Kadin Rilis Business Pulse Q2, Sebut Peluang Ekspor Besar
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Institute merilis hasil Kadin Business Pulse Q2 2026 bertajuk “Ketahanan Dunia Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah dan Peluang ICA-CEPA” di Menara Kadin Indonesia, Jakarta Selatan, pekan ini.
Menurut Ketua Umum Kadin Anindya Novyan Bakrie, Kadin Business Pulse merupakan instrumen yang secara rutin diterbitkan setiap kuartal untuk memotret kondisi dunia usaha sekaligus menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
Business Pulse menjadi dashboard bagi dunia usaha untuk melihat berbagai indikator perekonomian mulai dari kondisi bisnis, regulasi, birokrasi, kebijakan pemerintah, hingga daya beli masyarakat. Survei tersebut juga mencakup pelaku usaha dari berbagai skala mulai dari usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), hingga perusahaan besar.
“Sepanjang kuartal kedua 2026 dunia usaha menghadapi berbagai tantangan mulai dari ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kepastian regulasi, daya beli masyarakat, hingga kenaikan biaya energi,” ujarnya melalui siaran pers Kamis (16/7).
Meski demikian, perhatian investor global terhadap Indonesia kini tidak lagi berfokus pada besarnya potensi ekonomi melainkan pada kemampuan Indonesia dalam merealisasikan berbagai kebijakan termasuk mengeksekusi kebijakan maupun berbagai potensi untuk mencapai Indonesia Emas.
Kondisi ini mendorong Kadin untuk semakin aktif turun ke berbagai daerah guna memperkuat komunikasi dengan pelaku usaha sekaligus menyampaikan berbagai inofrmasi dan advokasi kebijakan karena di sanalah ada kebutuhan besar dan Kadin harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus tuan rumah bagi dunia usaha.
Fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat di tengah berbagai tantangan global membuat Kadin optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di kisaran 5 persen pada tahun ini terlebih inflasi juga terjaga dan rasio utang terhadap PDB masih cukup baik.
“Kami melihat tekanan geopolitik global mulai mereda disertai munculnya sentimen positif terhadap Indonesia. Indonesia tengah memasuki fase transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia,” imbuhnya.
Baca juga: Kadin Beberkan Potensi Besar Investasi di Indonesia, AI Salah Satunya
Untuk itu dunia usaha harus beradaptasi terhadap tatanan ekonomi global yang baru (new equilibrium). Kondisi tersebut harus dihadapi secara realistis dengan tetap menjaga optimisme. Supaya kondisi ini bisa berjalan lancar, pelaku usaha perlu harus terus melakukan efisiensi, mempercepat adopsi teknologi, menjaga lapangan kerja, serta memperluas pasar ekspor melalui pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Anindya juga menyoroti masih rendahnya pemanfaatan perjanjian dagang oleh dunia usaha termasuk Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), padahal peluang ekspor masih sangat besar. Sekitar 80 persen pelaku usaha belum mengetahui detail pemanfaatan CEPA padahal sebentar lagi Uni Eropa akan mulai berjalan.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian mengatakan, hasil survei menunjukkan sentimen dunia usaha pada kuartal kedua 2026 masih mengalami pelemahan dibandingkan kuartal sebelumnya. Pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan fiskal masih menjadi perhatian utama pelaku usaha.
“Hasil kuartal kedua ini menunjukkan sentimen bisnis masih melemah dibandingkan kuartal pertama. Konsentrasi utama pelaku usaha adalah pelemahan rupiah dan kepastian kebijakan fiskal pemerintah, namun demikian optimisme pelaku usaha mulai membaik seiring meredanya risiko geopolitik global,” bebernya.
Pelaku usaha mulai lebih optimistis melihat perkembangan global karena risiko perang di Timur Tengah sudah lebih rendah dibandingkan kuartal pertama. Perusahaan yang berorientasi ekspor juga mulai merasakan ada upside dari kondisi ini.
Baca juga: Kadin Paparkan 3 Hal Supaya Ekonomi Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah
Dari sisi operasional, pelemahan rupiah dinilai memberikan tekanan terbesar terhadap kenaikan biaya usaha. Pada saat yang sama, pelaku usaha juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan margin keuntungan karena belum dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen yang daya belinya masih terbatas.
“Yang paling menjadi perhatian adalah kenaikan biaya operasional akibat pelemahan rupiah. Di sisi lain, pelaku usaha belum bisa sepenuhnya meneruskan kenaikan harga bahan baku karena daya beli masyarakat belum terlalu membaik,” pungkas Fakhrul.