Kamis, Mei 14, 2026
HomeUncategorizedSemester I Pembiayaan Hijau Capai Rp39 Triliun untuk Perumahan dan Kendaraan Listrik

Semester I Pembiayaan Hijau Capai Rp39 Triliun untuk Perumahan dan Kendaraan Listrik

Pembiayaan hijau telah menjadi kebutuhan mendesak di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap lingkungan. Riset terbaru Council on Foreign Relation (2025) menyebutkan, perubahan cuaca global diperkirakan berdampak pada kerugian PDB (Produk Domestik Bruto) 40 persen hingga akhir abad ini atau 75 tahun ke depan.

Untuk itu, dalam upaya ransisi menuju ekonomi rendah karbon, sinergi bersama antara bank sentral, regulator sektor keuangan, kementerian teknis, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha, menjadi prasyarat utama untuk membangun ekosistem keuangan hijau yang kokoh dan berkelanjutan.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan hal itu dalam Seminar Nasional “Penguatan Sinergi Pembiayaan Hijau dalam Mendukung Transisi Ekonomi Berkelanjutan”, sebagai rangkaian acara Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025, di Jakarta, Jum’at (8/8/2025).

Destry mengapresiasi adanya Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI), forum kolaborasi yang melibatkan 15 bank, World Wildlife Fund (WWF), Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), dan PT Sarana Multi Infrastruktur, untuk mendorong penerapan keuangan berkelanjutan di Indonesia.

Pada Mei–Juni 2025, BI-IKBI memfasilitasi business matching pembiayaan untuk UMKM hijau, dengan nilai pembiayaan hijau mencapai Rp96 miliar. Program piloting juga berhasil mengklasifikasikan pembiayaan kepada UMKM hijau senilai Rp29,3 triliun, baik UMKM hijau langsung maupun rantai pasok, termasuk melalui penerbitan obligasi hijau.

Baca juga: Penyaluran KPR Hijau Bank Mandiri Mencapai Rp693 M

Sementara business matching BI bersama 14 Kementerian/Lembaga dan 10 lembaga keuangan, mempertemukan 394 UMKM dengan pihak pembiayaan dan menghasilkan komitmen pembiayaan lebih dari Rp300 miliar selama Februari-Juni 2025.

Dalam seminar “Tantangan dan Peluang Green Jobs: Menyongsong Ekonomi Masa Depan” di hari yang sama, Deputi Gubernur BI Juda Agung menyampaikan, green jobs juga merupakan elemen kunci dalam ekonomi berkelanjutan.

Green jobs bukan sekadar sumber lapangan kerja, tapi juga penggerak transformasi struktural membuka peluang dengan teknologi bersih dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dan industrialisasi rendah karbon.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Jika kita ingin transisi hijau yang inklusif dan berdampak luas, UMKM harus menjadi aktor utamanya. Untuk itu, kita perlu memperkuat ekosistem pendukungnya, yaitu akses pembiayaan hijau dengan skema yang ramah bagi usaha mikro, dan kemitraan strategis agar UMKM hijau bisa masuk ke rantai pasok industri besar, termasuk ekspor,” tutur Juda.

BI sendiri telah menetapkan insentif likuiditas hingga 0,5 persen dari DPK bagi bank yang menyalurkan pembiayaan hijau. BI juga melonggarkan Kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk mendorong lembaga keuangan menyalurkan pembiayaan ke sektor hijau.

Untuk membantu dunia usaha termasuk pelaku UMKM dalam transisi hijau, BI telah menyediakan Pedoman Model Bisnis UMKM Hijau serta Kalkulator Hijau sebagai alat bantu untuk menghitung emisi karbon, memberikan pendampingan, serta memperkuat pasar keuangan hijau melalui pembelian Sukuk Negara Hijau dan penerbitan Sukuk BI Inklusif dengan underlying 100 persen berupa S​ukuk Negara Hijau.

Baca juga: CIMB Niaga Tawarkan KPR Hijau dan KPR One House One Tree

Bagi masyarakat, pembiayaan hijau membuka akses produk dan layanan keuangan yang ramah lingkungan, seperti kredit rumah hijau, kendaraan listrik, hingga pembiayaan usaha berbasis ekonomi sirkular.

BI mencatat hingga 1 Juli 2025 pembiayaan hijau oleh perbankan mencapai Rp33,7 triliun untuk perumahan hijau dan kendaraan listrik.

Bank Indonesia secara konsisten memperkuat sinergi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan otoritas terkait lainnya, serta akademisi.

Bekerja sama dengan UGM, pada momen KKI 2025, diluncurkan Buku Kajian Ekosistem Pembiayaan Hijau kepada UMKM. Buku ini diharapkan menjadi rujukan bersama berbagai pihak dalam memperkuat arah kebijakan, inovasi produk, dan penguatan kapasitas sektor keuangan dalam mendukung transisi hijau.​

Berita Terkait

Ekonomi

LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya

Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi...

April Konsumen Tahan Belanja, Perbanyak Tabungan

Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 yang dipublikasikan awal...

Ada Perang di Timur Tengah, WNI yang Melancong ke Luar Negeri Malah Naik Tinggi

Perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026 melambungkan...

Berita Terkini