Minggu, April 19, 2026
HomeBerita PropertiEnergi Minyak Rentan Akibat Konflik, Energi Surya Jadi Solusi

Energi Minyak Rentan Akibat Konflik, Energi Surya Jadi Solusi

Dunia di tengah konflik perang Iran-Israel-Amerika kembali mengingatkan kerentanan sistem energi global. Konflik yang saat ini terjadi telah memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut. Setiap gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu volatilitas harga energi global yang berdampak pada berbagai sektor ekonomi.

Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan terhadap harga energi kembali menjadi perhatian. Wacana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri mencerminkan bagaimana dinamika global dapat berimbas pada struktur biaya energi nasional.

Bagi pelaku usaha kondisi ini tentunya bukan hanya berdampak pada biaya operasional tetapi juga menuntut kesiapan dalam menghadapi ketidakpastian energi jangka panjang. Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menekankan pentingnya ketahanan energi, transisi energi, serta optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan di tengah dinamika global.

Bagi dunia usaha, hal ini semakin menegaskan bahwa diversifikasi energi bukan lagi sekadar langkah efisiensi melainkan bagian dari strategi menjaga keberlanjutan dan stabilitas operasional. Di sisi lain, kebutuhan energi Indonesia terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan ekspansi sektor industri.

Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa konsumsi energi nasional masih didominasi oleh energi fosil. Sementara itu porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional baru mencapai sekitar 13 persen pada tahun 2023, masih cukup jauh dari target 23 persen pada 2025.

Baca juga: Ondusolar Tile Atap Sekaligus Pembangkit Listrik

Di sisi lain Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, khususnya energi surya. Kajian Kementerian ESDM menunjukkan potensi energi surya nasional mencapai sekitar 3.200 gigawatt namun pemanfaatannya masih sangat terbatas.

Kondisi tersebut menempatkan energi sebagai salah satu faktor strategis dalam pengelolaan bisnis. Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak perusahaan mulai meninjau kembali strategi energi mereka, seiring meningkatnya ketidakpastian biaya dan tuntutan efisiensi operasional.

Selain itu perhatian terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga semakin menguat. Investor global dan lembaga keuangan kini semakin mempertimbangkan faktor Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menilai kinerja perusahaan, termasuk dalam aspek pengelolaan energi. Dalam konteks tersebut, perusahaan mulai mempertimbangkan berbagai pendekatan untuk mengelola kebutuhan energi secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Menurut Wijaya Rusli, perwakilan manajemen Jarwinn Solar Panel, sebuah perusahaan distributor produk panel surya, saat ini perusahaan mulai melihat energi terbarukan bukan hanya sebagai kebutuhan operasional tetapi sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketika biaya energi semakin tidak pasti.

“Untuk itu pendekatan terhadap pengelolaan energi pun ikut berubah dan salah satu pendekatan yang mulai dilirik adalah pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi surya melalui instalasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) baik unutk kebutuhan operasional maupun bagian dari strategi efisiensi jangka panjang,” ujarnya dikutip dari siaran pers Minggu (19/04).

Selain sistem PLTS konvensional, sebagian perusahaan juga mulai mempertimbangkan pendekatan hybrid, yaitu sistem yang menggabungkan energi surya dengan sumber listrik utama dan penyimpanan baterai. Pendekatan ini dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasokan energi sekaligus mengoptimalkan efisiensi penggunaan listrik dalam jangka panjang.

Jarwinn Solar Panel merupakan perusahaan penyedia solusi energi surya yang telah beroperasi sejak tahun 2017 dan memiliki pengalaman dalam berbagai proyek instalasi PLTS di sektor industri, komersial, hingga fasilitas publik di berbagai wilayah Indonesia.

Perusahaan ini telah terlibat dalam berbagai proyek instalasi panel surya di sejumlah perusahaan nasional antara lain di lingkungan Astra Honda Motor, Bank BRI, Watsons, FIF Group, serta jaringan ritel seperti Alfamart.

Baca juga: Utomodeck Tawarkan Atap Plus Panel Surya

Menurut Wijaya, minat terhadap energi surya dari sektor korporasi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang terus meningkat terutama didorong oleh kebutuhan efisiensi biaya energi, perhatian terhadap aspek keberlanjutan, serta upaya mengelola risiko energi dalam jangka panjang.

Sejumlah perusahaan dari berbagai sektor mulai dari manufaktur, ritel, hingga jasa mulai memanfaatkan panel surya di area pabrik, perkantoran, gudang maupun fasilitas komersialnya. Hal ini menunjukkan energi surya semakin dipandang sebagai salah satu opsi dalam pengelolaan energi perusahaan terutama dalam konteks efisiensi dan keberlanjutan.

“Dengan ketersediaan sinar matahari yang melimpah di wilayah tropis seperti Indonesia, energi surya memiliki potensi besar untuk dikembangkan termasuk melalui pendekatan yang lebih fleksibel seperti sistem hybrid yang kini mulai menjadi pertimbangan dalam strategi energi perusahaan. Terlebih dalam lansekap bisnis yang kian dinamis, pengelolaan energi bukan lagi aspek operasional tapi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun sistem yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan,” bebernya.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini