Minggu, Juli 26, 2026
HomeBerita PropertiKAI Group Operasikan 5 Teknologi Perkeretaapian, dari Lokomotif Diesel hingga Kereta Cepat

KAI Group Operasikan 5 Teknologi Perkeretaapian, dari Lokomotif Diesel hingga Kereta Cepat

PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama ekosistem KAI Group, saat ini menggunakan 5 jenis teknologi perkeretaapian. Mulai dari lokomotif diesel, kereta rel listrik atau KRL, kereta rel diesel dan listrik atau KRDE/I, LRT dengan sistem operasi otomatis, hingga kereta cepat.

Keberagaman teknologi tersebut mendukung KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan sepanjang semester I 2026, meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebanyak 240.805.920 pelanggan.

Pada periode yang sama, KAI juga mengangkut 32.498.043 ton barang. Terdiri atas 26.534.095 ton batu bara, dan 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara.

Per Juni 2026, KAI memiliki 551 lokomotif, 1.064 KRL, 2.238 kereta penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 KRDE/I. KAI juga mengoperasikan LRT Jabodebek, dan melalui PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mengoperasikan kereta cepat Whoosh.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, setiap teknologi memiliki karakter operasional, sumber tenaga, sistem pengendalian, serta pola perawatan yang berbeda.

“Perbedaan teknologi tersebut dikelola melalui standar keselamatan, keandalan, kompetensi pekerja, dan disiplin operasi yang konsisten. Tujuannya sama, memastikan setiap perjalanan berlangsung aman, tepat waktu, andal, dan nyaman bagi pelanggan,” kata Anne melalui keterangan dikutip Sabtu (25/7/2026).

Teknologi lokomotif diesel menjadi penggerak utama layanan kereta api antarkota, lokal, wisata, dan barang. Pada semester I 2026, layanan KA Jarak Jauh dan Lokal KAI melayani 29.858.267 pelanggan, meningkat 8,72 persen dibandingkan semester I 2025 sebanyak 27.463.555 pelanggan.

 

Kereta cepat Whoosh. (Dok. KCIC)

Baca juga: Mengenal 5+5 Kereta Api dengan Relasi Terpanjang di Indonesia

Lokomotif diesel juga mendukung distribusi berbagai komoditas melalui layanan kereta api barang di Jawa dan Sumatra. Sepanjang semester I 2026, KAI mengangkut 32,50 juta ton barang untuk mendukung rantai pasok sektor energi, industri, perkebunan, peti kemas, bahan bakar minyak, semen, dan komoditas lainnya.

Pada segmen wisata, KAI Wisata melayani 164.743 pelanggan, melesat 64,45 persen dibandingkan 100.176 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung beragam pilihan perjalanan. Mulai dari kereta wisata, kereta panoramic, kereta istimewa, hingga layanan perjalanan berbasis kereta api lainnya.

Di perkotaan, teknologi KRL dan sarana komuterline mendukung KAI Commuter dalam melayani 204.151.200 pelanggan, meningkat 6,58 persen dibandingkan semester I 2025 sebanyak 191.540.583 pelanggan. Layanan tersebut menjadi penyumbang volume pelanggan terbesar KAI Group dengan cakupan Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta–Solo, Surabaya, Merak–Rangkasbitung, serta sejumlah wilayah lainnya.

Sementara teknologi KRDE/I mendukung layanan regional dan konektivitas bandara. KAI Bandara melayani 3.482.897 pelanggan, meningkat 0,99 persen dibandingkan 3.448.622 pelanggan pada semester I 2025. KA Makassar–Parepare melayani 172.011 pelanggan, meningkat 15,42 persen dibandingkan 149.035 pelanggan pada semester I 2025.

Baca juga: Triwulan Satu Penumpang Kereta Wisata, KA Makassar, dan LRT Jabodebek Tumbuh Paling Tinggi

Pada teknologi operasi otomatis, LRT Jabodebek menggunakan sistem persinyalan berbasis komunikasi dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation 3 atau GoA3. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan kecepatan, jarak antarrangkaian, pemberhentian, serta perjalanan dilakukan secara otomatis dan dipantau melalui pusat kendali operasi.

Sepanjang semester I 2026, LRT Jabodebek melayani 16.018.911 pelanggan, meningkat 22,84 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebanyak 13.040.403 pelanggan. Adapun LRT Sumsel melayani 2.206.496 pelanggan pada periode yang sama.

Pada layanan berkecepatan tinggi, Whoosh menggunakan rangkaian kereta yang memiliki kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam. Sepanjang semester I 2026, Whoosh melayani 2.938.834 pelanggan, meningkat 0,08 persen dibandingkan 2.936.578 pelanggan pada semester I 2025.

Ilustrasi kereta api diesel (Dok. KAI)

Anne mengatakan, capaian tersebut menunjukkan setiap teknologi memiliki peran sesuai karakter mobilitas masyarakat yang dilayaninya.

“Pelanggan commuter memerlukan kapasitas besar dan frekuensi tinggi, pelanggan antarkota membutuhkan kenyamanan dan kepastian waktu, sedangkan layanan regional, bandara, wisata, dan kereta cepat memiliki kebutuhan operasional yang berbeda. KAI Group menyiapkan teknologi dan pola pelayanan sesuai karakter masing-masing segmen pelanggan,” jelas Anne.

Keandalan teknologi tersebut didukung fasilitas perawatan sarana yang tersebar di Jawa dan Sumatra. KAI memiliki enam Balai Yasa sarana. Yaitu, Balai Yasa Manggarai, Tegal, Yogyakarta, dan Gubeng di Pulau Jawa, serta Balai Yasa Pulubrayan dan Lahat di Pulau Sumatra.

Baca juga: Pengembang, Pelaku Usaha, dan Peneliti Cerita Dampak Whoosh bagi Ekonomi, Bisnis, dan Lingkungan

KAI juga memperkuat kompetensi pekerja yang mengoperasikan, memeriksa, merawat, dan mengendalikan perjalanan kereta api. Jumlah pekerja tersertifikasi meningkat dari 14.150 pekerja pada 2022 menjadi 15.983 pekerja pada 2023, kemudian 16.186 pekerja pada 2024, dan 19.167 pekerja pada 2025.

KAI juga menggunakan aplikasi Safety Railway Information atau SRI, sebagai kanal pelaporan potensi bahaya dan kondisi tidak aman. Laporan pekerja melalui aplikasi tersebut digunakan untuk mempercepat mitigasi, dan mencegah risiko yang dapat mengganggu keselamatan perjalanan.

“Dari lokomotif diesel hingga kereta cepat, teknologinya berbeda tapi prinsip operasinya tetap sama. Keselamatan dijaga melalui pekerja yang kompeten, fasilitas perawatan yang memadai, disiplin terhadap prosedur, serta pengawasan yang berjalan selama 24 jam,” tutup Anne.

Berita Terkait

Ekonomi

AHY Dorong Pembangunan Bali: Satu Pulau-Satu Tata Kelola

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus...

Kadin: Multiplier Effect Industri Kesehatan, Rp1 Jadi Rp3

Sektor kesehatan dengan industri farmasi nasional bisa memberikan dampak...

Tantangan Lingkungan Bisa Menciptakan Nilai Bisnis

Jangan lagi melihat perubahan perubahan iklim sebagai tantangan lingkungan...

Semester I Keseimbangan Primer Surplus Rp85,1 Triliun

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kinerja Anggaran...

Berita Terkini