Senin, Agustus 3, 2026
HomeNewsEkonomiEkspor Nonmigas Naik, Impor Migas Menurun, Defisit Neraca Dagang RI Juni Mengecil

Ekspor Nonmigas Naik, Impor Migas Menurun, Defisit Neraca Dagang RI Juni Mengecil

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (3/8/2026), pada Juni 2026 neraca perdagangan (ekspor-impor) Indonesia masih mencatat defisit USD0,450 juta, namun jauh menurun dibanding defisit Mei 2026 sebesar USD1,6 miliar.

Sebelumnya selama 72 bulan tanpa putus sejak Mei 2020, neraca perdagangan RI selalu surplus (ekspor lebih besar daripada impor).

Setelah itu untuk pertama kalinya pada Mei 2026, neraca dagang Indonesia mencatat defisit, dipicu lonjakan impor minyak akibat kenaikan harga minyak dunia menyusul konflik di Timur Tengah.

Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, defisit neraca dagang Juni 2026 masih dipengaruhi defisit ekspor migas sebesar USD3,49 miliar, sementara ekspor nonmigas surplus USD3,04 miliar.

“Penyumbang utama defisit pada migas itu adalah (ekspor-impor) hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng.

Secara keseluruhan, ekspor pada Juni 2026 mencapai USD25,46 miliar, lebih rendah dibandingkan impor sebesar USD25,91 miliar per Juni 2026, sehingga neraca perdagangan RI defisit USD450 juta.

Berdasarkan negara, penyumbang defisit terbesar masih dipegang (ekspor-impor ke) China dengan defisit USD14,26 miliar, diikuti Australia dengan defisit USD3,97 miliar, dan Prancis defisit USD1,49 miliar.

Baca juga: Setelah Surplus 72 Bulan, Mei 2026 Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Dipicu Lonjakan Impor Migas

Namun, secara kumulatif Januari-Juni 2026 neraca dagang RI masih masih mencatat surplus USD3,58 miliar. Selama Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD140,81 miliar, naik 4,13 persen dibanding periode yang sama 2025 (yoy).

Penyumbang utama peningkatan nilai ekspor itu adalah industri pengolahan yang tumbuh 6,18 persen. Negara tujuan ekspor utama masih itu ke itu saja. Yaitu, China (25,58 persen) senilai USD34,56 miliar, AS (11,76 persen) senilai USD15,82 miliar, dan India (6,87 persen) senilai USD9,25 miliar.

Ekspor ke China terutama didominasi besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Ekspor ke Amerika Serikat (AS) berupa mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya. Ekspor ke India terutama berupa bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya.

Sementara nilai impor Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai USD137,24 miliar, meningkat jauh lebih tinggi daripada ekspor sebesar 18,69 persen (yoy). “Penyumbang utama peningkatan nilai impor itu adalah bahan baku/penolong sebesar 13,15 persen,” ujar Ateng.

Baca juga: Indonesia Catat Surplus Perdagangan Terbesar dengan AS, dengan Tiongkok Selalu Defisit

Respon BI
Merespon laporan BPS itu, Bank Indonesia 9BI) menyatakan, defisit neraca dagang Juni 2026 yang lebih rendah, karena surplus neraca perdagangan nonmigas tetap meningkat, diikuti penurunan defisit neraca perdagangan migas.

Neraca perdagangan nonmigas pada Juni 2026 mencatat surplus USD3,04 miliar, lebih tinggi dibandingkan surplus Mei 2026 sebesar USD2,15 miliar.

Perkembangan tersebut ditopang oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar USD24,39 miliar, terutama dari ekspor komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, produk manufaktur seperti mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.

Defisit neraca perdagangan migas tercatat menurun menjadi USD3,49 miliar pada Juni 2026 dari defisit Mei 2026 sebesar USD3,76 miliar, sejalan dengan peningkatan ekspor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan impor migas.

Berita Terkait

Ekonomi

Juli Inflasi Tahunan Melandai, Secara Bulanan Deflasi

Setelah terus mencatat level yang tinggi sejak Januari 2026...

AHY Dorong Pembangunan Bali: Satu Pulau-Satu Tata Kelola

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus...

Kadin: Multiplier Effect Industri Kesehatan, Rp1 Jadi Rp3

Sektor kesehatan dengan industri farmasi nasional bisa memberikan dampak...

Tantangan Lingkungan Bisa Menciptakan Nilai Bisnis

Jangan lagi melihat perubahan perubahan iklim sebagai tantangan lingkungan...

Berita Terkini