Menkeu Purbaya: Perbaikan Ekonomi Benar-Benar Terjadi, Lonjakan Penerimaan Pajak Buktinya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kinerja perekonomian Indonesia menunjukkan tren yang makin positif, menyusul meredanya tekanan dinamika global.
Berbagai indikator global menunjukkan, volatilitas ekonomi mulai menurun, sementara aktivitas ekonomi domestik terus menguat.
Salah satu indikator yang mencerminkan perbaikan tersebut adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia, yang kembali memasuki ambang zona ekspansi pada Mei 2026, setelah terkontraksi pada April.
Perbaikan aktivitas ekonomi itu, juga tercermin dari kuatnya permintaan domestik. Indeks belanja masyarakat, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi semen, menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
“Data-data tersebut mengonfirmasi, aktivitas ekonomi terus bergerak positif, domestic demand tetap kuat, daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Menkeu dalam konferensi pers APBN KiTA 2026 edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Purbaya menyebutkan, kinerja positif ekonomi itu juga tercermin dari surplus neraca perdagangan Indonesia yang berlanjut selama 72 bulan berturut-turut.
Sementara arus modal asing kembali mencatatkan inflow (masuk bersih) pada triwulan II 2026, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional. Inflasi hingga Mei 2026 tercatat 3,08 persen (yoy), masih dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia.
Baca juga: Mei Belanja Negara Tetap Ngebut, Tapi Defisit Terjaga, Keseimbangan Primer Surplus Lagi, APBN Aman
Terjaganya domestic demand dan daya beli masyarakat itu, tergambar dari realisasi penerimaan pajak hingga Mei 2026 yang tumbuh 22,1 persen (yoy). Jauh membaik dibandingkan Mei 2025 yang mencatat kontraksi (minus) 11,3 persen (yoy).
“Jadi, ada perbaikan signifikan dalam penerimaan pajak (pada Mei 2026). Tahun lalu full year pertumbuhan pajaknya negatif, sekarang positif,” ujar Purbaya.
Karena perkembangan positif penerimaan pajak itu, ia menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak tahun ini bisa mencapai lebih dari 20 persen.
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak hingga Mei 2026 mencapai Rp834,4 triliun atau 35,4 persen dari target APBN 2026. Tumbuh 22,1 persen dibandingkan Mei 2025 sebesar Rp683,3 triliun.
Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan mencapai Rp167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen secara tahunan (yoy), PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 mencapai Rp123,1 triliun atau naik 26 persen (yoy), PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 sebesar Rp138,7 triliun atau tumbuh 5,2 persen (yoy), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Rp315,7 triliun atau melonjak 41,3 persen (yoy).
“Semua penerimaan pajak tumbuh kencang. Data ini menunjukkan, perbaikan ekonomi kita betul-betul sedang terjadi,” jelas Menkeu. Hal itu juga didukung sistem administrasi perpajakan Coretax yang makin baik.
Dalam kaitan itu, secara khusus Purbaya menyoroti penerimaan PPh Badan yang tumbuh 23,9 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang hanya 5,1 persen.
Baca juga: APBN dan Ekonomi Kuat, Menkeu Bidik Pertumbuhan 5,7 Persen pada Triwulan II
Ia mengaku sempat khawatir, rendahnya pertumbuhan PPh Badan pada April mencerminkan pelemahan kinerja korporasi. Namun, data Mei menunjukkan kondisi berbagai perusahaan di Indonesia masih sehat.
“Jadi, kekhawatiran saya sebelumnya soal kemungkinan perusahaan-perusahaan pada bangkrut, sehingga bayar pajaknya kecil, ternyata salah. Mereka cukup sehat,” terang Menkeu.
Ia juga menyoroti pertumbuhan penerimaan PPN dan PPnBM yang mencapai 41,3 persen, makin tinggi dibandingkan April yang tumbuh 40,2 persen, dan juga PPh Orang Pribadi yang tumbuh 26 persen.
Hal itu menunjukkan aktivitas ekonomi riil dan korporasi berlangsung makin baik, dan daya beli masyarakat tetap terjaga karena PPN dan PPnBM merupakan pajak konsumsi, sedangkan PPh Orang Pribadi adalah pajak penghasilan karyawan.
“Data penerimaan pajak itu menjadi bukti, perbaikan ekonomi yang selama ini disampaikan pemerintah, benar-benar sedang terjadi di lapangan,” kata Pirbaya. Dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik dan penguatan administrasi perpajakan, ia optimistis target penerimaan negara 2026 akan tercapai.
Baca juga: Strategi Anggaran dan Utang Serba 3 Ala Kemenkeu untuk Jaga Ekonomi
Ia mengaku, saat menerima kritik bahwa pertumbuhan ekonomi hanya di atas kertas, bukan di ekonomi riil masyarakat, ia tidak tutup kuping.
“Saya periksa ke mana-mana, termasuk lihat data ini. Di sini kelihatan naik semua (penerimaan pajak), tumbuhnya cukup kencang,” ungkap Menkeu.
Berdasarkan data penerimaan pajak tersebut, ditambah defisit yang terjaga di 0,70 persen PDB, keseimbangan primer kembali surplus, dan realisasi pembiayaan anggaran (utang dan investasi) hingga Mei 2026 sebesar Rp379,4 triliun atau 55,1 persen dari target APBN 2026, ia mengaku bingung kalau ada pengamat yang bilang nilai tukar rupiah terus melemah karena pengelolaan fiskal (APBN) tidak disiplin.
“Saya agak bingung dari mana (tidak disiplinnya). Berdasarkan semua data di atas, kondisi fiskal kita amat baik, sehat dan aman,” tandas Purbaya.