Rupiah Terus Melemah, Warga RI Kian Getol Timbun Dolar, Deposito Valas Melesat
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlangsung selama beberapa bulan terakhir, membuat warga Indonesia pemilik uang makin banyak menimbun valuta asing (valas). Hal itu tercermin dari lonjakan simpanan valas dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan uang beredar Bank Indonesia (BI) yang dirilis pekan lalu menyebutkan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat oleh perbankan pada Juni 2026 mencapai Rp9.718,8 triliun. Tumbuh 8,1 persen secara tahunan (yoy), lebih rendah dibanding Mei 2026 sebesar 10,8 persen (yoy).
Penurunan DPK itu dipengaruhi pertumbuhan giro dan tabungan sebesar 10,2 persen (yoy) dan 8,2 persen (yoy), menurun dibanding Mei 2026 yang tumbuh 20,4 persen (yoy) dan 10,2 persen (yoy). Penurunan terjadi baik pada giro dan tabungan korporasi maupun perorangan.
Sementara simpanan berjangka atau deposito meningkat 6,3 persen (yoy) pada Juni 2026, atau hampir dua kali lipat dari pertumbuhan Mei 2026 yang 3,5 persen (yoy).
Baca juga: BI Rate Naik, Tapi Likuiditas Tetap Longgar untuk Dorong Penyaluran Kredit
Penyumbang utama pertumbuhan adalah deposito korporasi dan lainnya (pemda, koperasi, yayasan dan swasta lainnya) yang tumbuh 11,5 persen dan 40,4 persen, sedangkan deposito perorangan masih tumbuh minus atau terkontraksi 3,4 persen.
Dalam mata uang, pertumbuhan DPK dalam rupiah makin menurun dari 9,6 persen (yoy) pada Mei 2026 menjadi 6,3 persen (yoy) pada Juni 2026. Dipengaruhi penurunan giro dan tabungan rupiah, sedangkan deposito rupiah masih naik 1,9 persen (yoy) dari Mei 2026 yang hanya 0,4 persen (yoy).
Begitu pula giro dan tabungan valas, menurun pertumbuhannya pada Juni 2026, namun tetap tinggi terutama pada tabungan valas yang Juni 2026 tumbuh 27,5 persen (yoy) dibanding 29,9 persen (yoy) pada Mei 2026. Sedangkan giro valas tumbuh menurun dari 10,2 persen (yoy) pada Mei 2026 menjadi 6 persen (yoy) pada Juni 2026.
Sebaliknya deposito valas kian melesat, dari 8,6 persen (yoy) pada April 2026, kemudian 27,9 persen (yoy) pada Mei 2026, dan 42 persen (yoy) pada Juni 2026. Kalau pada Mei 2026 nilai deposito valas mencapai Rp451 triliun, pada Juni meningkat menjadi Rp494,3 triliun atau hampir Rp500 triliun.
Secara keseluruhan pertumbuhan simpanan masyarakat dalam valas meningkat dari 17,8 persen (yoy) pada Mei 2026 menjadi 18,5 persen (yoy) pada Juni, jauh di atas pertumbuhan DPK atau simpanan masyarakat dalam rupiah yang justru menurun dari 9,6 persen (Mei 2026) menjadi 6,3 persen (Juni) seperti sudah disinggung di atas.