Juni Kredit Tetap Tumbuh Lebih Tinggi Kendati Bunga Bank Meningkat
Kenaikan bunga acuan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sejak akhir Mei hingga Juni 2026, akhirnya memang mendorong kenaikan bunga bank baik bunga simpanan maupun kredit.
Bank Indonesia melaporkan pekan lalu, pada Juni 2026 rata-rata tertimbang bunga kredit tercatat sebesar 8,79 persen, meningkat dibandingkan Mei 2026 sebesar 8,70 persen.
Begitu pula bunga simpanan berjangka (deposito), mengalami kenaikan pada tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Masing-masing sebesar 4,77 persen, 5,03 persen, 4,95 persen, dan 5,44 persen, dibanding Mei 2026 sebesar 4,28 persen, 4,73 persen, 4,65 persen, dan 4,50 persen.
Bagusnya kendati bunga bank naik, penyaluran kredit Juni 2026 srcara tahunan (yoy) tetap tumbuh lebih tinggi. Mencapai Rp8.916,7 triliun atau tumbuh 12,1 persen, dibandingkan Mei 2026 sebesar 10,8 persen dan April 9,4 persen.
Kredit dalam laporan BI ini, hanya dalam bentuk pinjaman (loans), tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker’s acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit di sini juga tidak termasuk pinjaman yang diberikan kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
Peningkatan kredit itu didorong kenaikan penyaluran kepada debitur korporasi dan perorangan, masing-masing sebesar 19,3 persen dan 3,5 persen, dibanding Mei 2026 sebesar 17,2 persen dan 3,4 persen.
Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Modal Kerja (KMK) pada Juni 2026 tumbuh 9,6 persen, lebih tinggi dibanding Mei 2026 sebesar 7,9 persen, yang menunjukkan lebih bergairahnya dunia usaha.
Baca juga: Ekspansi Belanja Pemerintah Mereda, Uang Beredar Juni Menurun, Penyaluran Kredit Meningkat
Menurut BI, peningkatan KMK pada Juni 2026, terutama didorong oleh penyaluran kredit ke sektor industri pengolahan (manufaktur) dan konstruksi.
Juga ameningkat pertumbuhan Kredit Investasi (KI), dari 20,5 persen pada Mei 2026 menjadi 22,5 persen pada Juni 2026, yang menunjukkan dunia usaha bersiap melakukan ekspansi. Peningkatan KI itu terutama juga ditopang oleh penyaluran kredit ke sektor konstruksi dan industri pengolahan.
Juga terus meningkat kendati tipis, penyaluran kredit kepada UMKM, setelah selama 4 bulan pertama tahun ini masih terus terkontraksi (minus), yang oleh para ekonom disebut sebagai indikator lain melemahnya daya beli.
Pada Juni 2026, kredit UMKM tumbuh 1,0 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 sebesar 0,6 persen (yoy). Pertumbuhan itu didorong oleh kredit skala usaha mikro dan kecil yang tumbuh masing-masing 1,5 persen dan 0,1 persen dibanding 0,6 persen dan -0,3 persen pada Mei 2026. Diikuti kredit skala usaha menengah yang tumbuh 1,6 persen atau sedikit menurun dibanding Mei 2026 sebesar 1,8 persen.
Baca juga: Bank BNI Cermati Dampak Kenaikan BI Rate Terhadap Permintaan Kredit
Hanya saja, sama dengan kredit kepada non UMKM, pertumbuhan kredit UMKM pada Juni 2026 juga terutama ditopang ekspansi kredit investasi sebesar 13,5 persen, naik dari Mei 2026 sebesar 12,5 persen.
Sementara kredit modal kerja (KMK) terkontraksi (minus) 4,3 persen, melanjutkan kontraksi bukan sebelumnya sebesar -4,5 persen, yang mengindikasikan secara umum UMKM eksisting belum cukup bergairah.