Pengelolaan Sampah Kawasan Harus Berbasis Data
Kerusakan lingkungan merupakan hal nyata dan harus dihadapi dengan berbagai keseharian sikap kita untuk ikut memperbaiki lingkungan yang kita tempati bersama. Tantangan pengelolaan sampah misalnya, masih menjadi persoalan besar di Indonesia.
Dengan kondisi ratusan tempat pemrosesan akhir (TPA) yang masih menerapkan praktik open dumping telah membuat kapasitas TPA yang kian kritis. Open dumping merupakan pembuangan sampah yang hanya ditumpuk dan dihamparkan di area terbuka tanpa ada pengelolaan, pemilahan, maupun pelapisan tanah. Karena itu paradigam lama kumpul-angkut-buang tidak bisa lagi dipertahankan.
Untuk mendorong transformasi pengelolaan sampah yang lebih baik, Waste4Change menyelenggarakan kegiatan Kawasan #BijakKelolaSampah: Site Visit & Talkshow Spesial Hari Bumi pada akhir April2026 lalu. Event ini dirancang untuk para pengembang kawasan mandiri, industri, dan komersial guna memberikan wawasan komprehensif mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang mandiri, terintegrasi, dan berbasis data.
Waste4Change merupakan perusahaan penyedia solusi pengelolaan sampah (waste management) yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dengan memberikan layanan terintegrasi mulai kampanye, konsultasi, pengumpulan, hingga daur ulang.
Pengelolaan sampah untuk skala kawasan menjadi tema besar karena selama bertahun-tahun banyak kawasan menganggap sampah hanyalah residu operasional yang cukup “dihilangkan” dari pandangan mata. Pada praktiknya pengelolaan sampah hanya memindahkan ke tempat lain yang menimbulkan pencemaran tanah, air lindi, hingga emisi gas rumah kaca.
Transformasi menuju pengelolaan sampah skala kawasan bukan lagi sekadar pilihan melainkan kewajiban regulasi. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 2648 Tahun 2025, kawasan permukiman, industri, hingga komersial ditegaskan memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampahnya secara mandiri. Tak hanya soal kepatuhan hukum, pengelolaan sampah yang baik kini menjadi indikator penting dalam penilaian ESG (Environmental, Social, and Governance) yang mampu meningkatkan daya saing kawasan di mata investor dan tenant.
Baca juga: Menjaga Lingkungan Hidup dari Hal Paling Sederhana: Pilah Sampah
Dikutip dari website Waste4Change Rabu (10/6), kegiatan Kawasan #BijakKelolaSampah diawali dengan perjalanan yang membuka mata para peserta. Agenda utama dimulai dengan kunjungan ke TPST Bantargebang, Bekasi. Di sini, lebih dari 30 perwakilan pengelola kawasan dari berbagai sektor melihat secara langsung kondisi gunungan sampah yang sudah sangat overload.
Pengalaman ini memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi peserta (shock moment) bahwa dengan melihat realitas di Bantargebang, hal ini dapat menyadarkan peserta akan adanya “tanggung jawab masif” yang harus dipikul setiap penghasil sampah.
Setelah melihat kondisi hilir yang mengkhawatirkan, peserta diajak menuju Rumah Pemulihan Material (RPM) Waste4Change. Di fasilitas ini, peserta melihat kontras yang nyata: bagaimana sampah yang terpilah dapat dikelola secara bertanggung jawab melalui proses mekanis maupun biologis.
Kunjungan ke RPM memberikan gambaran praktis mengenai implementasi ekonomi sirkular di mana material seperti sisa makanan, plastik, kertas, dan logam diproses untuk kembali ke industri daur ulang, sementara residu dapat diminimalisasi.
Saat bincang mengenai pengelolaan sampah skala kawasan, satu pesan kunci bagi para pengelola: investasi teknologi akan sia-sia tanpa fondasi data yang kuat. Dalam perencanaan sistem, data bukan sekadar angka melainkan alat navigasi untuk menentukan solusi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan spesifik sebuah kawasan.
Baca juga: Program Pengelolaan Sampah Pegadaian: Edukasi Hingga Nabung Emas dari Sampah
Head of Waste4Change Consulting Business Anissa Ratna Putri mengatakan, banyak pengelola kawasan saat ini berada dalam “titik buta” (blind spot) karena tanpa data, pengelola sering kali tidak mengetahui volume pasti sampah yang dihasilkan, komposisinya, hingga ke mana sampah tersebut bermuara.
“Kita harus tahu kondisi eksistingnya, berapa banyak sampahnya. Nanti dari situ kita bisa melakukan improvement pengelolaan sampah berbasis data agar dapat memilih vendor dan teknologi yang tepat,” ujarnya.
Salah satu pengembang yang konsisten selama satu dekade bersama Waste4Change adalah Vida Bekasi. Dari mulai pengangkutan di klaster kecil, saat ini telah terlayani mencapai 2.500 KK dengan sampah yang dikelola mencapai 1.549,6 ton (tahun 2025).
Di Vida Bekasi juga ada program #MakanTanpaSisa yang berhasil mengedukasi warga hingga mengolah 1.086 kg sampah organic menjadi kompos. Model ini membuktikan bahwa edukasi dan sistem yang konsisten berbasis data dapat mengubah perilaku masyarakat dalam pemilahan di sumber.
Perspektif lain hadir dari kawasan industri seluas 1.500 ha dengan 175 tenant: BeFa Industrial Estate. Kawasan ini menghadapi tantangan besar mulai dari sampah tenant yang tidak terkontrol, risiko penilaian Proper, hingga potensi konflik sosial dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) terkait akses material sampah.
Menyadari bahwa sistem tidak dapat dibangun di atas asumsi, BeFa Industrial Estate memulai langkah dengan melakukan Feasibility Study (FS) pada tahun 2023 bersama Waste4Change untuk memetakan volume, komposisi sampah, serta melakukan analisis mendalam terhadap para pemangku kepentingan.
Hasil riset ini menjadi acuan bagi BeFa untuk menjalankan Fase 1 (“Tidying Up” internal) dengan komitmen 100 persen zero waste to landfill pada fasilitas kantor dan lansekap sebagai landasan sebelum nantinya diekspansi ke seluruh tenant di kawasan.
Baca juga: Ratu Maxima Puji Inovasi BTN Bayar Cicilan KPR Pakai Sampah
Pada akhirnya muncul pandangan umum terkait pentingnya akurasi data sebelum pengelola kawasan memutuskan sistem pengelolaan sampahnya dan berinvestasi pada teknologi pengolahan tertentu.
Membangun kawasan yang lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan sampah membutuhkan proses yang terencana. Tidak hanya melalui operasional di lapangan tetapi juga melalui pemahaman data, perencanaan sistem, serta model pengelolaan yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
Melalui pendekatan berbasis riset dan analisis, Waste4Change siap mendukung kawasan dalam memahami kondisi pengelolaan sampah yang ada, mengidentifikasi peluang perbaikan, serta merancang strategi yang lebih tepat sesuai kebutuhan dan karakteristik masing-masing kawasan.
Bagi kawasan yang sedang mengevaluasi atau merencanakan sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah, Waste4Change dapat menjadi mitra diskusi untuk membantu menyusun langkah yang relevan, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang.