Triwulan I 2026 INPP Berbalik Raih Laba Bersih Rp44 Miliar
PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Indonesia) meraih pendapatan Rp326,9 miliar pada triwulan pertama (Q1) 2026. Meningkat 14 persen dibandingkan triwulan I 2025 yang tercatat sebesar Rp286 miliar.
Demikian terungkap dari konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan Paparan Publik Tahun 2026 INPP di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Paparan publik disampaikan Presiden Komisaris INPP Anthony Prabowo Susilo (sebelumnya presiden direktur), Presiden Direktur Andri Hadi (pejabat baru yang menggantikan Anthony), dan Wakil Presiden Direktur Surina (sebelumnya direktur keuangan), didampingi Corporate Secretary/Chief Legal Yanti Makmur. Secara keseluruhan setelah RUPST 2026, pengurus INPP terdiri dari 7 komisaris dan 5 direksi.
Menurut Surina, sebanyak 48 persen (Rp157 miliar) dari pendapatan Q1 2026 itu, diperoleh dari segmen perhotelan (hospitality), 42 persen (Rp136 miliar) dari segmen komersial (pusat belanja dan ritel), dan 10 persen (Rp34 miliar) dari segmen penjualan property (apartemen).
“Dengan demikian, sekitar 90 persen pendapatan perseroan pada triwulan satu tahun ini, berasal dari recurring income (pendapatan berulang atau hasil sewa dan jasa manajemen properti),” katanya.
Kendati demikian, segmen penjualan properti mencatat kenaikan pendapatan tertinggi, mencapai 38 persen, menyusul serah terima unit apartemen di Antarasi Place, Jakarta Selatan. Diikuti segmen komersial yang naik 19 persen dan hospitality 4 persen.
Baca juga: Kinerja INPP Konsisten Tumbuh, Jamin Pertumbuhan Jangka Panjang
Dari pendapatan itu, INPP meraih laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Rp101 miliar, meningkat 20 persen dibanding Q1 2025 sebesar Rp84 miliar. Sementara laba bersih meroket menjadi Rp44 miliar dibanding rugi bersih Rp133 miliar pada Q1 2025.
“Kinerja Q1 2026 berbalik positif menjadi laba bersih, didorong oleh kuatnya pertumbuhan bisnis utama INPP di segmen komersial, hospitality, dan property sales,” ungkap Surina.
Sedangkan rugi bersih pada Q1 2025, disebutnya karena faktor pencatatan akuntansi non-recurring dan penyesuaian investasi DIRE. “Jadi, laba bersih pada Q1 2026 murni karena kinerja operasional perseroan yang organik dan tetap solid,” jelasnya.
Kinerja 2025
Secara keselurahan sepanjang 2025, mengutip laporan keuangan resminya yang dipublikasikan Bursa Efek, INPP mencatat rugi bersih Rp98,6 miliar, berbalik dari laba Rp334,9 miliar pada 2024.
Pendapatan perseroan masih tumbuh tinggi 32,9 persen menjadi Rp1,7 triliun, dengan penyumbang utama segmen hospitality senilai Rp627,4 miliar atau naik 8,1 persen.
Disusul segmen komersial Rp542,5 miliar atau naik 14,1% persen, penjualan properti Rp527,4 miliar atau meroket 127,3 persen menyusul handover 80-90 persen unit apartemen di Antasari Place, serta manajemen properti dan lainnya yang melonjak 101,2 persen menjadi Rp43,3 miliar.
Namun, pada saat bersamaan beban pokok pendapatan (seperti beban umum dan administrasi, beban penjualan dan pemasaran, hingga beban pajak dan beban penurunan nilai atas goodwill), juga membengkak 65,1 persen menjadi Rp742,99 miliar.
Selain itu, INPP juga mencetak kerugian dari investasi pada entitas asosiasi PT Plaza Indonesia Mandiri (PIM) dan PT Java Paradise Island (JPI), hingga Rp33,1 miliar.
Baca juga: 2025 Paradise Indonesia Bukukan Kenaikan Pendapatan 125 Persen, Disumbang Penjualan Apartemen
Sementara dari sisi neraca, total aset INPP 2025 meningkat 4,8 persen menjadi Rp10,2 triliun, berkat ekuitas yang naik 7 persen menjadi Rp6,7 triliun dan total liabilitas yang hanya naik tipis 0,6 persen menjadi Rp3,44 triliun.
Sedangkan kas dan setara kas pada akhir 2025 melesat 113,2 persen menjadi Rp771,4 miliar, didorong penerbitan obligasi Rp500 miliar dan pelepasan sebagian kepemilikan saham anak usaha senilai Rp664,6 miliar.
Menurut Surina, rugi 2025 bukan karena pelemahan kinerja operasioanl, melainkan karena pencatatan akuntansi non-kas, seperti penyesuaian nilai investasi dan aset, serta tidak berulangnya keuntungan satu kali (one-off) dari proyek Antasari Place. “EBITDA 2025 tetap bertumbuh, yang mencerminkan operasional perseroan tetap solid dan berkelanjutan,” ujarnya.
Anthony menyampaikan, ke depan INPP tetap akan fokus pada penguatan recurring income yang ditargetkan pada kisaran 70 persenan sepanjang tahun ini.
Baca juga: Paradise Indonesia Berkembang Tanpa Lahan Besar
Pencapaian target akan dilakukan melalui penyelesaian 23 Semarang Shopping Center pada triwulan dua tahun ini, pengembangan proyek mixed use 88 Plaza Balikpapan, pengembangan Antasari Place tower kedua, dan intensifikasi (peningkatan kapasitas dan kualitas) proyek-proyek yang sudah lama beroperasi.
“Strategi yang tetap fokus pada recurring income, diharapkan bisa mendorong stabilitas arus kas perusahaan, sekaligus memperkuat pendapatan di tengah dinamika industri properti serta situasi ekonomi dan bisnis mikro-makro,” terangnya.
Ia menambahkan, Paradise Indonesia bukan sekadar mengembangkan properti, tapi menghadirkan proyek berkelanjutan untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang, melalui ekspansi yang terukur dan menjaga stabilitas finansial perseroan tetap solid.
Saat ini INPP mengelola 13 hotel ditambah 2 serviced apartment, 6 mal di Jakarta, Bandung, Bali, dan Semarang, serta 6 properti lainnya seperti apartemen dan ruko di Batam, Bali, Makassar, Jakarta, dan Balikpapan.