Minggu, Oktober 4, 2026
HomeBerita PropertiMRT Lin Timur-Barat Membentang 84 Km dengan 48 Stasiun

MRT Lin Timur-Barat Membentang 84 Km dengan 48 Stasiun

Jalur MRT Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI) merupakan fase pertama yang pembangunan Lin Utara-Selatan terus dilakukan. Kini PT MRT Jakarta (Perseroda) tengah membangun fase 2A dari Bundaran HI hingga Kota.

Dikutip dari laman resmi MRT Jakarta Minggu (4/10), pengembangan jaringan MRT terus dilakukan untuk memperkuat konektivitas dan integrasi serta interkoneksi transportasi publik di kawasan aglomerasi Jabodetabek termasuk MRT Lin Timur-Barat yang menghubungkan Balaraja, Banten hingga Cikarang yang menjadi proyek berikutnya.

MRT Lin Timur-Barat ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. 203 Tahun 2022 tentang Penetapan Trase Jalur Mass Rapid Transit Koridor Timur Barat Cikarang Balaraja. Keputusan ini ditetapkan pada 25 Oktober 2022 lalu dengan jalur sepanjang sekitar 84 kilometer.

Rute ini juga telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) berdasarkan Permenko Ekonomi No. 16 Tahun 2025. Dalam rute sepanjang 84 kilometer tersebut, MRT Lin Timur-Barat direncanakan akan memiliki 48 stasiun. Pembangunan jalur ini dilakukan secara bertahap, yaitu Fase 1 Tahap 1, Fase 1 Tahap 2, hingga Fase 2 (sisi Banten dan sisi Jawa Barat).

Adapun MRT Lin Timur-Barat Fase 1 Tahap 1 akan membentang dari Tomang, Jakarta Barat, hingga Medan Satria, Kota Bekasi, sepanjang 24,5 kilometer dengan 21 stasiun. Desain stasiun dan jalan rel akan memadukan jalur layang, bawah tanah, dan fasilitas di permukaan tanah (at-grade).

Jalur layang mencakup kawasan Tomang-Grogol serta Cempaka Baru-Medan Satria. Sementara itu, jalur bawah tanah akan membentang dari Roxy hingga Galur. Selain itu, proyek ini juga mencakup pembangunan akses depo dan depo di kawasan Rorotan.

Baca juga: MRT Jakarta Ruas Tomang-Medan Satria Kelar Tahun 2031

Dalam pelaksanaannya, proyek ini dibagi ke dalam paket-paket kontrak yang mencakup pekerjaan konstruksi, sistem perkeretaapian, hingga pengadaan Kereta. Rincian paketnya CP101 untuk Tomang-Grogol dengan dua stasiun layang.

Kemuadian CP102 untuk Grogol-Petojo dengan satu stasiun bawah tanah, CP103 Petojo-Thamrin dengan dua stasiun bawah tanah, CP104 Thamrin-Kwitang dengan tiga stasiun bawah tanah, CP105 Kwitang-Cempaka Baru dengan dua stasiun bawah tanah, CP106 Cempaka Baru-Pekulonan Timur dengan empat stasiun layang, CP107 Pakulonan Timur-Cakung Barat dengan empat stasiun layan, dan CP108 Cakung Barat-Medan Satria dengan tiga stasiun layang.

Kemudian pekerjaan CP109 untuk akses menuju depo dan infrastruktur depo, CP201 pengadaan rolling stock sebanyak 44 rangkaian kereta dengan setiap rangkaian terdiri atas delapan kereta, dan CP202 untuk fasilitas operasi, sistem perkeretaapian, dan pekerjaann jalan rel.

Dengan target angka keterangkutan hingga 284.900 penumpang per hari, MRT Lin Timur-Barat Fase 1 Tahap 1 diharapkan dapat memperluas pilihan mobilitas masyarakat sekaligus memperkuat konektivitas antara Jakarta, Bekasi, dan kawasan sekitarnya.

Pembangunan Fase 1 Tahap 1 ini didukung dengan pembiayaan bersama (co-financing) dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB) melalui skema three sub-level agreement.

Baca juga: Metland Teken MoU dengan MRT Jakarta Terkait Pengembangan Lintas Timur-Barat

Skema ini melibatkan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan, Kementerian Keuangan, dan Bappenas sebagai executing agency, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai implementing agency, dan PT MRT Jakarta sebagai sub-implementing agency.

Saat ini untuk Segmen Thamrin-Kwitang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah melakukan proses persiapan pembebasan lahan dan koordinasi dengan para pemilik lahan terkait yang diperlukan untuk berbagai kebutuhan pembangunan, termasuk fasilitas CTVT (cooling tower ventilation tower) dan entre stasiun.

Proses tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam mempersiapkan pembangunan infrastruktur MRT Lin Timur-Barat. Ke depan, kehadiran MRT Lin Timur-Barat akan menjadi bagian dari pengembangan jaringan transportasi publik yang semakin terintegrasi, sekaligus mendukung mobilitas masyarakat lintas wilayah secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Ekonomi

Airlangga: Ekonomi Kita Tetap Tangguh. Inflasi Terjaga, Manufaktur Ekspansi, Surplus Neraca Dagang Berlanjut

Tiga indikator makroekonomi yang dirilis, Kamis (1/10/2026), menunjukkan, perekonomian...

Supaya Ekonomi 2027 Tumbuh Tinggi, Pemerintah Siapkan Sejumlah Program Penguatan Daya Beli

Perekonomian Indonesia terus diperkuat melalui berbagai kebijakan yang diarahkan...

Inflasi Dekati Kisaran Sasaran, BI Bilang Masih Terkendali

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi Indeks Harga Konsumen...

September Kepercayaan Industri Melandai, Tapi Masih di Fase Ekspansi

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada September 2026...

Berita Terkini