,8 persen (yoy).
Perkembangan M2 itu dipengaruhi pertumbuhan uang beredar sempit (M1/aset paling likuid dan siap pakai untuk pembayaran langsung: uang kartal (uang kertas dan logam), giro rupiah, serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu), dan uang kuasi (seperti deposito dan rekening valas yang tidak bisa dipakai langsung untuk membayar barang dan jasa).
M1 dengan pangsa 56,9 persen dari M2, pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp5.937,5 triliun atau tumbuh 9,8 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang tumbuh 15,3 persen (yoy).
Perkembangan M1 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 10,4 persen (yoy), melorot dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 sebesar 23,9% (yoy).
Demikian juga uang kartal di luar bank umum dan BPR, dan tabungan rupiah ditarik sewaktu-waktu, masing -masing tumbuh 15,9 persen (yoy) dan 6,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 16,6 persen (yoy) dan 8,3 persen (yoy).
Uang kuasi dengan pangsa 42,3 persen dari M2 pada Juni 2026 tercatat tumbuh 6,9 persen (yoy) menjadi Rp4.409,3 triliun, meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,0 persen (yoy).
Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan simpanan berjangka sebesar 6,0 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Mei 2026 sebesar 3,3 persen (yoy).
Baca juga: BI Rate Naik, Tapi Likuiditas Tetap Longgar untuk Dorong Penyaluran Kredit
Penurunan pertumbuhan M2 pada Juni 2026, terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat.
Penyaluran kredit pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp8.916 ,7 triliun atau tumbuh 12,1 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10,8 persen (yoy).
Kredit di sini hanya dalam bentuk pinjaman (loans), tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
Sedangkan tagihan bersih kepada pemerintah pusat, hanya tumbuh 10,1 persen (yoy), melorot dibanding Mei 2026 yang tumbuh 37,4 persen (yoy).
Pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang merosot, berarti laju peningkatan tagihan sistem moneter (seperti Bank Indonesia) kepada pemerintah pusat melambat.
Kondisi ini mencerminkan berkurangnya ekspansi belanja pemerontah atau penarikan pembiayaan fiskal oleh pemerintah dari bank sentral, yang menandakan normalisasi anggaran setelah periode pengeluaran besar.
Selain itu, kondisi tersebut juga bisa terjadi karena naiknya penerimaan negara (seperti pajak), atau berkurangnya kebutuhan penarikan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) di bank sentral.
Baca juga: April Likuiditas Perekonomian atau Uang Beredar Tetap Longgar
Menurunnya pertumbuhan tagihan kepada pemerintah pusat, memperlambat laju uang beredar di masyarakat secara keseluruhan (M2) pada periode ulasan.
Sebaliknya, pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat yang menurun, berdampak terhadap peningkatan likuiditas perbankan, yang selanjutnya memengaruhi suku bunga dan penyaluran kredit.
Artinya, dana pemerintah tetap tersimpan di bank karena penarikan yang melambat, sehingga biaya dana turun, bank tidak perlu berebut dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat, yang mendorong penurunan suku bunga simpanan dan bunga kredit, yang selanjutnya meningkatkan penyaluran kredit.
Sementara uang primer (M0) adjusted yang telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas oleh bank sentral kepada perbankan, pada Juni 2026 mencapai Rp2.228,0 triliun atau tumbuh 13,8 persen (yoy), hanya sedikit menurun dibanding Mei yang tumbuh 14,2 persen (yoy).
Uang primer adalah uang inti atau kewajiban otoritas moneter, yang terdiri dari uang kartal (uang kertas dan logam) serta giro bank umum di bank sentral. Uang ini menjadi sumber awal terbentuknya seluruh jumlah uang beredar di masyarakat.
Perkembangan uang primer itu dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0 persen (yoy), dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12,6 persen (yoy).
Sementara surat berharga diterbitkan BI yang dimiliki sektor swasta, tumbuh 29,8 persen (yoy) setelah pada bulan sebelumnya terkontraksi atau minus 42,2 persen (yoy).