Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang dilansir akhir pekan lalu mengungkapkan, pada triwulan II 2026 kinerja kegiatan usaha meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha triwulan II 2026 sebesar 12,97 persen, lebih tinggi dari 10,11 persen pada triwulan I 2026.

Kegiatan usaha meningkat pada mayoritas lapangan usaha. Antara lain pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 1,74 persen), sejalan dengan masih berlangsungnya panen tanaman pangan di sejumlah wilayah lumbung pangan di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat; pertambangan dan penggalian (SBT 0,37 persen) sejalan dengan menurunnya curah hujan sehingga mendukung aktivitas pertambangan; konstruksi (SBT 0,81 persen) sejalan dengan peningkatan aktivitas pengerjaan proyek pembangunan; serta penyediaan akomodasi dan makan minum (SBT 0,50 persen) sejalan dengan permintaan yang tetap terjaga pada rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan momen libur sekolah.

Kapasitas produksi terpakai meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Tercermin dari kapasitas produksi terpakai triwulan II 2026 sebesar 73,80 persen, lebih tinggi dibandingkan 73,33 persen pada triwulan I 2026.

Peningkatan kapasitas produksi terpakai ditopang sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (73,16 persen), serta pertambangan dan penggalian (70,85 persen, sejalan dengan peningkatan aktivitas usahanya.

Sementara sektor pengadaan listrik tercatat stabil (80,54 persen), dan industri pengolahan (70,11 persen), serta pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang (74,34 persen) melambat, sejalan dengan aktivitas usahanya.

Investasi
Peningkatan kegiatan usaha itu, sejalan dengan realisasi investasi yang sedikit meningkat pada triwulan II 2026. Tecermin dari SBT Investasi triwulan II 2026 sebesar 5,46 persen, dibanding BT 5,39 persen pada triwulan I.

Pertumbuhan investasi itu bersumber dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (SBT 0,96 persen), diikuti industri pengolahan (SBT 0,77 persen), serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor (SBT 0,63 persen), dengan investasi berupa pembelian kendaraan, mesin/alat berat, dan pembangunan/perbaikan pabrik/gudang/bangunan.

Baca juga: Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Likuiditas, rentabilitas, akses kredit
Responden menilai kondisi keuangan atau likuiditas perusahaan masih cukup baik pada triwulan II 2026, meski menurun dibanding triwulan I.

Tercermin dari Saldo Bersih (SB) Likuiditas triwulan II 2026 sebesar 15,03 persen, lebih rendah dibandingkan SB 17,05 persen pada triwulan I 2026.

Persentase responden yang menjawab kondisi likuiditas pada triwulan II 2026 baik mencapai 22,78 persen, lebih rendah dibandingkan 23,98 persen pada triwulan I.

Kondisi rentabilitas atau kemampuan perusahaan mencetak laba, juga terindikasi masih cukup baik pada triwulan II 2026 kendati juga menurun. Tercermin dari SB Rentabilitas sebesar 11,87 persen, lebih rendah dari SB 14,87 persen pada triwulan I.

Persentase responden yang menjawab kondisi rentabilitas pada triwulan II 2026 baik 22,34 persen, menurun dibandingkan 24,04 persen pada triwulan I.

Responden juga menilai akses kredit perbankan pada triwulan II 2026 masih cukup mudah. Tercermin dari SB akses kredit sebesar 2,45 persen, meski lebih rendah dibandingkan SB 4,84 persen pada triwulan I.

Persentase responden yang menjawab “lebih mudah” hanya 7,03 persen, lebih rendah dibandingkan 8,77 persen pada triwulan I.

Baca juga: Tiga Triwulan Kondisi Keuangan dan Rentabilitas Dunia Usaha Konsisten Menurun

Tenaga kerja
Kendati pada triwulan II kinerjanya meningkat, pengunaan tenaga kerja oleh dunia usaha justru merosot. Tercermin dari SBT tenaga kerja yang hanya tumbuh 0,14 persen, dibanding 0,28 persen pada triwulan I.

Sektor yang tercatat meningkat penggunaan tenaga kerjanya antara lain pertambangan dan penggalian (SBT 0,26 persen), dan konstruksi (SBT 0,07 persen), sejalan dengan peningkatan aktivitas usahanya.

Sementara sektor yang masih positif penyerapan tenaga kerjanya, antara lain perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor (SBT 0,27 persen), dan jasa keuangan (SBT 0,29 persen), sejalan dengan penambahan dealer/showroom kendaraan maupun kantor cabang.

Baca juga: Triwulan IV 2025 Kegiatan Usaha Menurun, Tapi Keuangan Perusahaan dan Penggunaan Tenaga Kerja Meningkat

Tekanan harga jual
Kegiatan usaha mengalami tekanan harga jual yang cukup tinggi pada triwulan II. Tercermin dari SBT harga jual sebesar 22,38 persen, jauh lebih tinggi dari SBT 15,82 persen pada triwulan I.

Peningkatan harga jual antara lain bersumber dari sektor perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor (SBT 5,80 persen), industri pengolahan (SBT 5,16 persen), dan pertanian, kehutanan, dan perikanan (SBT 3,50 persen). Menurut responden, peningkatan harga jual terutama didorong oleh kenaikan biaya bahan baku/material.

Peningkatan harga bahan baku/material yang mendorong kenaikan harga jual itu, membuat responden memperkirakan rata-rata inflasi nasional tahun ini akan mencapai lebih dari 3 persen, atau tepatnya sekitar 3,07 persen. BI menyebut, prakiraan tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5%±1% (yoy).