Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun
Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan satu 2026, menurut Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang dipublikasikan akhir pekan ini, kegiatan dunia usaha secara umum juga masih terjaga.
Tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha triwulan satu sebesar 10,11 persen. Mayoritas kinerja lapangan usaha tercatat positif. Terutama jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan atau manufaktur, perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan motor.
Kinerja kegiatan usaha yang masih terjaga itu, didukung kenaikan permintaan selama hari besar keagamaan Imlek, Nyepi, serta Ramadan dan Idul Fitri, serta dimulainya musim panen terutama pada lapangan usaha tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan.
Kendati masih terjaga, kinerja dunia usaha pada triwulan pertama 2026 itu, menurun dibanding triwulan sebelumnya dengan SBT lebih tinggi sebesar 10,61 persen.
Kapasitas produksi terpakai memang sedikit meningkat menjadi 73,33 persen pada triwulan satu dibanding 73,15 persen pada triwulan IV 2025.
Akses kredit juga jauh lebih mudah dengan saldo bersih (SB) akses kredit 4,84 persen pada triwulan satu 2026, dibanding 2,93 persen pada triwulan sebelumnya. “Persentase responden yang menjawab lebih mudah sebesar 8,77 persen, dibanding 8,57 persen pada triwulan IV 2025,” tulis hasil SKDU BI.
Namun, penggunaan tenaga kerja menurun dengan SBT 0,28 persen, dibanding 0,72 persen pada triwulan empat 2025. Penggunaan tenaga kerja diperkirakan meningkat lagi pada triwulan dua dengan SBT 0,61 persen. Berasal dari lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sejalan dengan masih berlanjutnya musim panen, serta pertambangan dan penggilingan dan jasa keuangan sejalan dengan penambahan kantor cabang.
Baca juga: Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja
Begitu pula kondisi keuangan atau likuiditas responden, menurun dari SB 18,72 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 17,05 persen pada triwulan satu 2026. “Persentase responden yang menjawab kondisi likuiditas triwulan satu lebih baik mencapai 23,98 persen, menurun dibanding triwulan sebelumnya sebesar 25,93 persen,” tulis hasil SKDU BI.
Hal yang sama terjadi pada rentabilitas atau kemampuan perusahaan mencetak laba. Menurun dengan SB 14,87 persen dibanding triwulan empat 2025 sebesar 16,51 persen.
Menurun juga margin usaha menjadi 16,02 persen dibanding 16,70 persen pada triwulan IV 2025. Terendah pada lapangan usaha pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, serta pengadaan listrik.
Sementara upah pekerja meningkat pada semester I 2026 dengan SB 39,20 persen, dibanding SB 10,49 persen pada semester II 2025. Ini menjelaskan kenapa dunia usaha mengurangi penggunaan tenaga kerja.
Penurunan likuiditas, rentabilitas, dan margin usaha itu, dipengaruhi tekanan harga jual yang meningkat pada triwulan satu 2026 dengan SBT 15,82 persen, dibanding SBT 12,37 persen pada triwulan empat 2025.
Baca juga: Survei BI: Semester Satu Dunia Usaha Masih Akan Wait and See Berinvestasi
Tekanan itu tidak bisa serta merta ditransmisikan ke harga jual, karena kondisi ekonomi domestik dan global yang kian dipenuhi ketidakpastian, menyusul konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia, mengganggu rantai pasok, serta menaikkan harga bahan baku. “Menurut responden, kenaikan harga jual itu terutama disebabkan oleh kenaikan biaya bahan baku/material dan biaya operasional lainnya,” tulis SKDU BI.
Karena kondisi keuangan, rentabilitas dan margin usaha menurun, dunia usaha juga menunda realisasi investasi baru. Tercermin dari SBT investasi triwulan satu 2026 sebesar 5,39 persen, lebih rendah dari SBT 9,54 persen pada triwulan IV 2025.
Responden memperkirakan realisasi investasi akan kembali naik pada triwulan dua 2026 dengan SBT 5,67 persen, terutama dari sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan, sejalan dengan meredanya tekanan harga jual. Tekanan harga jual pada triwulan dua 2026 diprakirakan sebesar SBT 12,81 persen, kembali ke level SBT triwulan IV 2025 sebesar 12,37 persen, setelah naik ke SBT 15,02 persen pada triwulan satu 2026.