GBCI Dorong Gerakan Bangunan Hijau Lewat Aksi Ketahanan Pesisir
Membangun lingkungan yang berkelanjutan memerlukan perspektif yang melampaui sekadar bangunan individu. Seiring dengan terus berkembangnya kawasan perkotaan dan meningkatnya kebutuhan pembangunan, ekosistem alami memainkan peran penting dalam menjaga kualitas lingkungan serta memperkuat ketahanan jangka panjang wilayah sekitarnya.
Ekosistem mangrove memiliki arti khusus dalam lingkungan pesisir. Ekosistem ini membantu melindungi garis pantai, menyediakan habitat bagi beragam spesies, serta berkontribusi pada penyerapan dan penyimpanan karbon.
Oleh karena itu, upaya melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove merupakan bagian dari langkah yang lebih luas untuk memperkuat ketahanan pesisir dalam menghadapi tantangan lingkungan dan iklim. Perspektif ini menjadi bagian dari Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026, sebuah inisiatif dari Green Building Council Indonesia (GBCI).
Bulan September kemarin telah ditetapkan sebagai Bulan Bangunan Hijau Indonesia (Indonesia Green Building Month). GBCI menyelenggarakan kegiatan “Building for the Future: Penanaman Mangrove” di Kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, akhir bulan lalu.
Dikutip dari laman resmi GBCI Minggu (4/10), sebanyak 1.000 pohon mangrove ditanam melalui inisiatif ini dengan melibatkan perwakilan dari Dewan Direksi GBCI, GBCI Jawa Timur, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta konsultan bangunan hijau setempat.
Baca juga: Begini Lika-Liku Perumahan Subsidi MGK Serang Bisa Raih Sertifikat Bangunan Hijau
Inisiatif ini menerjemahkan prinsip-prinsip gerakan bangunan hijau ke dalam aksi lingkungan nyata sekaligus memperluas cakupan diskusi dari sekadar bangunan individu menuju lanskap dan ekosistem yang lebih luas, yang merupakan bagian dari lingkungan binaan serta pendukung kehidupan masyarakat.
Bangunan memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan tempatnya berada, mulai dari lokasi tapak dan infrastruktur sekitarnya hingga ekosistem alami yang menopangnya. Oleh karena itu, lingkungan binaan yang berkelanjutan menuntut adanya pertimbangan terhadap keterkaitan tersebut, khususnya hubungan antara pembangunan dan ekosistem di sekitarnya.
Melalui kegiatan “Building for the Future: Penanaman Mangrove,” prinsip ini diwujudkan dalam aksi nyata di kawasan pesisir Wonorejo. Kegiatan penanaman mangrove tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk berinteraksi langsung dengan ekosistem pesisir serta memahami lebih dalam pentingnya perlindungan ekosistem dalam mewujudkan kawasan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Partisipasi mahasiswa ITS juga menjadi bagian penting dari inisiatif ini, karena menciptakan peluang untuk menghubungkan pembelajaran akademis dengan pengalaman langsung di lapangan. Sebagai calon profesional yang akan berkontribusi pada perencanaan, pengembangan, dan pengelolaan lingkungan binaan, para mahasiswa memerlukan pemahaman yang luas mengenai keberlanjutan dan bagaimana hal tersebut diwujudkan dalam praktik nyata.
Keterlibatan langsung dengan ekosistem mangrove memungkinkan mahasiswa untuk melihat bagaimana kondisi lingkungan, pembangunan perkotaan, dan kehidupan masyarakat saling berkaitan.
Penanaman 1.000 pohon mangrove merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menjelang penutupan Bulan Bangunan Hijau Indonesia (Indonesia Green Building Month), yang diperingati sepanjang bulan September melalui Festival Bangunan Hijau Indonesia 2026.
Sepanjang bulan tersebut, IGBF 2026 menyediakan wadah bagi dialog dan kolaborasi lintas wilayah, membahas topik-topik seperti bangunan hijau, lingkungan binaan, material rendah karbon, ketahanan kawasan, serta peran berbagai pemangku kepentingan dalam memajukan pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga: Bahan Bangunan Hijau itu Penting, karena Hidup Kita 80 Persen Dalam Bangunan
Bagi GBCI, gerakan bangunan hijau merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan manusia sekaligus menjaga keberlanjutan sistem alam. Bangunan, kawasan, dan ekosistem adalah elemen-elemen yang saling terkait dan perlu dipertimbangkan secara terpadu dalam membentuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Melalui inisiatif ini, GBCI juga mengajak generasi muda, profesional, akademisi, pemangku kepentingan industri, komunitas, dan masyarakat luas untuk terus berkontribusi dalam gerakan “Building for the Future” dengan mewujudkan keberlanjutan dalam bentuk pengetahuan, kolaborasi, dan aksi berkelanjutan yang terus berlanjut melampaui masa pelaksanaan Bulan Bangunan Hijau Indonesia.