Indonesia, bersama kawasan Asia Tenggara (SEA) terus menunjukkan kinerja bisnis properti yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global, dengan pasar investasi real estat di kawasan kembali menguat pada tahun 2025.

Berdasarkan rilis pers yang diterbitkan Cushman & Wakefield mengenai Southeast Asia Outlook 2026, Senin (20/04), total nilai transaksi investasi di Asia Tenggara meningkat 16 persen secara tahunan menjadi 21,8 miliar dollar Amerika, didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, permintaan domestik yang kuat, serta pergeseran dalam alokasi modal.

Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memegang peran penting dalam menopang kinerja kawasan. Dengan populasi sekitar 286 juta jiwa dan PDB sebesar 1,388 triliun dollar, pertumbuhan Indonesia didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, tingkat pengangguran yang stabil, serta peningkatan pendapatan rumah tangga.

Ketergantungan Indonesia yang relatif lebih rendah terhadap ekspor ke Amerika Serikat dibandingkan negara lain di kawasan juga memperkuat posisinya di tengah ketidakpastian perdagangan global.

Di tingkat Kawasan Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi mencapai 4,8 persen pada 2025 dan diproyeksikan berada di kisaran 4,3 persen pada 2026, menjadikannya salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Inflasi yang mulai mereda serta tren penurunan suku bunga turut mendorong aktivitas real estat di kawasan, termasuk di Indonesia.

Baca juga: Aktivitas Bisnis di Asia Tenggara Tetap Kuat Dengan Proyeksi Pertumbuhan 4,8 Persen

Aset industri dan logistik terus menarik minat investor di seluruh Asia Tenggara. Di negara-negara berkembang di kawasan ini, nilai transaksi investasi sektor industri mencapai sekitar 1,3 miliar dollar pada 2025, meningkat sekitar 48 persen secara tahunan.

Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi e-commerce, meningkatnya kebutuhan layanan logistik pihak ketiga, serta semakin kuatnya peran Asia Tenggara sebagai basis manufaktur global. Dalam konteks ini, Indonesia dan Filipina terutama ditopang oleh permintaan domestik yang kuat dapat menjadi keunggulan di tengah dinamika perdagangan global yang berubah.

Indonesia juga mencatat arus masuk investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang kuat, khususnya di sektor manufaktur yang semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu tujuan utama dalam strategi diversifikasi rantai pasok di kawasan. Tren ini diperkirakan akan terus mendorong permintaan terhadap aset industri dan logistik dalam jangka menengah hingga panjang.

Baca juga: Bisnis Properti Asia Tenggara Lampaui Volume Kinerja 10 Tahun

Data center menjadi salah satu tema investasi utama di Asia Tenggara. Meski pasar yang lebih matang masih memimpin, Indonesia tetap merupakan pasar yang relatif mempunyai harapan dan pasar belum terpenuhi dengan potensi pertumbuhan yang besar, didukung oleh percepatan digitalisasi dan urbanisasi.