Buka Peluang Kerja Sama di Berbagai Aset Propertinya, KAI Rilis Space by KAI
PT Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan platform Space by KAI di Jakarta, Rabu (10/6/2926). Platform digital resmi ini dirancang memberikan akses informasi yang lebih mudah, terbuka, dan informatif, terkait aset-aset strategis KAI di seluruh Indonesia yang bisa dikembangkan bersama pihak eksternal (pelaku usaha dan investor). Peluncuran Space by KAI menjadi bagian dari transformasi KAI dalam pengelolaan aset-aset perusahaan.
Mengutip keterangan KAI, Jumat (12/6/2026), KAI memiliki berbagai aset strategis di titik-titik bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari stasiun, kawasan transit, lahan strategis, ruang komersial, bangunan, hingga berbagai area usaha yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Melalui Space by KAI, KAI menghadirkan cara baru untuk mempertemukan aset-aset tersebut dengan kebutuhan dunia usaha, melalui satu platform digital yang terintegrasi.
Space by KAI dikembangkan untuk menjawab kebutuhan akan akses informasi aset KAI yang lebih modern, transparan, cepat, dan efisien.
Platform ini juga menjawab kebutuhan pelaku usaha akan akses awal yang lebih jelas dalam menjajaki peluang bisnis di lingkungan KAI. Kini, calon mitra dapat memperoleh informasi aset secara lebih terpusat, dan memahami peluang kerja sama yang tersedia melalui satu kanal resmi.
Baca juga: Di Atas Lahan KAI di Tenabang, Astra Bangun 1.000 Unit Apartemen Murah
Direktur Bisnis dan Pengembangan Usaha KAI Rafli Yandra menyatakan, peluncuran Space by KAI merupakan bagian dari transformasi perusahaan dalam membuka akses yang lebih luas terhadap peluang kemitraan bisnis.
“Space by KAI kami hadirkan sebagai platform resmi yang menghubungkan aset strategis KAI dengan peluang bisnis secara lebih terbuka, profesional, dan mudah diakses. Kami ingin mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan potensi aset yang tersebar di berbagai wilayah, sehingga kolaborasi dapat dimulai melalui proses yang lebih jelas dan terarah,” katanya.
KAI memiliki aset tanah di berbagai wilayah operasional di Pulau Jawa dan Sumatra seluas total 327,8 juta meter persegi (m2). Seluas 189,6 juta m2 di wilayah daerah operasi dan 138,2 juta m2 di wilayah divisi regional.
Selain itu, KAI juga mengelola 3.881 bangunan dinas dan 16.463 rumah perusahaan, yang menjadi bagian dari portofolio aset strategis perusahaan. Portofolio tersebut mencakup berbagai segmen bisnis, mulai dari area komersial stasiun, Right of Way (ROW), aset non-ROW, advertising, sarana dan fasilitas, hingga kawasan wisata dan museum.
Space by KAI menyediakan akses terpusat terhadap berbagai peluang pemanfaatan aset-aset KAI tersebut. Platform dilengkapi informasi aset yang lebih mudah dipahami, fitur pencarian yang lebih praktis, serta jalur komunikasi langsung yang memudahkan calon mitra untuk memulai proses penjajakan kerja sama.
Executive Vice President of Sales KAI Zuhril Alim menjelaskan, Space by KAI dirancang membantu pelaku usaha menemukan peluang bisnis yang sesuai dengan kebutuhan dan strategi pengembangan usaha masing-masing.
“Melalui Space by KAI, pelaku usaha dapat lebih mudah mengidentifikasi aset yang sesuai dengan kebutuhan bisnisnya. Mulai dari retail, F&B, advertising, activation, pengembangan kawasan, hingga berbagai bentuk kemitraan jangka panjang,” jelasnya.
Baca juga: Al Qilaa Qatar Akan Memulai Proyek 1 Juta Rumah di Lahan KAI di Ancol
Alim menjelaskan, peluncuran Space by KAI dilakukan di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat perkotaan yang terus berkembang. Saat ini lebih dari 150 juta penduduk Indonesia tinggal di kawasan urban, menjadikan transportasi publik sebagai bagian penting dari aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut menciptakan titik-titik interaksi yang bernilai tinggi bagi berbagai aktivitas bisnis dan komersial.
Menurutnya, ekosistem KAI menawarkan karakteristik pasar yang unik. Pengguna transportasi rel menghabiskan sekitar 40 hingga 90 menit per hari dalam perjalanan. Menciptakan ruang engagement yang berlangsung lebih lama dan berulang setiap hari.
Situasi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha untuk membangun kedekatan dengan pelanggan melalui berbagai aktivitas bisnis, promosi, maupun kolaborasi merek.
Selain area komersial stasiun, pelaku usaha juga dapat menjajaki peluang pemanfaatan aset Right of Way (ROW), advertising, naming rights stasiun, pengembangan kawasan berbasis transit, pemanfaatan aset non-ROW, hingga berbagai bentuk kemitraan jangka panjang yang terintegrasi dengan jaringan transportasi KAI.
Space by KAI juga menampilkan berbagai peluang pengembangan kawasan di sekitar stasiun yang dapat dikembangkan bersama mitra strategis.
Saat ini KAI telah bekerja sama dengan lebih dari 99 mitra dari berbagai industri. Mulai dari sektor perbankan, ritel, F&B, teknologi, energi, hingga properti. Kolaborasi tersebut menunjukkan besarnya potensi pengembangan bisnis yang dapat tumbuh di dalam ekosistem KAI.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menambahkan, daya tarik utama ekosistem KAI bagi dunia usaha terletak pada besarnya mobilitas masyarakat yang terjadi setiap hari di berbagai layanan transportasi berbasis rel yang dikelola KAI Group.
Sepanjang Januari-Maret 2026, KAI Group melayani 128.055.072 pelanggan, meningkat 9,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebanyak 116.451.006 pelanggan. Angka tersebut setara rata-rata lebih dari 1,4 juta pelanggan per hari yang beraktivitas di dalam ekosistem transportasi KAI Group.
“KAI Group melayani lebih dari 128 juta pelanggan hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan besarnya aktivitas masyarakat yang berlangsung setiap hari di dalam ekosistem perkeretaapian. Mobilitas tersebut menciptakan ruang interaksi yang sangat besar bagi berbagai bisnis,” ujar Anne.
Baca juga: Potensi Pengembangan Rusun di Lahan KAI Jabodetabek Mencapai 131.000 Unit
Layanan Commuter Line menjadi tulang punggung mobilitas harian masyarakat urban, dengan volume 101.382.889 pelanggan pada Triwulan I 2026.
Sementara layanan KA Jarak Jauh dan Lokal melayani 14.515.350 pelanggan, LRT Jabodebek 7.754.946 pelanggan, layanan KAI Bandara 1.755.275 pelanggan, LRT Sumsel 1.084.242 pelanggan, Whoosh 1.408.815 pelanggan, KA Makassar–Parepare 75.421 pelanggan, dan KAI Wisata 78.134 pelanggan.
Menurut Anne, tingginya volume pelanggan tersebut menunjukkan bahwa stasiun, kawasan transit, dan berbagai aset KAI berada di titik-titik yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
KAI juga mengelola lebih dari 330 stasiun yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra, serta berada di berbagai pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan pendidikan, pusat bisnis, kawasan permukiman, dan destinasi wisata.