Rabu, April 22, 2026
HomeNewsEkonomiKendati Ada Tekanan Global, BI Bilang Triwulan Satu Pertumbuhan Ekonomi RI Meningkat

Kendati Ada Tekanan Global, BI Bilang Triwulan Satu Pertumbuhan Ekonomi RI Meningkat

Kendati ada perang antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026 yang menekan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum terganggu. Menurut hasil Rapat Dewan Gubernuyr (RDG) bulanan Bank Indonesia yang dirilis, Rabu (22/4/2026), berbagai indikator terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi RI pada triwulan I 2026 meningkat.

BI tidak memperjelas indikator dan angka peningkatannya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga belum mempublikasikan angka pertumbuhan ekonomi triwulan satu.

Yang jelas BI menyatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi itu ditopang permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga naik, karena keyakinan pelaku ekonomi dan kondisi penghasilan masyarakat tetap terjaga, ditopang kenaikan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri.

Belanja pemerintah meningkat, seiring pemberian THR dan kenaikan belanja sosial serta berbagai insentif lainnya, termasuk transfer ke daerah.

Investasi, khususnya bangunan, juga tetap baik didorong terutama oleh akselerasi investasi terkait berbagai program prioritas pemerintah.

Ke depan, menurut BI, berbagai respons kebijakan harus diperkuat untuk memitigasi dampak perlambatan ekonomi dunia akibat konflik di Timur Tengah, dan mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik. “Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 4,9–5,7 persen,” tulis hasil RDG BI itu.

Baca juga: Pemerintah Tetap Pede Ekonomi RI Tangguh, Triwulan Satu Bisa Tumbuh 5,5 Persen atau Lebih

Terkait aliran modal asing portofolio yang sangat mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, BI menyebut sepanjang Januari-Maret keluar bersih )net outflows USD1,7 miliar. Terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global yang dipicu perang di Timur Tengah.

“Namun, pada awal triwulan II 2026 (hingga 20 April 2026), aliran modal itu kembali mencatat net inflows (masuk bersih) sebesar 1,9 miliar dolar AS. Terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN, karena kenaikan imbal hasil (yield) di kedua instrumen tersebut,” tulis hasil RDG BI.

Posisi SRBI pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan nonresiden (asing) mencapai Rp165,98 triliun (18,75 persen dari total outstanding), sehingga turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sementara posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, setara pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap Rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.

Baca juga: Siap-Siap Menghadapi Pemburukan Ekonomi

Kendati demikian, nilai tukar rupiah tetap melemah terhadap dolar AS (USD), terutama karena faktor ketidakpastian global yang meningkat, ditambah faktor domestik menyangkut kondisi fiskal pemerintah.

Per 21 April 2026 BI mencatat nilai tukar rupiah Rp17.140 per dolar AS, melemah 0,87 persen (ptp) dibandingkan level akhir Maret 2026.

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil surat utang yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” tulis hasil RDG BI tersebut.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Angka Defisit Fiskal adalah Sinyal Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melantik lima pimpinan...

Pemerintah Bilang Triwulan I Kredit Tumbuh Double Digit, Tapi Kredit UMKM Masih Payah

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, pemerintah terus memperkuat peran...

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Berita Terkini