Rabu, April 22, 2026
HomeNewsEkonomiMenkeu: Angka Defisit Fiskal adalah Sinyal Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

Menkeu: Angka Defisit Fiskal adalah Sinyal Kredibilitas Kebijakan Pemerintah

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melantik lima pimpinan tinggi pratama (pejabat eselon II) di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Dalam arahannya, Menkeu menekankan tiga pesan utama yang harus menjadi pegangan para pejabat. Yaitu, menjaga disiplin fiskal, pengelolaan kas negara yang optimal, serta integritas.

Menkeu menyatakan, jabatan yang diemban para pejabat bukan fasilitas, melainkan amanah besar dari negara. Untuk itu, setiap pejabat dituntut menjaga integritas secara teguh dalam menjalankan tugas, terutama di tengah dinamika global yang masih diliputi ketidakpastian.

“Jabatan itu bukan fasilitas, itu amanah. Kita diuji bukan saat kondisi normal, tapi saat tekanan datang,” kata Menkeu dikutip dari keterangan resmi. Nama 5 pejabat yang dilantik tidak disebutkan dalam keterangan Kemenkeu.

Soal integritas menjadi pesan ketiga yang disampaikan Menkeu Purbaya. Pesan pertama yang ditekankannya, adalah menjaga disiplin fiskal maksimal 3 persen PDB.

Menkeu menekankan, defisit anggaran itu bukan sekadar angka, melainkan sinyal kredibilitas kebijakan pemerintah di mata dunia. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen. “Angka defisit itu bukan sekadar target, itu sinyal ke dunia bahwa kita serius dalam menjaga fiskal (anggaran negara),” ujar Menkeu.

Baca juga: Presiden: Pemerintah Berupaya Menjaga Defisit APBN Tidak Bertambah

Pesan kedua, Menkeu menyebut pentingnya pengelolaan kas negara (cash management) yang harus dilakukan secara rapi dan optimal. Menurutnya, arus kas yang dikelola dengan baik, menjadi kunci menjaga kelancaran belanja negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Negara ini hidup dari aliran kas. Kalau Anda kelola dengan benar, kita bisa ngebut. Langkah tersebut memperbaiki fondasi kita secara struktural,” jelas Menkeu.

Pesan ketiga, pentingnya menjaga integritas. Menkeu menegaskan, tidak ada ruang kompromi dalam hal integritas di Kemenkeu. Ia mengingatkan, pelanggaran kecil dapat berdampak sistemik jika dibiarkan.

“Di Kemenkeu tidak ada ruang abu-abu. Benar ya benar, salah ya salah. Kalau mulai kompromi, efeknya bisa berantai dan sulit diperbaiki,” tandasnya Purbaya.

Baca juga: Setiap Kenaikan USD1 pada Harga Minyak, Akan Menambah Defisit APBN Rp6,8 Triliun

Selain ketiga pesan tersebut, Menkeu juga mengingatkan peran Kementerian Keuangan yang tidak hanya sebagai pengelola anggaran, tapi juga penjaga stabilitas ekonomi. APBN berfungsi sebagai shock absorber (peredam kejut) bila terjadi gejolak, sekaligus sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menkeu menambahkan, kepercayaan investor dan masyarakat harus terus dijaga melalui kebijakan yang kredibel dan transparan.

Dengan berpegang pada disiplin fiskal, pengelolaan kas yang baik, dan integritas, Menkeu optimistis Kementerian Keuangan dapat terus menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan nasional di tengah tantangan global.

Berita Terkait

Ekonomi

Pemerintah Bilang Triwulan I Kredit Tumbuh Double Digit, Tapi Kredit UMKM Masih Payah

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan, pemerintah terus memperkuat peran...

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Berita Terkini