APBN dan Ekonomi Kuat, Menkeu Bidik Pertumbuhan 5,7 Persen pada Triwulan II
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali menegaskan, kondisi ekonomi serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kuat di tengah dinamika global. Ia menyampaikan hal itu dalam media briefing di Jakarta, akhir pekan ini (24/4/2026).
Menurut Purbaya, pengelolaan fiskal yang disiplin dan reformasi kebijakan yang dilakukan sebelum terjadinya perang di Timur Tengah yang menciptakan tekanan global lebih lanjut, menjadi kunci utama ketahanan ekonomi Indonesia saat ini. Berbagai lembaga internasional dan investor, kini tidak lagi mempertanyakan fundamental fiskal Indonesia termasuk defisitnya, mencerminkan kredibilitas kebijakan fiskal yang terjaga.
“Saya ingin menegaskan lagi, kondisi APBN kita baik, malah orang-orang sana (berbagai lembaga dan investor global) pada kagum tuh (terhadap ekonomi Indonesia),” kata Menkeu melalui keterangan dikutip Sabtu (25/4/2026).
Purbaya memastikan, kas negara tetap aman dan dikelola secara optimal. Pemerintah melakukan strategi pengelolaan kas yang proaktif, antara lain dengan menempatkan dana di perbankan untuk meningkatkan likuiditas di pasar dan mendorong aktivitas ekonomi tanpa menambah beban anggaran.
“Cash management kita sudah baik. Yang Rp300 triliun kita masukin ke perbankan supaya ada tambahan likuiditas, supaya ekonomi bisa berjalan. Jadi nggak usah takut dengan APBN, pemerintah masih cukup (punya uang), uang kita masih banyak,” ujar Menkeu.
Baca juga: Kendati Ada Tekanan Global, BI Bilang Triwulan Satu Pertumbuhan Ekonomi RI Meningkat
Menteri Purbaya menjelaskan, pemerintah juga fokus melakukan reformasi struktural, mulai dari perbaikan sistem perpajakan, bea cukai, hingga efisiensi belanja.
Kebijakan fiskal juga diarahkan untuk menjaga stabilitas dan mendukung sektor riil. Pemerintah memastikan subsidi tepat sasaran, bagi masyarakat yang membutuhkan, sehingga tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan sosial dan kesehatan fiskal.
Dalam menghadapi tekanan global, ia menandaskan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Kontribusi permintaan domestik yang mencapai sekitar 90 persen terhadap perekonomian, menjadi penopang utama pertumbuhan.
“Fondasi ekonomi kita tidak berubah, akan jalan makin cepat, karena kita makin serius perbaiki kendala-kendalanya. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selalu melihat keadaan di masyarakat. Kita akan optimalkan semua kebijakan yang ada, kita dorong supaya berjalan cepat,” tutur Menkeu.
Pemerintah juga terus memonitor perkembangan ekonomi tersebut, dan siap melansir kebijakan stimulus untuk menjaga day abeli masyarakat bila diperlukan, agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
“Tapi, yang utama kita akan memaksimalkan semua program agar perekonomian berjalan dengan baik, bukan menambah stimulus baru,” tukasnya.
Baca juga: Pemerintah Tetap Pede Ekonomi RI Tangguh, Triwulan Satu Bisa Tumbuh 5,5 Persen atau Lebih
Purbaya memperkirakan pada triwulan II pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat. Ia menargetkan pertumbuhannya bisa mencapai 5,7 persen.
Mengandalkan kombinasi dorongan stimulus, percepatan belanja negara yang akan meningkatkan likuiditas di pasar, serta penguatan pembiayaan bagi industri padat karya dan berorientasi ekspor seperti tekstil, produk tekstil dan turunannya.
“Kita akan dorong ke sana (pertumbuhan 5,7 persen). Peluang mencapai target tersebut masih terbuka, karena masih ada waktu hingga akhir Juni,” tuturnya