Jumat, Juni 19, 2026
HomeMoneterBI Rate Naik, Puluhan Triliun Dana Asing Mengalir Masuk

BI Rate Naik, Puluhan Triliun Dana Asing Mengalir Masuk

Bank Indonesia (BI) mencatat, modal asing mengalir masuk (net inflows) lebih dari Rp60 triliun ke pasar keuangan domestik hingga 17 Juni 2026, menyusul kenaikan suku bunga acuan BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir menjadi 5,75 persen.

Hal itu diungkapkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2026).

Destry menyatakan, sebanyak Rp4,9 triliun dari modal asing itu masuk (membeli) ke Surat Berharga Negara (SBN) terbitan pemerintah RI, dan Rp55,3 triliun ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Menurut Destry, kenaikan BI Rate telah mendorong kenaikan imbal hasil atau yield instrumen keuangan RI seperti SBN dan SRBI.

SRBI tenor 12 bulan misalnya, sekarang sekitar 7,5 persen, dan yield SBN 7,02 persen. “Kenaikan BI Rate (secara agresif) itu memang tujuan untuk menarik aliran masuk valas (modal asing) ke Indonesia,” kata Destry.

Hal itu, lanjutnya, menjelaskan penguatan rupiah seminggu terakhir hingga mendekati Rp17.600 dari sebelumnya sempat mencapai lebih dari Rp18.000 per dolar AS (USD).

Baca juga: Belum 10 Hari, BI Naikkan Lagi BI Rate Jadi 5,75 Persen. Demi Rupiah

Pada akhir perdagangan Jumat (19/6/2026), rupiah memang kembali tertekan 10 poin ke level Rp17.804 per USD. Namun, secara keseluruhan nilai tukar rupiah tetap menguat drastis dalam dua minggu terakhir menyusul kenaikan BI Rate.

BI akan terus mempertahankan berbagai kebijakan untuk mendorong aliran masuk modal asing lebih banyak. Salah satunya dengan memperketat pengawasan transaksi pembelian dolar AS oleh perbankan, yang kini wajib menggunakan underlying untuk pembelian di atas USD10.000.

Sementara untuk pembelian valas secara tunai tanpa underlying (agunan), kini dibatasi maksimal USD10.000 dari sebelumnya USD25.000 per pelaku per bulan.

Kebijakan BI itu berlaku efektif mulai 1 Juli 2026. Angka maksimal USD25.000 itu, sudah turun 50 persen dari aturan BI sebelumnya sebesar maksimal USD50.000.

Mengutip Bloomberg dua hari lalu, kenaikan BI Rate memang memicu aksi beli SBN oleh investor asing. Karena ramainya aksi beli itu, yield Surat Utang Negara (SUN) yang semula dinaikkan, bergerak turun.

Penurunan paling tajam terjadi pada SUN dengan tenor 10 tahun sebesar 53 basis poin (bps) atau kembali ke level 6,88 persen. Diikuti tenor yang lebih pendek (2-5 tahun) dengan penurunan yield antara 3,5 sampai 39,4 bps.

Baca juga: Dorong Aliran Masuk Modal Asing dan Stabilkan Rupiah, BI Naikkan Lagi BI Rate

Meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, makin mendorong aksi beli obligasi pemerintah itu oleh asing tersebut, karena kesepakatan damai itu langsung membuat harga minyak dunia merosot sekaligus memperbaiki risk appetite investor global terhadap aset keuangan di negara berkembang.

Aksi beli itu juga mewarnai pasar obligasi pemerintah RI berdenominasi USD, INDON, meski penurunan yield-nya lebih tipis. INDON 2 tahun misalnya, turun 0,3 bps ke 4,13 persen, INDON 5 tahun turun 1,1 bps ke 4,77 persen, dan INDON7 tahun stagnan di 5,03 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Presiden Minta Bank-Bank Milik Negara Jangan Cuma Cari Untung

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan jajaran komisaris dan...

Presiden Perintah Menteri Rosan: Sampaikan Kepada Publik Senin Besok Kondisi Investasi RI Sesuai Fakta

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM...

Mei Masyarakat Banyak Belanja dan Kuras Tabungan, Cicilan Utang Meningkat

Pada Mei 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai...

Berita Terkini