Selasa, April 14, 2026
HomeNewsEkonomiSepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF, OECD, dan Bank Dunia yang hanya 2,6 persen hingga 3,3 persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat, mencapai 5,11 persen pada 2025. Salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, ketahanan Indonesia ditopang ekonomi domestik yang kuat, didukung konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah, dan diperkuat stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, dan koordinasi kelembagaan yang erat.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi (PDB) dengan kontribusi 54 persen, Mandiri Spending Index tetap berada pada level kuat 360,7. Produksi beras nasional mencapai 34,7 juta ton dengan stok cadangan beras Bulog mendekati 4,6 juta ton.

“Ini jadi salah satu cadangan beras terkuat yang pernah dimiliki Indonesia,” kata Airlangga dalam Media Briefing: Update on Economic and Reform Measures di Jakarta, Senin (13/4/2026), sebagaimana dikutip keterangan Kemenko Perekonomian.

Sementara di sektor energi, pemerintah terus memperkuat kemandirian melalui implementasi program B50, selian mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.

“Tahun ini proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 5,3 persen. Pada triwulan pertama tahun ini, kita optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujar Menko Airlangga.

Memasuki triwulan dua 2026, perekonomian Indonesia diklaim tetap dalam posisi yang kuat, kendati ada konflik baru di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia.

Tercermin dari inflasi yang terkendali, neraca perdagangan yang tetap surplus 70 bulan berturut-turut, dan tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Manufaktur juga masih berada pada fase ekspansi dengan indeks 50,1, cadangan devisa tetap kuat sebesar USD148,2 miliar, perbankan tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.

Kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai USD47 miliar, memberikan natural hedging terhadap tekanan dari sektor minyak dan gas.

Dari sisi fiskal, APBN terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi melalui penyaluran bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN tetap terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB (per Maret 2026).

Baca juga: Pemerintah Tetap Pede Ekonomi RI Tangguh, Triwulan Satu Bisa Tumbuh 5,5 Persen atau Lebih

Lalu, transaksi lintas negara dengan mata uang lokal Indonesia atau local currency transaction (LCT) tahun 2025, meningkat menjadi (ekuivalen) USD25,6 miliar atau sekitar Rp435 triliun dengan kurs Rp17.000.

“Angka ini dua kali lipat dibanding 2024. Transaksinya dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran dengan QRIS Indonesia,” jelas Airlangga.

Transaksi lintas negara dengan mata uang lokal, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, sekaligus lebih efisien karena tidak harus menukarkan mata uang dulu.

Transaksi di negara yang bekerjasama bisa menggunakan rupiah, dan sebaliknya transaksi warga negara yang bermitra di Indonesia bisa memakai mata uang negara tersebut. Transaksi dilakukan melalui aplikasi digital seperti QRIS.

Berbagai indikator sosial ekonomi juga menunjukkan tren perbaikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,25 persen, diikuti penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen, serta rasio gini yang menurun menjadi 0,363.

Peningkatan kualitas pertumbuhan juga didukung realisasi investasi yang mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan. Sepanjang 2025, realisasi investasi berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

Baca juga: Dua Bulan Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp143 Triliun

Menko Airlangga juga menyampaikan, salah satu program yang didorong Presiden Prabowo Subianto adalah hilirisasi. Pada 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun (USD36,5 miliar), tumbuh 43,3 persen (yoy) dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi 2025.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral dan batu bara, diikuti perkebunan dan kehutanan, serta minyak dan gas, perikanan, dan kelautan.

Pemerintah juga terus memperkuat kemudahan berusaha dengan pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP), dan reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025, serta digitalisasi melalui OSS-RBA, guna membuka peluang investasi lebih luas.

Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus menunjukkan kinerja positif sebagai motor investasi dan pertumbuhan sektor bernilai tambah. KEK telah berkembang di sektor strategis seperti manufaktur maju, hilirisasi mineral, ekonomi digital, serta pariwisata dan kesehatan.

Turut hadir dalam acara tersebut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari, dan Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Angga Raka Prabowo.

Berita Terkait

Ekonomi

Dua Bulan Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp143 Triliun

Struktur perdagangan Indonesia menawarkan potensi kuat untuk memperluas transaksi...

Kian Merosot Ekspektasi Konsumen Terhadap Prospek Ekonomi, Kendati Masih Optimis

Survei Konsumen Bank Indonesia yang dirilis, Jumat (10/4/2026), mengungkapkan,...

Berita Terkini