Wah! Triwulan Satu Neraca Pembayaran RI Defisit Besar
Neraca pembayaran adalah rangkuman seluruh transaksi ekonomi internasional suatu negara dengan negara lain dalam suatu periode.
Komponen utamanya adalah transaksi berjalan (current account) yang mencatat transaksi barang (ekspor-impor), jasa, pendapatan, dan transfer berjalan (seperti bantuan luar negeri atau remitansi).
Kemudian, transaksi modal dan finansial (capital and financial account), yang mencatat aliran modal masuk dan keluar seperti investasi langsung (FDI), investasi portofolio, dan pinjaman luar negeri. Lalu, cadangan devisa (reserve assets), yang mencatat perubahan cadangan devisa negara.
Neraca pembayaran menggambarkan posisi keuangan internasional dan aliran devisa, membantu menentukan kebijakan ekonomi, moneter, fiskal, dan perdagangan internasional, dan menjadi ukuran tingkat kesehatan ekonomi dan kapasitas utang suatu negara di mata dunia.
Idealnya, neraca pembayaran selalu surplus, yang berarti transaksi yang menghasilkan penerimaan (kredit) lebih besar daripada pengeluaran (debit).
Secara teoritis, neraca pembayaran yang surplus akan membuat nilai tukar mata uang sebuah negara menjadi kuat, demikian pula cadangan devisanya.
Tapi, dalam kasus Indonesia, sayangnya sering tidak demikian. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kerap lebih banyak defisit alias minus ketimbang surplus. Tahun 2024 misalnya, NPI secara keseluruhan surplus cukup besar, mencapai USD7,64 miliar. Yaitu, dari defisit USD6 miliar dan USD0,6 miliar pada triwulan I dan II, kemudian surplus USD5,9 miliar dan USD7,8 miliar pada triwulan III dan IV.
Namun, pada 2025 situasinya berbalik. NPI defisit sekitar USD7,8 miliar. Yaitu, defisit USD0,8 miliar, USD6,7 miliar, dan USD6,4 miliar pada triwulan I, II, dan III, serta surplus USD6,1 miliar pada triwulan IV.
Baca juga: Neraca Pembayaran Indonesia 2025 Tekor USD7,8 Miliar
Pada triwulan I 2026, Bank Indonesia melaporkan, Jumat (22/5/2026), NPI kembali defisit. Kali ini jauh lebih besar, mencapai USD9,15 miliar. Sudah melampaui defisit sepanjang tahun lalu dan terdalam sejak akhir 2019.
Penyumbangnya, defisit transaksi berjalan senilai USD4 miliar atau setara 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dibanding defisit triwulan IV 2025 sebesar USD2,5 miliar atau 0,7 persen dari PDB.
Menurut BI, neraca perdagangan non-migas tetap membukukan surplus, tapi lebih rendah dibandingkan surplus pada triwulan IV 2025, sedangkan defisit neraca perdagangan migas menurun.
“Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon/bunga (dari utang). Sedangkan neraca jasa membaik sejalan dengan penurunan impor jasa freight (pengapalan),” tulis laporan BI.
Neraca pendapatan primer adalah bagian dari neraca transaksi berjalan, yang mencatat arus penerimaan dan pembayaran balas jasa atas penggunaan faktor produksi (tenaga kerja dan modal finansial) antarnegara. BI memperkirakan, defisit transaksi berjalan 2026 berada di kisaran 1,3-0,5 persen dari PDB.
Baca juga: Neraca Pembayaran Surplus Tinggi, Rupiah Langsung Terdongkrak
Sementara transaksi modal dan finansial mengalami defisit (minus) USD4,9 miliar, dari triwulan IV 2025 surplus tinggi senilai USD9 miliar. Penyumbangnya surplus investasi langsung dan portofolio.
“Investasi langsung tetap surplus sebagai cerminan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik. Sedangkan investasi portofolio juga tetap surplus, kendati lebih rendah dibanding triwulan IV 2025. Sementara investasi lainnya defisit, karena pembayaran utang luar negeri serta penempatan kas dan simpanan dan aset lainnya di luar negeri,” jelas laporan BI.
Mengenai cadangan devisa, BI mencatat penurunan lebih dari USD10 miliar dalam 4 bulan terakhir, dari USD156,5 miliar pada akhir 2025 menjadi USD146,2 miliar pada akhir April, untuk menjaga nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing.