Penyaluran KPR Masih Terus Menurun
Laporan uang beredar yang dilansir Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengungkapkan, penyaluran kredit properti kembali menurun pada Februari 2026 menjadi 13,7 persen (yoy) menjadi Rp1.615,2 triliun.
Selama 3 bulan sebelumnya kredit properti terus meninggi. Yaitu, 14,1 persen (yoy) pada Januari 2026, 13,1 persen (yoy) per Desember 2025 dan 7,5 persen (yoy) pada November 2025.
Penurunan kredit properti itu terutama dipengaruhi oleh penyaluran KPR/KPA yang terus menurun. Pada Februari 2026 hanya tumbuh 5 persen (yoy) menjadi Rp840,8 triliun, menurun dibanding Januari 2026 sebesar 5,5 persen (yoy), dan Desember 2025 sebesar 6,8 persen (yoy), dan 6,9 persen (yoy) pada November 2025.
Juga menurun tipis pada Februari 2026 pertumbuhan kredit konstruksi menjadi 33,6 persen (Rp516,2 triliun) dari Januari 2026 sebesar 34,4 persen, Desember 2025 sebesar 28,2 persen (yoy) dan 8,1 persen (yoy) per November 2025.
Lompatan tinggi penyaluran kredit konstruksi sejak November 2025, ditengarai dipicu upaya developer mempercepat penyelesaian proyek tahun ini, sehingga penjualannya bisa mendapatkan insentif PPN DTP sebelum tutup tahun.
Baca juga: Kredit Properti Tumbuh Kian Tinggi, Disumbang Kredit Konstruksi, KPR Makin Melempem
Sedangkan kredit real estate masih melanjutkan kenaikan pertumbuhan sebesar 10,6 persen (yoy) menjadi Rp258,1 triliun pada Februari 2026, dibanding 10,1 persen (yoy) per Januari 2026, 8,6 persen pada Desember 2025 dan 8,2 persen November 2025, yang mengindikasikan developer sedang mempersiapkan pengembangan proyek baru.
Secara umum BI melaporkan, penyaluran kredit pada Februari 2026 melemah, hanya tumbuh 8,9 persen (yoy) dibanding 10,2 persen (yoy) pada Januari 2026 dan 9,63 persen (yoy) pada Desember 2025. Semua jenis kredit menurun. Kredit modal kerja (KMK) hanya tumbuh 3,7 persen (yoy) dibanding 4,7 persen (yoy) pada Januari 2026, kredit investasi 20 persen (yoy) dari 22 persen (yoy), dan kredit konsumsi 6,3 persen (yoy) dari 7,2 persen.
Untuk kredit konsumsi, penyumbang utama penurunan adalah kredit kendaraan bermotor yang terkontraksi (minus) 7,9 persen (yoy) dibanding minus 6,7 persen pada Januari 2026, diikuti kredit multiguna dari 9,9 persen (yoy) menjadi 8,7 persen (yoy), dan KPR/KPA seperti sudah diuraikan di atas.
Baca juga: Daya Beli Lemah, Rata-Rata Nilai Plafon KPR Selama 2025 Melorot
Kredit di sini hanya dalam bentuk pinjaman (loans), tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman seperti surat berharga, tagihan akseptasi, dan tagihan repo. Kredit di sini juga tidak termasuk kredit yang diberikan kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.