Jumat, Juni 19, 2026
HomeNasionalMenteri LH: Program Penanaman 2 Miliar Pohon, Bentuk Tobat Ekologis

Menteri LH: Program Penanaman 2 Miliar Pohon, Bentuk Tobat Ekologis

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh. Jumhur Hidayat mengatakan, krisis lingkungan menuntut perubahan cara pandang dan perilaku manusia melalui tobat ekologis sebagai fondasi pemulihan lingkungan yang menjadi dasar gerakan penanaman dua miliar pohon di Indonesia dengan penguatan bambu sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions).

Berbagai tantangan lingkungan seperti perubahan iklim, degradasi lahan, pencemaran, hingga hilangnya keanekaragaman hayati tidak dapat lagi dihadapi hanya dengan pendekatan teknis, melainkan membutuhkan perubahan kesadaran kolektif yang lebih mendasar dalam hubungan manusia dengan alam.

“Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata,” ujar Jumhur dalam acara “Sarasehan Gerakan Menanam Bambu-Selamatkan Bumi” di Bogor, sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, dikutip dari siaran pers Senin (15/6).

Program penanaman dua miliar pohon merupakan agenda besar nasional dalam pemulihan ekosistem, rehabilitasi lahan kritis, dan penguatan ketahanan lingkungan. Dalam konteks tersebut, bambu menjadi salah satu vegetasi penting karena memiliki fungsi ekologis sebagai penjaga tata air, pengendali erosi, penyerap karbon, serta memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Penanaman dua miliar pohon ini adalah bagian dari gerakan tobat ekologis. Salah satu implementasinya adalah pengembangan bambu sebagai solusi berbasis alam yang mampu menjaga tata air, mengurangi erosi, dan menyerap karbon,” imbuhnya.

Baca juga: Menjaga Lingkungan Hidup dari Hal Paling Sederhana: Pilah Sampah

KLH/BPLH saat ini terus memperkuat upaya rehabilitasi lingkungan melalui peningkatan tutupan lahan, pemulihan daerah aliran sungai (DAS), serta penguatan ekonomi hijau berbasis masyarakat. Gerakan Menanam Bambu Nusantara diharapkan menjadi salah satu penggerak utama dalam mendukung agenda tersebut secara berkelanjutan.

Ketua Yayasan Pengrajin Bambu Indonesia Abah Jatnika mengatakan, bambu bukan hanya tanaman konservasi tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa yang telah melahirkan berbagai karya bernilai tinggi, mulai dari arsitektur hingga seni musik angklung.

“Makanya saya sangat mengapresiasi dan menganggap penting gerakan menanam bambu ini untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pelestarian lingkungan secara berkelanjutan,” katanya.

Baca juga: Seskab Teddy Paparkan Banyak Fungsi Giant Sea Wall

Keberhasilan gerakan lingkungan seperti ini akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam tetapi dari tumbuhnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam merawat lingkungan secara berkelanjutan.

“Yang terpenting bukan hanya menanam tetapi memastikan gerakan ini hidup di tengah masyarakat. Bambu harus menjadi simbol kolaborasi dan harapan bahwa setiap orang bisa berkontribusi menjaga bumi,” pungkas Jumhur.

Berita Terkait

Ekonomi

Presiden Perintah Menteri Rosan: Sampaikan Kepada Publik Senin Besok Kondisi Investasi RI Sesuai Fakta

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM...

Mei Masyarakat Banyak Belanja dan Kuras Tabungan, Cicilan Utang Meningkat

Pada Mei 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai...

Merosot Optimisme Kaum Menengah Atas Terhadap Prospek Penghasilannya

Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang dilansir pekan ini...

Berita Terkini