Membaca Tren Sektor Properti di Tengah Dinamika Perekonomian-dan Politik
Di Tengah dinamika ekonomi global dan geopolitik, sektor properti masih menunjukkan resilien bahkan tren pemulihan. Situasi makroekonomi telah direspon oleh Bank Indonesia (BI) dengan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate hingga 5,75 saat ini.
Menurut Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy Leads Property Services Indonesia, di seluruh sektor properti mulai perkantoran, logistik-industri, hingga residensial masih menunjukkan situasi yang dinamis dan perlu disikapi dengan strategi maupun efisiensi operasional.
“Hingga akhir tahun lalu rata-rata sewa perkantoran bertahan di angka Rp300.750/m2/bulan dengan persaingan yang masih ketat. Sektor logistik dan industri menunjukkan ketahanan yang paling tinggi dibandingkan sektor lain termasuk residensial,” ujarnya di acara diskusi bertajuk Tren Kantor Masa Depan dan Menyikapi Pelemahan Rupiah: Peluang dan Tantangan di Jakarta pekan ini.
Angka pasokan perkantoran saat ini telah menyentuh 11,6 juta m2 dengan tingkat keterisian (okupansi) 74,5 persen pada kuartal kedua 2026. Terbatasnya pasokan baru justru akan mendorong peningkatan okupansi perkantoran secara bertahap untuk tahun-tahun mendatang.
Baca juga: Opini: Aksesibilitas Berdampak Langsung pada Okupansi Perkantoran
Penyerapan lahan industri sepanjang periode ini didominasi oleh area Bekasi dan Karawang dengan harga jual lahan yang stabil Rp3,2 juta/m2. Sebagai perbandingan, lahan yang kian menipis di koridor timur mulai memicu pengembangan Kawasan industri bar uke arah Purwakarta.
Untuk sektor residensial situasinya masih seimbang antara pasikan dan permintaan khususnya untuk rumah tapak (landed house) dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp2 miliar. Segmen harga ini mendominasi wilayah greater Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, maupun Depok.
Di tengah situasi saat ini memunculkan kondisi tantangan dan peluang. Misalnya, berkurangnya aplikasi KPR karena pembeli khawatir akan kemungkinan PHK dan bunga yang makin tinggi, memunculkan peluang skema sewa di lokasi strategis menjadi opsi yang lebih menarik bagi calon pembeli dan pengembang.
Baca juga: REI: Bisnis Properti Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Tantangan pengembangan berskala township yang semakin terbatas memunculkan peluang ke pengembangan skala townhouse dan klaster. Tantangan terkait biaya transportasi harian yang meningkat sehingga hunian kian sulit dijangkau atau yang jauh dari kawasan TOD menjadi kurang diminati. Situasi ini memunculkan peluang bagi pengembang untuk membidik lahan pengembangan yang dekat dengan Kawasan TOD.
“Secara umum bisnis properti khususnya di Jakarta dan sekitarnya tetap mengindikasikan minat pasar domestik terkait kepemilikan asset property baik ritel, apartemen, maupun rumah tapak yang secara keseluruhan masih terjaga fundamentalnya,” imbuh Martin.