Kamis, Juni 25, 2026
HomeNewsEkonomiLangkah BI Jaga Stabilitas Diapresiasi Kadin, Optimistis Ekonomi Tetap Tumbuh

Langkah BI Jaga Stabilitas Diapresiasi Kadin, Optimistis Ekonomi Tetap Tumbuh

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyambut baik berbagai langkah Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurut Anin sapaan akrabnya, komunikasi yang erat antara regulator dan dunia usaha menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi global.

“Kami optimistis bisa melewati situasi ini dan tanda-tanda perbaikan juga sudah mulai terlihat. Kenaikan suku bunga yang dilakukan BI memang ditujukan untuk menjaga stabilitas dan kami mengapresiasi langkah tersebut,” ujarnya dalam Forum Diskusi Terkait Perkembangan Ekonomi dan Bauran Kebijakan Bank Indonesia Terkini di Jakarta, sebagaimana dikutip melalui siaran pers yang diterbitkan Kamis (25/6).

Untuk itu Kadin siap bersinergi dengan BI hingga tingkat daerah. Sebagai organisasi yang menaungi seluruh dunia usaha Indonesia melalui jaringan Kadin di 514 kabupaten/kota serta berbagai asosiasi bisnis, Kadin siap mendukung agenda pemerintah dalam meningkatkan investasi, ekspor, hilirisasi, dan penguatan UMKM.

Menurut Anin, dunia usaha saat ini terus berupaya meningkatkan ekspor guna memperbesar surplus perdagangan dan menambah pasokan devisa. Di sisi lain, Kadin juga mendorong masuknya investasi asing langsung (Free Trade Agreement/FDI) untuk memperkuat kapasitas industri nasional.

“Kami melihat optimisme tetap ada. Tantangan memang besar tetapi peluang juga terbuka lebar. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, BI, perbankan, dan dunia usaha, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam kesempatan tersebut juga kembali menegaskan komitmen BI untuk bekerja total menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, BI memastikan seluruh instrumen kebijakan akan diarahkan untuk menjaga nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, memperkuat sistem keuangan, serta mendukung ekspansi dunia usaha.

“Kami ingin setelah pertemuan ini selesai, kita semua keluar dari ruangan ini dengan optimisme bahwa ekonomi Indonesia akan terus bertumbuh, rupiah menguat, inflasi terkendali, dan kredit terus meningkat. BI akan mengerahkan seluruh kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mendukung agenda pertumbuhan berbagai program pemerintah,” katanya.

Baca juga: MBG, Koperasi Merah Putih, Hingga Tarif Amerika dalam Catatan Kadin Indonesia

Berbagai kebijakan yang dikeluarkan juga untuk menyampaikan pesan kalau semua pihak tetap optimistis, BI akan all out menjaga stabilitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah hingga Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Selama ini BI selalu selalu mengedepankan pendekatan pro-bisnis, bukan hanya kepada industri keuangan dan perbankan tetapi juga kepada sektor riil. Dengan dukungan 46 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh Indonesia, BI siap memperkuat sinergi dengan Kadin hingga ke daerah untuk menggerakkan investasi, ekspor, industri pengolahan, dan UMKM.

BI juga mendukung penuh berbagai program prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi industri, penguatan investasi, pengembangan UMKM, dan ekonomi kerakyatan. Namun di saat yang sama, BI harus memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga agar berbagai capaian pembangunan tidak terganggu oleh gejolak global.

“Kami mendukung penuh garis kebijakan Bapak Presiden. Saat terjadi tekanan eksternal dan gejolak pasar keuangan, tugas BI adalah memastikan stabilitas tetap terjaga agar kemajuan ekonomi yang telah dicapai tidak tergerus,” bebernya.

Terkait ketidakpastian global, Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan, perekonomian dunia masih menghadapi ketidakpastian tinggi meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada medio Juni 2026.

Gangguan logistik global, ketegangan geopolitik, serta masih tingginya harga sejumlah komoditas strategis diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi dunia. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi sekitar 3 persen pada 2026 dari 3,4 persen pada tahun sebelumnya sementara inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,4 persen.

“Kondisi tersebut mendorong bank sentral negara maju mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sikap hawkish bank sentral utama dunia khususnya Federal Reserve, menyebabkan penguatan dolar AS dan mendorong perpindahan modal dari negara berkembang ke negara maju. Tekanan eksternal tersebut menjadi tantangan bagi seluruh emerging markets, termasuk Indonesia,” jelas Firman.

Baca juga: Kadin Optimistis Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen

Meski demikian, Firman menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Konsumsi rumah tangga masih terjaga, stimulus fiskal pemerintah berjalan, tingkat keyakinan dunia usaha tetap berada pada zona ekspansi, dan investasi terus meningkat. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran 4,9-5,7 persen.

Untuk meredam tekanan eksternal, BI telah memperkuat bauran kebijakan moneter sejak Mei 2026. Setelah menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin pada Mei dan 25 basis poin secara tidak terjadwal pada 9 Juni, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur Juni menjadi 5,75 persen.

Selain itu, BI memperkuat intervensi di pasar valas, menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memperluas operasi moneter, serta memberikan berbagai insentif guna menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

“Kebijakan yang kami tempuh mulai menunjukkan hasil positif. Aliran modal asing ke SRBI dan Surat Berharga Negara mulai meningkat, rupiah menguat, dan cadangan devisa tetap kuat, inflasi juga masih terkendali. Pada Mei 2026 inflasi tercatat 3,08 persen secara tahunan, masih berada dalam kisaran sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen,” imbuhnya.

Di sisi pertumbuhan ekonomi, BI tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif. Pertumbuhan kredit perbankan hingga Mei 2026 tercatat sekitar 11,5 persen secara tahunan, didorong oleh pembiayaan investasi dan program-program produktif pemerintah.

Untuk mempercepat intermediasi perbankan, BI terus memperbesar insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang hingga Juni 2026 telah mencapai sekitar Rp418 triliun. Insentif tersebut diberikan kepada bank yang menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas seperti hilirisasi, UMKM, ketahanan pangan, perumahan, dan ekonomi hijau.

Berita Terkait

Ekonomi

Kemenperin Bantah 2 Perusahaan Komponen Otomotif Jepang Mau Hengkang dari Indonesia

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membantah isu yang dilontarkan Presiden Konfederasi...

Opini: Nasib Konsumen Saat Listrik, BBM, Dolar Naik

Oleh: Sara Adiza Nursyahbani, Humas dan Pengembangan Bisnis Yayasan...

Pemerintah China Restui Penjualan Obligasi RI Panda Bond di China

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengamankan dukungan kuat...

Berita Terkini