Rabu, April 15, 2026
HomeNewsLuar NegeriFebruari Utang Luar Negeri RI Naik Lebih Tinggi, Dipengaruhi Utang Bank Indonesia

Februari Utang Luar Negeri RI Naik Lebih Tinggi, Dipengaruhi Utang Bank Indonesia

Bank Indonesia melalui Direktur Departemen Komunikasi Anton Pitono melaporkan, Rabu (15/4/2026), posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 mencapai USD437,9 miliar, meningkat dibanding ULN Januari 2026 sebesar USD434,9 miliar.

“Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh 2,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,7 persen (yoy),” kata Anton.

Peningkatan ULN Februari 2026 itu, terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral (BI), seiring aliran masuk modal asing ke instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

“Peningkatan ULN Bank Indonesia, didorong kenaikan kepemilikan asing terhadap instrumen moneter yang diterbitkan BI, sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak peningkatan ketidakpastian global,” jelas Anton. Nilai ULN BI itu tidak disebutkan.

Sementara ULN pemerintah pada Februari 2026 mencapai USD215,9 miliar, atau tumbuh 5,5 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibanding Januari 2026 yang 5,6 persen (yoy).

Perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang yang diterbitkannya (SBN), menyusul banyaknya investor asing yang melepasnya.

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,3 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,6 persen); serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

“Posisi ULN pemerintah didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen,” tulis laporan BI.

Baca juga: Utang Luar Negeri Pemerintah Naik Terus, Swasta Belum Pede Tambah Utang

Sedangkan ULN swasta masih terus menurun. Pada Februari 2026 mencapai USD193,7 miliar, atau secara tahunan terkontraksi (minus) 0,7 persen (yoy), sama dengan kontraksi bulan sebelumnya.

Perkembangan ULN swasta dipengaruhi kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations), dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang masing-masing turun 2,8 persen (yoy) dan 0,2 persen (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor manufaktur, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta. ULN swasta juga didominasi utang jangka panjang dengan porsi 76,0 persen.

“Struktur ULN Indonesia sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,8 persen, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,9 persen,” tutup Anton.

Berita Terkait

Ekonomi

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Dua Bulan Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp143 Triliun

Struktur perdagangan Indonesia menawarkan potensi kuat untuk memperluas transaksi...

Berita Terkini