Kamis, Juni 4, 2026
HomeInvestasiNilai Investasi Turun, Apa Yang Harus Dilakukan?

Nilai Investasi Turun, Apa Yang Harus Dilakukan?

Fluktuasi nilai aset di pasar merupakan hal yang biasa namun tentunya menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan investasi. Pertanyaan yang kerap muncul, apa yang harus dilakukan saat nilai investasi turun? Kondisi ini sangat mungkin terjadi terlebih di tengah situasi pasar yang penuh gejolak seperti saat ini.

Kondisi fluktuatif tentunya wajar saja karena harga ataupun nilai aset memang bisa naik dan turun dari waktu ke waktu. Karena itu tidak perlu panik ketika melihat portofolio investasi merah, yang penting adalah memahami penyebab penurunan dan mengambil langkah yang tepat supaya risiko kerugian bisa diminimalisir.

Dikutip dari laman Pegadaian Rabu (3/6), ada beberapa panduan untuk menyikapi penurunan nilai investasi dengan bijak. Harus dipahami kalau hampir semua instrumen investasi memiliki risiko fluktuasi harga. Beberapa faktor yang bisa membuat nilai investasi turun antara lain pergerakan pasar untuk investasi saham, reksadana, hingga emas yang bisa berubah karena kondisi ekonomi dan pasar global termasuk kebijakan pemerintah seperti suku bunga yang dapat memengaruhi harga.

Hal lainnya lagi kinerja perusahaan karena pada investasi saham, kondisi perusahaan sangat menentukan nilai aset. Jika laba menurun atau perusahaan menghadapi masalah, harga saham biasanya ikut turun. Psikologi pasar juga memiliki pengaruh besar. Saat investor panik atau takut terhadap kondisi ekonomi, harga aset bisa turun cukup tajam dalam waktu singkat.

Sekali lagi, sangat penting memahami situasi pasar secara menyeluruh agar tidak salah langkah. Keputusan investasi perlu didasarkan pada tujuan dan kondisi keuangan yang tepat. Namun bila situasi yang tidak diinginkan terjadi, tips ini bisa disimak.

Baca juga: OJK Luncurkan Pintar Reksa Dana untuk Bantu Masyarakat Berinvestasi

Pertama jangan panik saat nilai investasi turun, usahakan tetap tenang dan jangan melakukan panic selling yang sering membuat investor menjual aset di harga rendah dan akhirnya mengalami kerugian besar. Pasar investasi memang bergerak naik dan turun. Oleh karena itu keputusan investasi sebaiknya dibuat secara logis, bukan karena emosi sesaat.

Kedua, cek Investasi yang kita miliki, periksa kembali aset, cari tahu apakah penurunan terjadi karena kondisi pasar secara umum atau memang performa aset tersebut memburuk. Jika fundamental investasi masih baik maka tidak perlu buru-buru menjual aset hanya karena harga sedang turun.

Ketiga ingat kembali tujuan keuangan jangka panjang sebelum buru-buru menjual aset, ingat kembali tujuan investasi yang sudah dibuat sejak awal. Jika target investasi masih jangka panjang, penurunan sementara biasanya masih bisa ditoleransi. Fokus pada tujuan keuangan justru bisa membantu kita tetap disiplin dan tidak mudah ikut tren pasar sesaat.

Keempat melakukan riset pasar karena riset sangat penting dilakukan ketika nilai instrumen investasi di pasar sedang turun. Pahami penyebab penurunan dan lihat peluang yang mungkin muncul. Dari hasil riset itu kita bisa menentukan apakah sebaiknya membeli lagi, menahan aset, atau menjual sebagian investasi.

Kelima menambah investasi karena saat harga aset turun beberapa investor justru memanfaatkan kondisi ini untuk membeli di harga lebih murah. Strategi ini cocok untuk tujuan investasi jangka panjang namun pastikan kondisi keuangan tetap aman sebelum menambah investasi baru.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Pilihan Investasi Yang Cocok

Keenam utamakan manajemen risiko dan harus selalu jadi prioritas. Hindari menempatkan seluruh dana pada satu jenis investasi saja, lakukan diversifikasi portofolio yang dapat membantu mengurangi risiko kerugian saat salah satu aset mengalami penurunan. Jika hasil analisis menunjukkan aset masih bagus, tunggu hingga harga kembali naik dengan menentukan batas kerugian yang bisa diterima.

Ketujuh siapkan dana likuid untuk menghadapi kondisi darurat. Dengan memiliki dana tunai kita tidak perlu menjual investasi saat harga sedang turun. Idealnya, dana darurat dipisahkan dari dana investasi agar kondisi keuangan tetap stabil.

Kedelapan lakukan cut loss untuk membatasi kerugian agar tidak semakin besar. Langkah ini biasanya dipilih jika aset terus turun dan prospeknya kurang baik. Walaupun terasa berat, cut loss kadang menjadi keputusan yang lebih aman dibandingkan dengan mempertahankan aset yang terus merugi.

Berita Terkait

Ekonomi

Dolar AS Perkasa, Kunjungan Turis Asing Meninggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (2/6/2026), jumlah kunjungan...

Rupiah Terpuruk, Orang Indonesia Mulai Kurangi Pelesiran ke Luar Negeri

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (2/6/2026), selama Januari-April...

Kunjungan Prabowo ke Prancis Hasilkan France-Indonesia High Level Business Council

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan...

April Neraca Dagang RI Masih Surplus, Tapi Merosot Tajam Jadi USD89 Juta

Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus,...

Berita Terkini