Ekonomi Selalu Tumbuh di Atas 5 Persen, Tapi Kenapa Penjualan Rumah Terus Menurun?
Penjualan rumah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Tercermin dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilansir Bank Indonesia secara berkala per triwulan. Juga dari pertumbuhan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) yang terus melandai.
Para pengamat menyatakan, penurunan penjualan rumah dan penyaluran KPR itu karena lemahnya daya beli. Pemerintah membantah dengan menyebut daya beli msayarakat terjaga. Tercermin dari ekonomi yang terus tumbuh, konsumsi BBM dan listrik yang selalu meningkat, penjualan ritel yang tetap naik, mal-mal yang selalu ramai, penumpang transportasi massal yang terus bertambah, dan seterusnya.
Dimana keplingsutnya? Kedua pernyataan itu sebenarnya tidak ada yang salah. Daya beli memang masih terjaga, tapi hanya untuk kebutuhan dasar harian, tidak untuk kebutuhan dasar seperti rumah.
Pemilikan rumah memerlukan dukungan keuangan jangka panjang. Karena itu hanya orang yang memiliki dukungan keuangan jangka panjang pula yang mungkin mengaksesnya, yaitu pekerja formal berpenghasilan tetap yang kerap disebut orang sebagai kelas menengah. Inilah pasar terbesar sektor perumahan. Pekerja informal terlalu sedikit untuk terhitung dalam pasar perumahan.
Dalam satu dekade terakhir, seperti sudah banyak diberitakan, jumlah kelas menengah ini menurun tajam. Kelas menengah yang tersisa pun, menerima upah yang kenaikannya kalah dibanding inflasi.
Karena itu mereka tidak memikirkan membeli rumah, tapi fokus mengamankan kebutuhan sehari-hari. Kalaupun harus membeli rumah, mereka mencari yang murah dengan KPR berbunga rendah pula. Tapi, kecuali di pinggiran kota yang kian jauuuh dari pusat aktivitas, di mana sekarang orang bisa mendapatkan rumah yang terjangkau dan dengan KPR berbunga rendah pula?
Baca juga: BI: Penjualan Rumah Masih Berat Meski Membaik, Rumah Menengah Paling Payah
Kenapa jumlah kelas menengah itu menurun tajam? Karena kegagalan pemerintah menarik investasi berkualitas. Ekonomi tumbuh, tapi tidak didukung investasi di sektor yang menciptakan banyak lapangan kerja formal.
Tercermin dari porsi industri pengolahan atau manufaktur dalam pertumbuhan ekonomi yang terus menyusut. Kalau satu dekade lalu porsinya masih di atas 24 persen PDB, sekarang kurang dari 20 persen. Manufaktur adalah penyedia lapangan kerja formal seutuhnya.
Laporan terbaru mengenai ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir awal pekan lalu mengkonfirmasi hal itu. Menurut BPS, pada Mei 2026 tingkat pengangguran terbuka (TPT) atau full menganggur mencapai 4,65 persen atau 7,22 juta dari total angkatan kerja sebesar 155,41 juta. Terendah sejak 1994 yang waktu itu mencapai 4,36 persen.
Secara keseluruhan dari 155,41 juta angkatan kerja, yang bekerja mencapai 148,19 juta, bertambah 522.000 orang per Mei 2026. Namun, jumlah pekerja formal (buruh, pegawai, karyawan) pada Mei 2026 hanya naik tipis menjadi 60,31 juta dari 59,93 juta orang pada Februari 2026.
Sebaliknya proporsi pekerja informal juga hanya turun tipis menjadi 59,30 persen atau 87,88 juta dari total penduduk yang bekerja pada Mei 2026, dibanding Februari 2026 yang mencapai 59,42 persen atau 87,74 juta orang.
Pekerja informal adalah mereka yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap atau pekerja keluarga, pekerja bebas, serta pekerja keluarga yang tidak dibayar.
Baca juga: Kinerja Kredit Konsumsi Termasuk KPR Belum Juga Membaik
BPS mencatat, pekerja yang berusaha sendiri dan pekerja bebas nonpertanian bertambah 1,38 juta orang dan 316 ribu orang pada Mei 2026, dibanding pekerja formal yang hanya bertambah 342 ribu pada periode yang sama.
Bahkan, pada Februari 2026, dari dari populasi yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang, atau bertambah 1,9 juta orang dibanding Februari 2025, jumlah pekerja formal hanya naik dari 59,19 juta orang menjadi 59,93 juta orang.
Sebaliknya, jumlah pekerja informal meningkat lebih tinggi, dari 86,58 juta orang menjadi 87,74 juta orang. Karena itu, proporsi pekerja formal turun menjadi 40,58 persen.
Dengan kata lain hampir 60 persen penduduk yang bekerja, berada di sektor informal yang bernilai tambah rendah, yang tercermin dari upah dan daya beli yang rendah, dan tidak memiliki perlindungan kerja.
Proporsi pekerja informal itu nyaris tidak berubah dalam 26 tahun terakhir, yang menunjukkan kegagalan dalam menciptakan peluang kerja formal. Atau dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi belum cukup berkualitas untuk menciptakan lapangan kerja formal lebih besar.
Hal itu tercermin juga dari tiga lapangan usaha yang itu ke itu saja yang mencatat penyerapan tenaga kerja terbanyak. Yaitu (secara berurutan) pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan (manufaktur). Ketiga sektor ini menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja nasional.
Dari 3 sektor itu, seperti sudah disinggung di atas, hanya manufaktur yang menciptakan peluang kerja formal. Sementara sektor pertanian hampir seluruhnya pekerja informal, dan sektor perdagangan besar serta eceran sebagian besar diisi pekerja informal atau pekerja paruh waktu atau pekerja tidak tetap.
Menurut BPS, dibandingkan Februari 2025, pekerja di sektor pertanian meningkat paling tinggi sebesar 882 ribu orang pada Februari 2026. Diikuti perdagangan besar dan eceran yang bertambah 434 ribu orang. Sementara pekerja manufaktur hanya bertambah 432 ribu orang. Jadi, bagaimana penjualan rumah tidak terus menurun?