Cadangan Emas Indonesia Diperkirakan 3.800 Ton
Pemerintah terus mendorong pengembangan ekosistem bulion nasional sebagai upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya emas Indonesia, sekaligus memperkuat sektor jasa keuangan berbasis emas.
Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan rantai nilai emas secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga pemanfaatannya dalam berbagai layanan dan instrumen keuangan.
Momentum tersebut didukung oleh besarnya potensi emas Indonesia di tengah meningkatnya permintaan emas global. Berdasarkan estimasi United States Geological Survey (USGS), Indonesia memproduksi sekitar 90 ton emas tahun lalu, atau sekitar 2,7 persen dari produksi emas dunia, dengan cadangan diperkirakan mencapai sekitar 3.600 ton atau sekitar 5,5 persen dari total cadangan emas global.
Tidak dijelaskan apakah angka 3.600 ton itu cadangan terbukti atau benar-benar baru perkiraan. Yang jelas, setahun setelah peluncuran Bulion Bank oleh Presiden Prabowo, jumlah emas yang dikelola dalam ekosistem bulion Indonesia telah mencapai 153,05 ton melalui PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.
Capaian tersebut menunjukkan makin berkembangnya pemanfaatan emas sebagai bagian dari sektor jasa keuangan nasional. Namun, sektor hilir keuangan bulion tidak dapat berdiri sendiri. Keberlanjutan berbagai layanan finansial berbasis emas sangat bergantung pada kepastian pasokan emas fisik yang aman, bertanggung jawab, dan terformalisasi di sisi hulu.
Baca juga: Setahun Kegiatan Usaha Bullion, Pegadaian Kelola 147,8 Ton Emas, BSI 22,5 Ton
Untuk melengkapi lingkaran ekosistem tersebut, penataan sektor pertambangan emas rakyat dan skala kecil (artisanal and small-scale gold mining) menjadi krusial, agar hasil produksinya dapat terintegrasi dengan aman sebagai underlying aset yang sah di pasar formal.
Untuk mendukung penguatan ekosistem tersebut, tata kelola pertambangan emas rakyat dan skala kecil perlu terus diperkuat.
Guna menjembatani urgensi integrasi hulu-hilir tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berkolaborasi dengan World Gold Council (WGC) dan Intergovernmental Forum on Mining (IGF), menyelenggarakan Bullion Academy Training pertama di Indonesia dengan tema “Global Gold Market Overview dan Artisanal Mining and Small-Scale Gold Mining” di Jakarta, Kamis (9/7/2026.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenkeo Perekonomian Ferry Irawan menyatakan, perumusan kerangka kebijakan yang komprehensif dari regulator harus berjalan selaras dengan kesiapan kapasitas teknis (capability) para pelaksana dan pelaku pasar.
Baca juga: Bank BSI Kampanyekan “Beli Emas Semudah Beli Secangkir Kopi” untuk Anak Muda
Visi besar pemerintah, membangun interkoneksi yang utuh pada seluruh pilar aktivitas bisnis bulion mencakup aspek penambangan, pemurnian, custody, perdagangan, pembiayaan, hingga produk investasi akhir agar aktivitas keuangan berbasis emas tidak tumbuh terisolasi dari basis produksinya.
Menurut Ferry, sektor keuangan menyediakan jalur (pathway) menuju inklusi formal. Namun, resiliensi pasar bulion yang tangguh, mutlak memerlukan jaminan pasokan fisik yang bertanggung jawab.
“Forum ini menjadi momentum krusial untuk membekali para pelaku industri, agar memiliki kapasitas yang adaptif dalam mengelola risiko, memahami rantai pasok global, serta menerapkan prinsip keberlanjutan demi menjaga integritas pasar bulion Indonesia,” katanya dikutip dari keterangan Kemenko Perekonomian, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: BSN Lansir KPR Ikhtiar Haji dan KPR Bundling Emas
Agenda capacity building tersebut menghimpun perspektif global dari narasumber ahli WGC dan IGF. Paparan yang disampaikan berfokus pada dinamika pasar bulion global, standardisasi responsible sourcing, serta formulasi strategi penyerapan produksi hulu ke dalam infrastruktur pasar keuangan formal.
Masukan konstruktif dari lokakarya akan menjadi landasan penting dalam memformulasikan kebijakan yang adaptif dan berbasis kesiapan lapangan, guna memastikan ekosistem bulion nasional tumbuh sebagai pilar ekonomi yang kuat, inklusif, dan berkompeten secara global.