Selalu Ada Dua Sisi, Ini Keuntungan Pelemahan Rupiah untuk Sektor Properti
Situasi perekonomian selalu berubah dan bisa dipengaruhi oleh banyak hal. Pelemahan rupiah saat ini misalnya, bukan hanya menghadirkan tantangan bagi pengembang dan investor, tetapi juga memunculkan peluang baru di berbagai sektor properti. Semuanya bisa saling memengaruhi dan khususnya pada era ini adalah teknologi.
Perubahan gaya kerja misalnya, telah mengubah lansekap perkantora dan kawasan bisnis di Indonesia. Bukan hanya itu, perubahan lifestyle masyarakat terkait pola belanja, hangout, hingga preferensi hunian tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi.
Berbagai hal itu telah membentuk wajah baru industri properti khususnya dengan preferensi generasi muda yang menjadi subyek maupun obyeknya. Di tengah berbagai tantangan bisnis yang ada, setiap segmen bisnis properti tetap menyimpan berbagai peluang pertumbuhan yang menarik.
“Pelemahan rupiah tentu memberikan tekanan terhadap sejumlah faktor bisnis properti dan berpotensi meningkatkan biaya konstruksi, memperketat pembiayaan, maupun memengaruhi daya beli konsumen. Tapi di sisi lain kondisi ini bukannya tidak membuka peluang baru yang dapat dioptimalkan oleh para pelaku industri,” ujar Martin Hutapea, Head of Researh & Consultancy Leads Property Service Indonesia kepada housingestate.id beberapa waktu lalu.
Menurut Martin, setiap perubahan yang memberikan dampak luas pada perekonomian dan bisnis properti selalu menghadirkan dua sisi. Memang ada tantangan nyata di setiap situasi perekonomian tapi juga ada peluang untuk pengembang maupun investor yang bisa beradaptasi dengan tren pasar.
Leads Property mencatat kalau sektor properti masih bergerak secara positif khususnya dengan sektor perkantoran di Jakarta yang menunjukkan tren pemulihan bertahap. Hingga kuartal kedua 2025, total pasokan perkantoran sekitar 11,7 juta m2 dengan tingkat okupansi 75,3 persen.
Baca juga: Membaca Tren Sektor Properti di Tengah Dinamika Perekonomian-dan Politik
Di sektor perkantoran, ada tren flight-to-quality atau perpindahan penyewa ke gedung yang berkualitas lebih baik dan itu masih menjadi pendorong utama permintaan. Sektor industri tetap menjadi salah satu segmen yang paling resilien dengan penyerapan lahan industri didominasi kawasan Bekasi dan Karawang untuk segmen data center, elektronik, logistik, serta berkembangnya ekosistem kendaraan listrik (EV).
Untuk sektor retail, akktivitas tenant masih relatif stabil dengan katogori F&B masih sebagai pendorong utama permintaan. Ekspansi berbagai brand khususnya dari China juga masih terus berlanjut. Sementara untuk sektor residensial, rumah tapak masih menjadi primadona dengan permintaan terbesar dari area Tangerang untuk segmen harga Rp500 juta hingga Rp2 miliar. Tingkat penjualan segmen ini juga relatif baik mencapai 93,8 persen yang menjadikannya sektor dengan performa terkuat saat ini.
Untuk pelemahan rupiah, Martin menyebut situasi itu bisa meningkatkan biaya konstruksi karena banyak material maupun komponen konstruksi yang masih bergantung pada produk impor. Situasi ini membuat kalangan pengembang melakukan berbagai penyesuaian.
“Salah satu dampaknya untuk sektor ini adalah muculnya tren down-spec atau penyesuaian spesifikasi bangunan supaya harga masih sesuai dengan kemampuan pasar. Selain itu peluncuran proyek baru juga masih akan selektif karena pengembang harus mempertimbangkan daya beli yang sesuai kemampuan pasar,” bebernya.
Namun kondisi ini juga membuka peluang baru yang menarik. Menurut Martin, produk siap huni (ready stock) dan pasar sekunder menjadi lebih diuntungkan. Konsumen akan cenderung memilih rumah atau unit apartemen yang telah siap huni dengan harga lama dibandingkan menunggu proyek baru yang berpotensi mengalami kenaikan harga.
Baca juga: Opini: BI Rate 5,5 Persen, Dampaknya Ke Pasar Properti-KPR
Perubahan perilaku konsumen untuk segmen residensial juga kian terlihat jelas. Masyarakat semakin mempertimbangkan biaya transportasi untuk efisiensi mobilitas kesehariannya. Karena itu hunian yang dekat atau terintegrasi dengan sarana transportasi (TOD) akan semakin diminati. Sebaliknya, produk yang jauh dari akses transportasi publik berpotensi menghadapi tantangan penyerapan yang lebih besar.
Pengembang juga akan terus meningkatkan kerja sama strategis dengan skela joint venture (JO) maupun kerja sama operasi (KSO) khususnya dengan investor asing. Tren pengembangan akan terus bergeser dari towhship berskala besar ke proyek townhouse yang ekslusif maupun klaster yang lebih kompak, efisien, dan sesuai dengan kemampuan pasar saat ini.
“Ke depan, pasar akan semakin mencari produk yang lebih efisien baik dari sisi harga, lokasi, maupun biaya operasionalnya. Karena itu rumah hemat energi dan pengembangan yang lebih kompak berpotensi menjadi pilihan utama,” tandasnya.