Kredit Bermasalah Paylater Kian Meningkat, Kredit Macet Pinjol Masih Tinggi, Gadai Barang Moncer
Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (RDKB) Juni 2026 yang diadakan awal pekan lalu (7/7/2026) mengungkapkan, porsi produk kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan makin meningkat menjadi 0,34 persen dari total outstanding kredit.
Per Mei 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, tumbuh 37,72 persen secara tahunan (yoy) dibanding April 2026 sebesar 37,29 persen (yoy) menjadi Rp30,1 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta dibanding April 2026 sebanyak 31,76 juta.
Sedangkan pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan, pada Mei 2026 tumbuh 53,78 persen (yoy) dibanding April 2026 sebesar 56,92 persen (yoy), menjadi Rp13,18 triliun dengan kredit bermasalah atau NPF gross meningkat signifikan menjadi 3,44 persen dari April 2026 sebesar 2,99 persen, Maret 2,51 persen, Februari 2,79 persen, dan 2,77 persen pada Januari 2026.
Pada industri pinjaman daring (pindar) atau pinjaman online (pinjol), pada Mei 2026 outstanding-nya juga tetap tumbuh tinggi 25,60 persen (yoy) dibanding April 2026 yang tumbuh 26,11 persen (yoy), menjadi Rp103,73 triliun, dengan tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) masih tinggi sebesar 4,42 persen kendati menurun dibanding TWP90 pada April 2026 sebesar 4,62 persen.
Baca juga: Pembiayaan Paylater dan Pinjol Tetap Kencang, Kredit Macetnya Kian Tinggi
TWP90 sebesar 4,42 persen berarti, sebanyak 4,42 persen pinjaman belum dapat dikembalikan debitur lebih dari 90 hari setelah pinjaman tersebut jatuh tempo.
Bandingkan dengan TWP90 pada Maret 2026 sebesar 4,52 persen, Februari 4,54 persen, dan Januari 4,38 persen. Artinya, risiko kredit macet atau TWP90 pinjol tetap tinggi, hampir mendekati threshold (ketentuan maksimal) 5 persen.
Sementara pada industri pergadaian, masyarakat makin banyak menggadaikan barang untuk mendapatkan uang tunai. Pada Mei 2026, OJK melaporkan, penyaluran pembiayaannya mencapai tumbuh 57,97 persen (yoy) dibanding April 2026 sebesar 56,80 persen (yoy) menjadi Rp163,27 triliun.
Produsk pembiayaan terbesar di industri pergadaian disalurkan dalam bentuk produk Gadai, mencapai Rp137,20 triliun atau 84,03 persen dari total pembiayaan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (KE PVML) OJK Agusman menyatakan, per Mei 2026 laba industri pinjol tercatat Rp1,08 triliun, atau melonjak 37,43 persen secara tahunan (yoy).
Namun, ia mengingatkan lonjakan laba itu tidak boleh dicapai dengan mengorbankan kualitas pinjaman. Penyaluran pinjaman harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola risiko sehingga kualitas kredit tetap terjaga.
Baca juga: Wajar Anak Muda Sulit Dapat Kredit Rumah, Banyak yang “Galbay” Pinjol dan Paylater
Hingga Mei 2026 terdapat 18 penyelenggara pinjol yang memiliki TWP90 di atas 5 persen, dan 10 penyelenggara dalam status Pengawasan Khusus karena kualitas aset atau pembiayaannya yang buruk.
Secara umum, penyaluran paylater, pindar dan produk gadai selalu tumbuh tinggi, karena kemudahannya diakses secara online.
Berbeda dengan kredit konsumsi perbankan yang proses penyalurannya panjang dan ketat, didahului dengan analisis mendalam terhadap kredibilitas calon debitur, sehingga pertumbuhannya tidak akan pernah bisa semoncer paylater, pinjol, dan produk gadai. Mei 2026 penyaluran kredit konsumsi perbankan hanya tumbuh 5,89 persen (yoy).