Menko Airlangga: Ekonomi Indonesia Sudah di Jalur yang Tepat
Kendati berbagai ekonomi mengritik kondisi ekonomi Indonesia yang hanya bagus di atas kertas, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tetap dengan tegas menyatakan, ekonomi Indonesia sudah berjalan di jalur yang tepat.
Indikatornya terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga 5,29 persen pada triwulan dua 2026, inflasi terkendali di kisaran sasaran 2,88 persen pada Juli 2026, PMI Manufaktur Juli 2026 kembali ekspansif, dan neraca perdagangan Juni 2026 membaik.
“Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh secara berkelanjutan dengan terjaganya inflasi, ekspansi sektor manufaktur, dan membaiknya neraca perdagangan,” kata Airlangga kepada pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Meredanya inflasi tahunan (yoy) pada Juli 2026, jauh lebih rendah dibanding Juni 2026 sebesar 3,34 persen terutama karena turunnya harga sejumlah bahan pangan.
Mencerminkan efektivitas kebijakan dalam memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas harga, yang dikoordinasikan melalui sinergi kebijakan pemerintah pusat, BI, dan daerah dalam kerangka TPIP dan TPID.
Peningkatan ketahanan pangan terus dilakukan melalui peningkatan produktivitas pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan pertanian, penyediaan pupuk dan benih, mekanisasi pertanian, serta penguatan infrastruktur logistik pangan dan dukungan KUR dengan realisasi Rp198,9 triliun per 28 Juli 2026 dari plafon Rp290,59 triliun.
Lebih lanjut, Pemerintah terus memperkuat sinergi kebijakan melalui stabilisasi nilai tukar, kelancaran distribusi, serta berbagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat.
Di tengah dinamika geopolitik global, pemerintah memperkuat langkah antisipatif untuk memitigasi risiko imported inflation melalui insentif penurunan biaya input produksi, termasuk pembebasan bea masuk impor LPG industri, bahan baku plastik, dan suku cadang pesawat.
Pemerintah juga terus memperkuat ketahanan energi guna menjaga daya saing ekonomi nasional, melalui peningkatan lifting minyak dan gas bumi, percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan, implementasi program biodiesel, pembangunan infrastruktur energi, serta hilirisasi mineral dan sumber daya alam.
Implementasi Mandatori Biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 terus diperkuat guna mendukung swasembada energi. Kebijakan tersebut, yang ditopang pula oleh pembatasan ekspor minyak mentah untuk mengamankan pasokan kilang dalam negeri, diarahkan untuk menghemat devisa, serta mengurangi ketergantungan impor energi.
Kinerja neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus kumulatif USD3,58 miliar sepanjang Januari–Juni 2026. Ditopang surplus nonmigas USD19,35 miliar di tengah menurunnya defisit migas USD15,77 miliar, yang mencerminkan kebutuhan energi domestik dalam fase transisi menuju swasembada energi.
Pada Juni 2026, defisit bulanan menyempit tajam sebesar 72,02 persen (mtm) menjadi USD0,45 miliar dari USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengonfirmasi keseimbangan perdagangan yang kembali terjaga.
Perbaikan ini ditopang oleh menguatnya surplus nonmigas menjadi USD3,04 miliar (dari USD2,15 miliar) karena meningkatnya ekspor nonmigas, dan mengecilnya defisit migas menjadi USD3,49 miliar (dari USD3,75 miliar) karena berkurangnya impor.
Struktur impor (di luar nigas) didominasi bahan baku/penolong (USD97,95 miliar) dan barang modal (USD27,36 miliar), mencakup 91,3 persen dari total impor, sementara impor barang konsumsi hanya 8,7 persen.
Mengindikasikan menguatnya aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri, yang menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan geliat industri manufaktur ke depan.
PMI Manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi di level 50,2 pada Juli 2026 (dari 46,9), didorong menguatnya pesanan baru sehingga menjadi pengungkit tingkat output untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.
Perusahaan bahkan mulai menambah tenaga kerja untuk pertama kalinya dalam lima bulan, merespons pesanan yang mulai pulih. Sementara rantai pasok yang berangsur membaik, membantu penguatan sektor manufaktur domestik.
Optimisme pelaku industri berada di level tertinggi sejak Januari 2026. Meski permintaan ekspor masih lemah dan tekanan biaya produksi belum sepenuhnya reda, arah pemulihan sudah terbentuk dan keberlanjutannya akan bergantung pada penguatan permintaan serta meredanya tekanan biaya dan hambatan rantai pasok.
Baca juga: Yang Full Nganggur Masih 7,22 Juta, Setengah Pengangguran 10,78 Juta
Sementara pertumbuhan ekonomi secara semesteran mencatat angka tertinggi dalam lima tahun terakhir, kendati pertumbuhan pada triwulan dua sebesar 5,29 persen (yoy) lebih rendah dibanding triwulan I sebesar 5,61 persen (yoy).
Menurut Airlangga, dengan pertumbuhan 5,29 persen pada triwulan II-2026, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 mencapai 5,45 persen (ctc), capaian semesteran tertinggi dalam lima tahun terakhir, sekaligus menandai 5 triwulan berturut-turut ekonomi Indonesia tumbuh di atas 5 persen.
Capaian tersebut diraih di tengah perekonomian global yang bergerak dalam arus silang, antara tekanan konflik global dan akselerasi teknologi, dengan ekonomi dunia diproyeksikan IMF hanya tumbuh 3,0 persen.
“Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5 persen. Ini menunjukkan fondasi ekonomi domestik kita solid, dan kebijakan yang ditempuh pemerintah berjalan efektif,” jelas Airlangga.
Pertumbuhan berkualitas
Pemerintah juga mengklaim pertumbuhan ekonomi semester I-2026 berkualitas, karena memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 22,93 juta orang, berkurang 0,43 juta orang dibandingkan September 2025, sehingga tingkat kemiskinan turun menjadi 8,07 persen, terendah sepanjang sejarah pencatatan.
Jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang, dengan penyerapan tenaga kerja bertambah 522 ribu orang sepanjang Februari–Mei 2026, pengangguran turun 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,65 persen dengan porsi tenaga kerja formal terus meningkat.
“Pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan. Pada semester I keduanya terjadi bersamaan, dan lapangan kerja yang tercipta makin berkualitas karena porsi pekerja formal meningkat,” tutur Menko Airlangga.
Dengan sejumlah indikator terkini yang sudah disebutkan di atas, pemerintah menyebut ekonomi Indonesia memiliki prospek yang positif memasuki semester II 2026.
Apalagi, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen (yoy) atau setara 49,5 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun.
Komposisinya berimbang antara PMA sebesar Rp507,6 triliun (50,2 persen) dan PMDN sebesar Rp502,9 triliun (49,8 persen), dengan sebaran yang semakin merata di mana realisasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun (50,2 persen).
Investasi pada sektor hilirisasi menyumbang Rp300,1 triliun atau hampir 30 persen dari total investasi nasional. Yang tidak kalah penting, investasi tersebut menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan semester I-2025.
Baca juga: 4 Lembaga Global Ini Bilang Ekonomi RI 2026 Tak Akan Tumbuh Sesuai Target
Pada sektor pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan atau tumbuh 5,71 persen (yoy), dengan Tingkat Penghunian Kamar hotel bintang meningkat menjadi 51,29 persen.
Kualitas kunjungan juga membaik, tercermin dari rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara pada semester I-2026 sebesar USD1.313 atau tumbuh 6,36 persen.
Di bidang ketahanan energi, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM hingga akhir 2026. APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber dalam menahan lonjakan harga minyak, di mana rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) sepanjang semester I-2026 mencapai USD90,46 per barel, jauh di atas asumsi APBN.
“Prinsip pemerintah jelas, daya beli masyarakat tidak boleh tergerus. Karena itu harga BBM kita jaga, harga pangan kita stabilkan, dan stimulus kita salurkan tepat sasaran,” tegas Menko Airlangga.
Dengan berbagai capaian sepanjang semester I yang solid, pemerintah optimis momentum pertumbuhan dapat terus dijaga hingga akhir 2026, dan menjadi landasan menuju pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2027 dan seterusnya.