Opini: Nasib Konsumen Saat Listrik, BBM, Dolar Naik
Oleh: Sara Adiza Nursyahbani, Humas dan Pengembangan Bisnis Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
Konsumen Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai tekanan yang datang secara bersamaan. Harga BBM nonsubsidi Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026, atau meningkat sekitar 32 persen. Kenaikan ini disebut dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian (BBC News Indonesia, 2026). Pada saat yang sama, penguatan dolar Amerika Serikat juga meningkatkan tekanan terhadap biaya impor energi dan berbagai kebutuhan lainnya.
Di sektor ketenagalistrikan, PLN menyatakan tidak ada kenaikan tarif listrik untuk periode April-Juni 2026. Namun di tengah pernyataan masyarakat tersebut, keluhan mengenai tagihan listrik justru terus bermunculan. PLN menjelaskan bahwa peningkatan tagihan dapat dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi listrik rumah tangga, cuaca yang lebih panas, serta meningkatnya penggunaan peralatan elektronik (CNBC Indonesia, 2026).
Fenomena ini menunjukkan adanya perbedaan antara asumsi faktor penyebab kenaikan tagihan dan pengalaman yang dirasakan sebagian konsumen. Untuk merespons kesejahteraan masyarakat, YLKI membuka Posko Pengaduan Kenaikan Tagihan Listrik dan Air. Hingga tanggal 11 Juni 2026, YLKI telah menerima sebanyak 139 pengaduan yang terdiri atas pengaduan terkait tagihan listrik dan udara.
Menariknya, sebagian besar pengaduan berasal dari wilayah perkotaan yang menunjukkan bahwa tekanan biaya utilitas tidak hanya dirasakan kelompok berpendapatan rendah tetapi juga mulai menetap di rumah tangga perkotaan yang selama ini relatif lebih bergantung pada layanan energi dan perpipaan udara.
Banyak konsumen yang mengaku mengalami kenaikan tagihan yang signifikan tanpa memahami faktor yang jelas alasannya. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi konsumen tidak semata-mata soal besaran tarif tetapi juga mencakup transparansi informasi dan pemahaman terhadap komponen pembuat tagihan.
Ketika masyarakat merasa tagihan meningkat sementara tidak ada pengumuman kenaikan tarif, maka ketidakpercayaan ruang dan kebingungan masyarakat menjadi semakin besar. Meski belum dapat disimpulkan bahwa transmisi tagihan tersebut disebabkan oleh kenaikan tarif listrik, banyaknya pengaduan yang masuk menunjukkan perlunya transparansi yang lebih baik dari penyedia layanan.
Konsumen berhak memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai pola konsumsi, pencatatan meter, metode perhitungan tagihan, hingga faktor-faktor lain yang mempengaruhi besaran biaya yang harus dibayar setiap bulan.
Jika dilihat secara terpisah, kenaikan harga BBM, peningkatan tagihan listrik yang dirasakan sebagian masyarakat, dan peningkatan dolar mungkin tampak sebagai isu yang berbeda. Namun bagi konsumen, yang ketiga memiliki dampak yang sama, yaitu meningkatnya biaya hidup dan meningkatnya kerentanan ekonomi rumah tangga.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kenaikan harga energi memiliki dampak yang luas terhadap kesejahteraan masyarakat. Kpodar dan Liu (2022) menemukan bahwa kenaikan harga bahan bakar tidak hanya mempengaruhi biaya transportasi tetapi juga mendorong inflasi yang lebih luas dan berlangsung lebih lama di negara berkembang dibandingkan negara maju.
Kenaikan harga bensin juga berkontribusi terhadap penurunan daya beli rumah tangga di berbagai kelompok pendapatan. Dampaknya tidak berhenti pada biaya transportasi, namun juga berdampak pada harga pangan, konsumsi barang, dan berbagai kebutuhan sehari-hari lainnya.
Penelitian Renner, Lay, dan Schleicher (2018) yang secara khusus meneliti Indonesia menunjukkan bahwa kenaikan harga energi dapat meningkatkan kesejahteraan rumah tangga dan meningkatkan risiko kemiskinan energi. Mereka menemukan bahwa kenaikan harga listrik sebesar 20 persen berpotensi meningkatkan jumlah penduduk miskin sekitar 0,23 persen. Dalam jumlah absolut, kondisi tersebut setara dengan sekitar 500 ribu orang tambahan yang masuk kategori miskin, sebagian besar berada di wilayah pedesaan.
Sementara itu, pelajari Zhu dkk. (2024) menemukan bahwa krisis harga energi tidak hanya meningkatkan pengeluaran rumah tangga secara langsung tetapi juga memperlebar ketimpangan pendapatan riil. Menariknya, biaya energi yang tersembunyi di dalam harga barang dan jasa ternyata memberikan dampak yang lebih besar terhadap kesejahteraan rumah tangga dibandingkan biaya energi yang mengalir secara langsung.
Dengan kata lain, konsumen sering kali tidak menyadari bahwa kenaikan harga energi pada akhirnya juga tercermin pada harga makanan, transportasi, kesehatan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi kelompok kelas menengah rentan (rentan kelas menengah).
Menurut laporan BBC News Indonesia (2026), Direktur Riset Bright Institute Muhammad Andri Perdana, menilai bahwa kelompok kelas menengah rentan merupakan kelompok yang paling terbebani oleh kenaikan harga BBM nonsubsidi karena tidak memenuhi syarat untuk memperoleh subsidi namun juga tidak memiliki kapasitas ekonomi yang cukup besar untuk menyerap kenaikan biaya hidup secara berkelanjutan. Akibatnya, setiap kenaikan harga energi berpotensi menggerus kemampuan mereka untuk menabung, berinvestasi, bahkan memenuhi kebutuhan dasar lainnya.
Dalam situasi seperti ini, konsumen tidak cukup hanya menjadi penerima dampak. Konsumen perlu memiliki kemampuan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi biaya energi, mengenali hak-haknya, serta mengetahui pilihan-pilihan yang tersedia untuk meningkatkan ketahanan energi rumah tangga.
Pentingnya energi literasi. Pemahaman mengenai konsumsi listrik, efisiensi energi, simulasi penghematan, regulasi energi, hingga pemanfaatan energi terbarukan dapat membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih baik di tengah-tengah ekonomi dan energi.
Selain efisiensi energi, masyarakat juga perlu mulai memahami konsep Sumber Daya Energi Terdistribusi (DER) atau sumber daya energi terdistribusi. DER mencakup berbagai teknologi energi yang dekat dengan konsumen, seperti panel surya atap, sistem penyimpanan energi (baterai), kendaraan listrik yang terintegrasi dengan sistem kelistrikan, hingga pembangkitan energi skala kecil berbasis komunitas. Kehadiran DER memberikan peluang bagi konsumen untuk tidak hanya pengguna menjadi energi, tetapi juga berperan lebih aktif dalam memproduksi, mengelola, dan mengoptimalkan kebutuhan energinya sendiri.
Dalam jangka panjang, pengembangan DER dapat meningkatkan ketahanan energi rumah tangga karena ketergantungan terhadap melemahkan harga energi konvensional menjadi lebih rendah. Ketika harga BBM naik, nilai tukar bergejolak, atau biaya energi mengalami tekanan, rumah tangga yang memiliki akses terhadap teknologi energi terdistribusi dan menerapkan prinsip efisiensi energi akan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan rumah tangga yang sepenuhnya bergantung pada pasokan energi konvensional.
Melalui platform Energi baru YLKI, masyarakat dapat mengakses berbagai informasi, simulasi, dan materi pembelajaran yang membantu memahami hubungan antara kebijakan energi, biaya hidup, dan dampaknya terhadap konsumen. Platform ini juga menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai efisiensi energi, energi terbarukan, serta peluang pemanfaatan teknologi terdistribusi yang semakin berkembang.
Pada akhirnya kenaikan harga BBM, penguatan dolar, dan berbagai keluhan mengenai tagihan listrik menunjukkan bahwa persoalan energi bukan sekadar persoalan teknis atau ekonomi makro, melainkan persoalan yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Energi mempengaruhi biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, biaya produksi, hingga kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasarnya.
Oleh karena itu, konsumen perlu semakin sadar bahwa setiap keputusan terkait penggunaan energi akan berdampak pada kondisi keuangan rumah tangga. Kesadaran untuk memadukan konsumsi energi, memahami tagihan, mengadukan ketidaksesuaian layanan, serta memanfaatkan teknologi dan informasi yang tersedia merupakan bagian penting dari perlindungan konsumen.
Ketika listrik, BBM, dan dolar sama-sama bergerak naik, yang dibutuhkan konsumen bukan hanya kemampuan untuk bertahan tetapi juga kemampuan untuk memahami perubahan yang terjadi, mengelola risiko dengan lebih baik, dan mengambil keputusan yang tepat. Semakin tinggi literasi energi masyarakat, semakin kuat pula posisi konsumen dalam melindungi hak-haknya, mengelola pengeluaran rumah tangga, dan beradaptasi terhadap berbagai perubahan kebijakan maupun gejolak harga energi di masa depan.