Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari pertemuannya dengan lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC, Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, S&P mengonfirmasi peringkat kredit Indonesia tetap berada di level BBB dengan outlook (prospek) stabil.
Sebelumnya dua lembaga pemeringkat Fitch Rating dan Moody’s juga menyatakan sovereign credit rating Indonesia di level BBB, namun dengan outlook negatif dari sebelumnya stabil.
Kedua lembaga pemeringkat itu merevisi outlook surat utang Indonesia jadi negatif, karena melihat meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah, serta mengkhawatirkan konsistensi dan kredibilitas kebijakan tersebut.
Salah satu kebijakan pemerintah yang dikhawatirkan itu adalah, aneka program populis yang memakan dana besar di tengah basis penerimaan negara yang melemah, yang mengancam defisit fiskal menjadi makin besar.
Menurut Menkeu, keputusan S&P Global itu, menjadi sinyal kuat, ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi perlambatan pertumbuhan, tingginya suku bunga dunia, dan ketidakpastian geopolitik.
Peringkat BBB merupakan kategori investment grade, yang menunjukkan Indonesia dinilai memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah dan tetap layak menjadi tujuan investasi internasional. Status ini penting untuk menjaga kepercayaan investor, menekan biaya pinjaman, serta memperkuat arus modal masuk ke dalam negeri.
“Dalam pertemuan, S&P menyoroti konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, terutama defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu. Utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen,” kata Purbaya melalui keterangan, Jumat (17/4/2026).
Purbaya bersama Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan jajaran masing-masing, menghadiri “The Annual and Spring Meetings of the International Monetary Fund (IMF) & World Bank Group” di Washington DC, Amerika Serikat, 13-18 April 2026.
Di sela-sela acara tersebut, keduanya bertemu para petinggi IMF dan Worls Bank, serta para investor dari Amerika Serikat dan lembaga investasi global termasuk S&P Global.
Baca juga: Moody’s Turunkan Prospek Utang RI, Rupiah Melemah
Menkeu menegaskan kepada pihak S&P dalam pertemuan itu, bahwa Presiden Prabowo telah memberikan arahan agar defisit APBN tetap dijaga secara prudent. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Selain fiskal yang sehat, ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari membaiknya penerimaan negara. Purbaya menyebut pertumbuhan pajak pada dua bulan pertama tahun ini mencapai 30 persen, sementara periode Januari-Maret tumbuh sekitar 20 persen dibanding tahun lalu.
Kinerja tersebut menunjukkan, aktivitas ekonomi domestik terus pulih dan basis penerimaan negara makin kuat. Pemerintah juga telah melakukan restrukturisasi organisasi Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai guna meningkatkan efektivitas pengumpulan penerimaan.
“Ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen, mereka sepertinya cukup puas,” kata sang Bendahara Negara.
Purbaya mengungkapkan, S&P juga mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 yang mencapai 5,4 persen.
Selain itu, berbagai indikator makro dan mikro dinilai menunjukkan tren positif pada awal pemerintahan Presiden Prabowo. Hal itu menandakan, ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang kuat, ditopang konsumsi domestik besar, reformasi fiskal berkelanjutan, dan prospek investasi yang tetap terjaga.
Baca juga: Ikuti Moody’s, Fitch Ratings Juga Turunkan Prospek Utang RI Jadi Negatif
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara (debt service ratio/DSR), yang di wanti-wanti S&P karena sudah mencapai 15 persen. Menkeu memastikan kondisi tersebut akan terus dimonitor agar tidak mengganggu ruang fiskal di masa depan.
“Saya bilang itu akan kita monitoring terus, dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan tetap kita jaga,” ujar Purbaya.
Tetap terjaganya rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, menjadi pesan penting bagi pasar global bahwa fundamental ekonomi nasional masih solid. Di tengah tekanan eksternal, Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, disiplin fiskal, dan stabilitas keuangan negara.