62 Persen Pembeli Rumah Subsidi adalah Gen Z, 20 Persen Milenial
Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatat, sampai 23 Juli 2026, realisasi penyaluran subsidi pemilikan rumah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), mencapai Rp13.874 triliun untuk 111.537 unit rumah dari target tahun ini sebanyak 350.000 unit.
Hal itu disampaikan Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (24/7/2026), mengenai rencana penyelenggaraan akad massal 62.000 KPR FLPP di Batang, Jawa Tengah, pada 30 Juli 2026.
Berdasarkan profesi, sebanyak 71.250 penerima subsidi FLPP itu atau 63,88 persen, adalah pekerja swasta/karyawan termasuk buruh. Diikuti wiraswasta sebanyak 19.254 debitur (17,26 persen), PNS dan anggota TNI/Polri 10.944 debitur (9,81 persen), dan profesi lainnya 10.089 debitur (9,05 persen).
Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) penerima FLPP terkonsentrasi (lebih dari 60 persen) di provinsi yang banyak industrinya, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, selain Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan.
“Hampir 100 persen penerima FLPP pada semester satu 2026, membeli hunian subsidi berupa rumah tapak, yang beli rusun (apartemen) subsidi hanya 10 unit,” kata Heru.
Sekitar 62 persen memilih rumah tipe 31-36 m2, dan 36 persen rumah tipe 26-31 m2. Sedangkan luas tanahnya, sebanyak 67 persen memilih kaveling rumah seluas 60-90 m2, dan 24 persen kaveling seluas 90-120 m2.
Sebanyak 82.615 MBR atau 74 persen memilih rumah seharga Rp150 juta-Rp175 juta per unit, dan 28.764 MBR atau sekitar 25 persen membeli rumah seharga di atas Rp175 juta.
Baca juga: Komisioner Tapera: Demand Rumah Subsidi Tinggi, Tapi Suplai Kurang
Sebanyak 64.216 MBR atau 57 persen membeli rumah dengan uang muka 1 persen atau kurang, 31.388 MBR atau 28 persen dengan uang muka 1-2 persen, dan 13.108 MBR atau sekitar 11 persen membayar uang muka 2-3 persen. “Mayoritas mengambil tenor KPR 10-15 tahun,” ujar Komiisoner Heru.
Saat ini tenor KPR FLPP dipatok maksimal 20 tahun dengan bunga 5 persen per tahun fix selama periode kredit yang diambil. Rinciannya, 62.750 debitur atau 56 persen mengambil tenor KPR 10-15 tahun, 36.009 debitur atau 32 persen tenor 15-20 tahun, dan 12.685 debitur atau sekitar 11 persen mengambil tenor 5-10 tahun.
Berdasarkan kelompok usia, mayoritas pembeli rumah subsidi dengan KPR FLPP adalah Gen Z dan kaum milenial, mencakup sekitar 82 persen dari total penerima FLPP pada semester I 2026, sisanya Gen X. Yaitu, Gen Z 62 persen, milenial 20 persen, Gen X 8 persen. “Rentang penghasilan penerima FLPP antara Rp3-5 jutaan per bulan,” ungkap Heru.
Baca juga: Pencari Rumah Usia 25-34 Tahun Paling Banyak
Secara lebih terperinci, sebanyak 40.263 debitur KPR FLPP pada semester I 2026 berada di kelompok usia 19-25 tahun, 29.100 debitur berusia 26-30 tahun, 17.526 debitur berusia 31-35 tahun, 13.445 debitur berusia di atas 40 tahun, dan 11.203 debitur berusia 36-40 tahun.
Kelompok usia 19-30 tahun tergolong Gen Z yang lahir antara 1997 sampai 2012, sedangkan kelompok usia 31 sampai 40 tahun masuk kategori milenial yang lahir menjelang akhir 1980 sampai menjelang milenium kedua (tahun 2000). Sedangkan kelompok usia di atas 40 tahun masuk kategori Gen X ditambah sedikit milenial awal.
“Dominannya generasi Z sebagai penerima FLPP menunjukkan, mereka sebenarnya memiliki kesadaran yang baik mengenai pentingnya punya rumah sendiri sebagai aset dan investasi jangka panjang,” pungkas Komisioner Heru.