Pembiayaan Paylater dan Pinjol Tetap Kencang, Kredit Macetnya Kian Tinggi
Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (RDKB OJK) pada 25 Mei 2026 yang dipublikasikan akhir pekan ini mengungkapkan, berdasarkan informasi pada SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) OJK, pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 56,92 persen secara tahunan (yoy) dibanding Maret 2026 sebesar 55,85 persen (yoy), menjadi Rp12,93 triliun dengan kredit bermasalah atau NPF gross mencapai 2,99 persen, melonjak dibanding Maret 2026 sebesar 2,51 persen.
Sebelumnya pada Februari 2026, NPF Gross paylater di perusahaan pembiayaan mencapai 2,79 persen, sedikit meningkat dibanding Januari 2026 sebesar 2,77 persen. Artinya, NPF paylater perusahaan pembiayaan pada April 2026 meningkat jauh lebih tinggi dibanding NPF pada Januari-Maret 2026.
Di perbankan, baki debet kredit paylater pada April 2026 sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, juga tumbuh kian tinggi sebesar 37,29 persen (yoy) dibanding Maret 2026 yang tumbuh 24,20 persen (yoy), menjadi Rp29,3 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta dibanding 30,81 juta pada Maret 2026.
Rasio kredit bermasalahnya tidak disebutkan, karena porsi paylater yang masih sangat mini di perbankan, sekitar 0,34 persen dari total outstanding kredit.
Baca juga: Debitur Pinjol Bermasalah Didominasi Gen Z dan Milenial
Serupa dengan paylater, penyaluran pinjaman online (pinjol) atau pinjaman daring (pindar) juga tumbuh tinggi. Pada April 2026 mencapai 26,11 persen (yoy) dibanding Maret 2026 sebesar 26,25 persen (yoy), menjadi Rp102,07 triliun.
Peningkatan penyaluran pinjol itu diikuti dengan kenaikan risiko kredit macetnya secara agregat (TWP90) menjadi 4,62 persen, dibanding 4,52 persen pada Maret 2026, 4,54 persen pada Februari 2026, dan 4,38 persen pada Januari 2026. Dengan kata lain, risiko kredit kredit macet pinjol juga meningkat kian tinggi, hampir mendekati threshold (ketentuan maksimal) 5 persen.
Baca juga: Pinjol dan Pay Later Terus Tumbuh Tinggi, Kredit Macetnya Juga Makin Naik
Peningkatan paylater dan pinjol menunjukkan makin banyak anggota masyarakat yang mengkonsumsi dengan berutang, yang tercermin juga di industri pegadaian.
Pada April 2026, penyaluran pembiayaan di industri pegadaian tetap tumbuh tinggi mencapai 56,80 persen (yoy), dibanding Maret 2026 sebesar 60,27 persen (yoy) menjadi Rp157,20 triliun.
Pembiayaan terbesar disalurkan dalam bentuk produk Gadai senilai Rp132,29 triliun atau 84,15 persen dari total pembiayaan. Artinya makin banyak orang menggadaikan barang berharganya untuk mengkomsumsi.