Kadin: Multiplier Effect Industri Kesehatan, Rp1 Jadi Rp3
Sektor kesehatan dengan industri farmasi nasional bisa memberikan dampak bukan hanya layanan kesehatan kepada masyarakat tapi juga aktivitas perekonomian yang menyertainya. Karena itu investasi di sektor kesehatan merupakan langkah penting khususnya untuk memperkuat industri farmasi.
“Kesehatan merupakan industri yang bisa terus dikembangkan karena sektor ini merupakan salah satu yang hakiki di masyarakat. Industri ini harus dikembangkan bukan hanya soal luxury tapi justru health yang dampak ekonominya sangat besar,” ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya N. Bakrie di acara Ceremony for the Joint Venture Between Tempo Scan Group and Sino Biopharmaceutical Limited PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) pekan ini.
Berdasarkan White Paper Kadin Indonesia yang disusun bersama Kementerian Kesehatan, nilai ekonomi sektor kesehatan di Indonesia mencapai sekitar Rp670 triliun per tahun. Anin menilai, sektor ini memiliki dampak berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian nasional.
“Rp670 triliun itu artinya setiap satu rupiah yang dikeluarkan di dalam sektor health ini menghasilkan dua sampai tiga rupiah lagi untuk multiplier effect-nya. Jadi dampak ekonominya memang sangat besar,” imbuhnya.
Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, investasi di sektor ini juga dapat mengurangi beban pemerintah, termasuk melalui efisiensi pembiayaan layanan kesehatan seperti BPJS Kesehatan. Anin juga menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku kesehatan dan farmasi.
Baca juga: Kadin Rilis Business Pulse Q2, Sebut Peluang Ekspor Besar
Oleh karena itu kehadiran investasi baru dinilai dapat memperkuat industri dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing nasional. Terlebih selama ini masih banyak bahan baku yang impor sehingga kalau impor ini bisa dikurangi maka dampaknya akan sangat baik untuk industri dalam negeri.
Besarnya nilai ekonomi sektor kesehatan juga membuka peluang yang luas bagi seluruh pelaku usaha mulai dari perusahaan besar hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hal tersebut sejalan dengan struktur keanggotaan Kadin Indonesia yang didominasi oleh sekitar 60 juta UMKM sementara perusahaan berskala besar jumlahnya jauh lebih sedikit.
“Saya rasa ini tanda-tanda bahwa memang investasi dari dalam dan luar negeri sudah mulai bergeliat. Tentunya ini menandakan bahwa konsumsi domestik Indonesia itu kuat karena selama ini kita selalu berbicara mengenai perdagangan, investasi, dan konsumsi domestik selain daripada belanja pemerintah,” pungkasnya.