Bank BNI Cermati Dampak Kenaikan BI Rate Terhadap Permintaan Kredit
Bank BNI melihat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate sebesar 25 basisi poin menjadi 5,75 persen sebagai langkah yang mencerminkan komitmen otoriitas monoter dalam menjaga stabilitas makroekonomi di tengah dinamika ekonomi global saat ini.
Kebijakan BI tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan tingkat inflasi dalam kisaran yang terkendali. Karena itu menurut Corporate Secretary Bankk BNI Okki Rushartomo, keputusan BI merupakan bagian dari bauran kebijakan yang perlu ditempuh untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
“Karena itu Bank BNI mendukung kebijakan BI sebagai langkah antisipatif dalam merespons meningkatnya ketidakpastian global. Kebijakan yang terukur dan kredibel menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar serta mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis (25/6).
Saat ini kondisi fundamental Bank BNI tetap kuat sehingga perusahaan optimistis dapat terus menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan. Bank BNI juga memiliki permodalan, likuiditas, dan kualitas aset yang memadai untuk mendukung pertumbuhan bisnis di berbagai segmen.
Meski demikian, Bank BNI tetap mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit. Untuk itu perusahaan akan terus mengelola portofolio bisnis secara selektif dan adaptif dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian sekaligus memastikan dukungan pembiayaan tetap tersedia bagi sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga: Populasi Lebih 37 Juta, Bank BNI Dorong Penyaluran KPR FLPP dan KUR Perumahan di Jawa Tengah
Di tengah dinamika suku bunga itu, Bank BNI memperkuat transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi layanan dan proses bisnis. Berbagai inovasi digital terus dikembangkan untuk menghadirkan pengalaman perbankan yang lebih mudah, cepat, dan aman bagi nasabah.
Sejalan dengan itu Bank BNI senantiasa memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan manajemen risiko yang prudent. Perusahaan juga terus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko melalui pemantauan yang berkelanjutan terhadap portofolio kredit, likuiditas, serta perkembangan kondisi ekonomi dan pasar.
“Dengan fokus pada transformasi, penguatan tata kelola, dan pengelolaan risiko yang disiplin, kami terus berupaya menjaga kinerja yang sehat serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi nasabah, pemegang saham, dan seluruh pemangku kepentingan,” imbuh Okki.
Baca juga: Bank BNI Dorong UMKM Hingga Pekerja Migran Naik Kelas
Ke depan, Bank BNI akan terus mencermati perkembangan makroekonomi dan arah kebijakan moneter untuk memastikan strategi bisnis yang adaptif. Perusahaan berkomitmen menjaga pertumbuhan yang berkualitas, memperkuat ketahanan bisnis, serta terus memperluas kontribusi dalam mendukung sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.