Senin, Agustus 3, 2026
HomeNewsEkonomiJuli Inflasi Tahunan Melandai, Secara Bulanan Deflasi

Juli Inflasi Tahunan Melandai, Secara Bulanan Deflasi

Setelah terus mencatat level yang tinggi sejak Januari 2026 (di atas 3-4 persen), pada Juli 2026 inflasi atau Indeks Harga Konsumen (IHK) melandai.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juli 2026 inflasi mencapai 2,88 persen secara tahunan (yoy), jauh lebih rendah dibanding Juni 2026 sebesar 3,34 persen (yoy), kendati masih lebih tinggi dibanding Juli 2025 sebesar 2,37 persen (yoy).

Sama seperti sebelumnya, kelompok transportasi dan makanan masih menjadi penyumbang utama inflasi Juli 2026. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8/2026), inflasi tahunan Juli 2026 didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,97 persen (yoy) dengan andil inflasi 0,87 persen (yoy).

Diikuti kelompok transportasi sebesar 5,12 persen (yoy) dengan andil inflasi 0,62 persen (yoy), dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 9,04 persen (yoy) dengan andil inflasi 0,61 persen (yoy).

Pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, penyumbang utama inflasi adalah kenaikan harga ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin (SKM), daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan sigaret kretek tangan (SKT).

Pada kelompok transportasi, inflasi didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, dan sepeda motor. Sedangkan inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dipengaruhi kenaikan harga emas dan perhiasan.

Baca juga: BBM Naik, Rupiah Melemah, Inflasi Juni Makin Tinggi

Seluruh komponen mengalami inflasi, dengan andil inflasi komponen inti 2,76 persen (yoy), diikuti komponen harga diatur pemerintah (administered price) 3,58 persen (yoy) dan komponen harga pangan bergejolak (volatile food) 2,52 persen (yoy).

Pada komponen inti, inflasi utamanya didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademi/perguruan tinggi.

Pada komponen administered price, inflasi didorong oleh kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, SKM, dan bahan bakar rumah tangga. Pada volatile food, inflasi dipengaruhi oleh kenaikan harga beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Deflasi
Secara bulanan (mtm), IHK pada Juli 2026 bahkan mencatat deflasi (penurunan) sebesar 0,14 persen, dibanding Juni 2026 yang inflasi 0,44 persen (mtm).

Sementara inflasi tahun kalender atau year to date/ytd (Januari-Juli) juga menurun sebesar 1,65 persen (ytd), dibanding 1,79 persen (ytd) pada Juni 2026.

Baca juga: Mei Inflasi Meningkat Tinggi

Deputi Ateng menyatakan, deflasi Juli 2026 terutama juga didorong penurunan IHK kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencatat deflasi 0,89 persen (mtm), dengan andil deflasi 0,26 persen (mtm).

Komoditas yang dominan mendorong penurunan IHK atau deflasi adalah bawang merah dengan andil deflasi 0,11 persen (mtm), cabai merah dan cabai rawit dengan andil deflasi masing-masing 0,06 persen (mtm), telur ayam ras dan tomat dengan andil deflasi masing-masing 0,03 persen (mtm).

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat deflasi sebesar 0,89 persen (mtm), dengan andil deflasi 0,06 persen (mtm). Penyumbang utamanya juga emas perhiasan (harga menurun) sebesar 3,58 persen dengan andil deflasi 0,08 persen.

Sebaliknya, kelompok transportasi dan pendidikan menyumbang inflasi secara bulanan, sehingga menahan deflasi Juli 2026 lebih dalam.

Baca juga: April Inflasi Kian Melandai, Tapi Konflik Timur Tengah Mulai Berdampak

Kelompok transportasi mengalami inflasi 0,52 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,06 persen (mtm), kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,55 persen (mtm) dengan andil inflasi 0,03 persen (mtm).

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok transportasi adalah bensin dengan andil inflasi 0,08 persen (mtm), sepeda motor dan pelumas atau oli mesin dengan andil inflasi masing-masing 0,01 persen (mtm).

Sedangkan pada kelompok pendidikan, penyumbang utama inflasi adalah biaya sekolah dan les terkait tahun ajaran baru, dan prosesi menuju tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Berita Terkait

Ekonomi

AHY Dorong Pembangunan Bali: Satu Pulau-Satu Tata Kelola

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus...

Kadin: Multiplier Effect Industri Kesehatan, Rp1 Jadi Rp3

Sektor kesehatan dengan industri farmasi nasional bisa memberikan dampak...

Tantangan Lingkungan Bisa Menciptakan Nilai Bisnis

Jangan lagi melihat perubahan perubahan iklim sebagai tantangan lingkungan...

Semester I Keseimbangan Primer Surplus Rp85,1 Triliun

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kinerja Anggaran...

Berita Terkini