Rabu, Juli 1, 2026
HomeNewsEkonomiSetelah Surplus 72 Bulan, Mei 2026 Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar,...

Setelah Surplus 72 Bulan, Mei 2026 Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Dipicu Lonjakan Impor Migas

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Rabu (1/7/2026), nilai ekspor Indonesia selama Januari–Mei 2026 mencapai USD115,36 miliar atau naik 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Dari nilai ekspor kumulatif itu, ekspor nonmigas masih mencatat kenaikan 3,89 persen menjadi USD110,19 miliar. Namun, pada Mei 2026 saja, nilai ekspor mencapai USD23,20 miliar, turun 5,73 persen dibanding Mei 2025. Begitu pula ekspor nonmigas, Mei 2026 turun 4,50 persen menjadi USD22,45 miliar.

Sebaliknya nilai impor Januari–Mei 2026 mencapai USD111,33 miliar, naik 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, dengan nilai impor nonmigas naik 13,16 persen menjadi USD93,88 miliar.

Pada Mei 2026 saja, impor juga naik 22,16 persen dibanding Mei 2025 menjadi USD24,81 miliar, dengan impor nonmigas naik 14,89 persen menjadi USD20,30 miliar.

Sepanjang Januari-Mei 2026 neraca perdagangan Indonesia masih surplus USD4,03 miliar. Yaitu, dari surplus sektor nonmigas USD16,31 miliar, dikurangi defisit sektor migas senilai USD12,28 miliar.

Baca juga: April Neraca Dagang RI Masih Surplus, Tapi Merosot Tajam Jadi USD89 Juta

Namun, pada Mei 2026 saja, dengan nilai ekspor mencapai USD23,20 miliar dan nilai impor USD24,81 miliar, neraca dagang RI defisit USD1,61 miliar.

Defisit ini menjadi yang pertama setelah 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 selalu surplus tanpa putus. Pada April 2026 neraca dagang RI sudah terlihat kedodoran. Masih mencatat surplus namun hanya USD89,1 juta.

Defisit itu dipicu lonjakan impor migas yang memangkas surplus dari ekspor nonmigas. Pada Mei 2026 ekspor migas merosot 31,76 persen (yoy) menjadi USD760 juta. Sementara impor migas melonjak 70,78 persen menjadi USD4,51 miliar, dipicu kenaikan harga minyak dunia.

Karena itu meskipun sektor nonmigas masih mampu mencatat surplus, disumbang komoditas bahan bakar mineral, lemak, minyak hewan dan nabati, serta besi dan baja, nilainya terpangkas untuk menutupi defisit perdagangan migas yang mencapai USD3,76 miliar.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini