Selasa, Agustus 18, 2026
HomeBerita PropertiTak Ada Pasokan Baru, Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih Secara Selektif

Tak Ada Pasokan Baru, Pasar Perkantoran Jakarta Berangsur Pulih Secara Selektif

Collires Indonesia melaporkan, meskipun bertahap, pasar perkantoran Jakarta terus menunjukkan pemulihan. Terutama ditopang oleh aktivitas relokasi perusahaan, dan peningkatan kualitas ruang kantor yang ditempati.

Namun, pemulihan pasar masih selektif, dan lebih banyak didorong oleh penyesuaian kebutuhan ruang dibandingkan ekspansi bisnis yang masif.

“Makin selektifnya penyewa dalam mengambil keputusan, membuat pemulihan pasar perkantoran Jakarta lebih didorong oleh kebutuhan terhadap kualitas perkantoran, bukan semata-mata harga sewa. Karena itu, yang berpotensi pulih lebih cepat, adalah gedung yang menawarkan struktur sewa yang fleksibel, ruang siap pakai, kemudahan akses transportasi publik, serta kredensial keberlanjutan (ESG),” kata Ferry Salanto, Kepala Riset Colliers Indonesia, melalui keterangan, Selasa (18/8/2026).

Menurut Ferry secara umum, pasar perkantoran Jakarta masih menghadapi tantangan dengan tingkat kekosongan yang besar. Sekitar 3 juta meter persegi ruang perkantoran belum terserap, hampir 60 persen dari jumlah tersebut dikontribusi oleh perkantoran di kawasan pusat bisnis (CBD).

Ketersediaan ruang dalam jumlah besar tersebut, menyebabkan pasar masih berpihak pada penyewa. Mendorong pemilik gedung menawarkan struktur sewa yang lebih fleksibel, periode bebas sewa, dukungan fit-out, serta berbagai insentif komersial lainnya.

Baca juga: Q1 Ruang Kantor di CBD Jakarta Terserap 19.500 M2, Didominasi Perkantoran Grade A

Meskipun tingkat kekosongan masih tinggi, Colliers mencatat rerata okupansi perkantoran di CBD mengalami pertumbuhan, dan tercatat sekitar 76 persen per triwulan dua (Q2) 2026.

Gedung premium tetap menunjukkan kinerja yang lebih unggul, dengan okupansi sekitar 83 persen, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap gedung perkantoran berkualitas tinggi. Sementara secara perlahan rerata tingkat hunian mulai mendekati 70 persen untuk perkantortan di luar CBD.

Sisi pasok juga mendukung perbaikan kondisi pasar perkantoran di Jakarta secara bertahap. Dengan tidak adanya gedung baru yang selesai dibangun, total pasokan perkantoran di kawasan CBD tetap berada di kisaran 7,4 juta meter persegi pada triwulan dua 2026.

Terbatasnya pasokan baru di CBD dalam beberapa tahun ke depan, diharapkan memberikan kesempatan yang lebih besar bagi pasar untuk menyerap ruang perkantoran yang kosong.

Collires memperkirakan, permintaan ruang perkantoran di Jakarta akan terus meningkat hingga akhir 2026. Terutama didukung permintaan dari sektor logistik, energi, fintech, baik perusahaan lokal dan asing.

“Namun, dengan kondisi pasar yang masih menguntungkan penyewa, pemulihan ke depan perlu didukung pemilik perkantoran dengan fleksibilitas, aksesibilitas, keberlanjutan, dan efisiensi total biaya okupansi, guna menarik minat lebih banyak penyewa,” tutup Ferry.

Baca juga: Opini: Aksesibilitas Berdampak Langsung pada Okupansi Perkantoran

Poin-poin penting pasar perkantoran Jakarta Q2 2026 menurut Collires:
o. Pasar perkantoran berangsur pulih, didorong oleh aktivitas relokasi yang melibatkan penyesuaian luas ruang kantor yang digunakan.
o. Dengan total ruang kosong mendekati 3 juta meter persegi, pemilik gedung terus menawarkan strategi sewa yang lebih fleksibel.
o. Tingkat okupansi kantor di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta tercatat sekitar 76 persen, dengan aset kategori premium mencatatkan angka ~83 persen, mencerminkan tingginya permintaan terhadap gedung berkualitas tinggi.
o. Pasokan ruang kantor terbatas, khususnya di CBD Jakarta karena tidak ada penyelesaian proyek baru selama semester pertama 2026, sehingga fokus saat ini tertuju pada penyerapan ruang kosong dan stabilisasi tingkat okupansi.
o. Pemilik gedung mulai lebih percaya diri dalam mempertahankan harga sewa, sembari menawarkan insentif yang kompetitif, yang mencerminkan posisi tawar penyewa masih kuat di tengah prospek pertumbuhan yang moderat.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini