Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja
Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan atau manufaktur Indonesia makin ekspansif pada triwulan pertama tahun ini.
Tercermin dari Prompt Manufacturing Index (PMI) versi BI triwulan I 2026 sebesar 52,03 persen, lebih tinggi dibanding triwulan IV 2025 sebesar 51,86 persen.
Tiga komponen pembentuknya berada di zona ekspansi (indeks >50). Yaitu, volume produksi (54,07 persen dari 53,46 persen pada triwulan IV 2025), volume persediaan barang (54,43 persen dari 53,46 persen), dan volume total pesanan (53,20 persen, sedikit menurun dibanding triwulan IV 2025 sebesar 53,31 persen).
Sedangkan komponen jumlah tenaga kerja masih berada di zona kontraksi (indeks <50) sebesar 48,76 persen, makin menurun dibanding triwulan IV 2025 sebesar 48,80 persen, yang menunjukkan ekspansi manufaktur di atas belum cukup kuat menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Begitu juga komponen kecepatan penerimaan barang input (bahan baku dll), pada triwulan I 2026 masih berada di zona kontraksi dengan indeks 49,06 persen, makin menurun dari triwulan IV 2025 sebesar 49,32 persen.
Baca juga: Tekanan Global, Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif Kendati Mengendur
Kendati ada gejolak global menyusul konflik baru di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia dan memukul nilai tukar rupiah, BI memperkirakan ekspansi manufaktur RI berlanjut pada triwulan dua 2026, dengan indeks lebih tinggi sebesar 52,26 persen.
Terutama didorong oleh volume produksi (54,51 persen) dan volume persediaan barang jadi (54,51 persen). Sedangkan volume total pesanan pada triwulan II diperkirakan stabil dengan indeks 53,20 persen, menyusul masih terjaganya permintaan pasar.
Sementara komponen jumlah tenaga kerja, pada triwulan II 2026 diproyeksikan masih berada di zona kontraksi (indeks <50) sebesar 49,90 persen, kendati membaik dibanding triwulan satu. Sedangkan komponen kecepatan penerimaan barang input, pada triwulan II 2026 akan terkontraksi lebih dalam dengan indeks 48,84 persen.
Baca juga: Pesanan dan Produksi Menurun, Stok Barang Meningkat, Kepercayaan Industri Melorot
Menurut lapangan usaha, peningkatan ekspansi manufaktur Indonesia pada triwulan pertama tahun ini, terutama didorong oleh industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, serta industri makanan dan minuman.
Pada triwulan II 2026, ekspansi manufaktur yang kian meningkat diperkirakan ditopang terutama oleh industri furnitur, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki, serta industri makanan dan minuman.