Menjaga Lingkungan Hidup dari Hal Paling Sederhana: Pilah Sampah
Bumi yang kita tinggali terus mengalami tekanan yang berat akibat berbagai aktivitas manusia. Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang kita peringati menjadi pengingat kalau bumi tengah mengadapi triple planetary crisis: krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) kembali menegaskan, menjaga lingkungan tidak lagi menjadi pilihan melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan tidak ada generasi yang tertinggal dalam mewarisi masa depan yang layak.
Menurut Menteri LH/BPLH Moh. Jumhur Hidayat, Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada tahun ini harus menjadi momentum untuk beralih dari kesadaran menuju tindakan nyata yang harus disadari oleh semua pihak.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam,” ujarnya saat peringatan puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur Sabtu (6/6).
Baca juga: Hari Lingkungan Hidup Internasional, Bank BNI Kampanyekan #NowForClimate
Menurut Jumhur, kondisi lingkungan saat ini menuntut adanya pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui komitmen dan kepedulian tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang nyata dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim, mulai dari lingkungan terdekat hingga skala yang lebih luas.
Pesan tersebut sejalan dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, yang menegaskan bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.
“Urusan lingkungan hidup adalah urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Presiden memiliki program yang sangat konkret terkait swasembada pangan, swasembada air, dan swasembada energi. Semua itu tidak akan dapat dicapai apabila lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik. Jadi benar, kalau ini menjadi persoalan bersama dan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Baca juga: Ratu Maxima Puji Inovasi BTN Bayar Cicilan KPR Pakai Sampah
Aksi iklim juga tidak selalu dimulai dari langkah besar, justru perubahan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu aksi yang paling sederhana namun memiliki dampak besar adalah memilah sampah dari sumber. Langkah ini menjadi penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Indonesia menghasilkan sekitar 51 juta ton sampah setiap tahun. Sebagian besar masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dalam kondisi tercampur. Sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah dari sumbernya, semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Pada saat yang sama, beban TPA dapat dikurangi dan kualitas lingkungan hidup masyarakat dapat ditingkatkan.
Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), KLH/BPLH mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Ayo! Pilah Dulu Sampahnya, Baru Dibuang
Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau investasi besar tetapi dapat dimulai dari perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
Semangat “No Generation Left Behind” menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam memahami, menghadapi, dan mengambil peran dalam mengatasi krisis lingkungan. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat, sumber daya alam yang lestari, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh apa yang kita rencanakan, melainkan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini. Maka saatnya mengubah kepedulian menjadi tindakan, dan tindakan menjadi gerakan bersama.