Bos BI: Rupiah Sudah Undervalued, Akan Menguat Selaras Fundamental Ekonomi
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) saat ini sudah undervalued (di bawah nilai wajarnya), dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Fundamental yang baik itu tercermin dari pertumbuhan yang tetap relatif tinggi kendati ada konflik di Timur Tengah, inflasi yang rendah, yield surat utang yang tetap menarik, dan komitmen kuat BI menjaga stabilitas rupiah.
Pertumbuhan ekonomi itu ditopang permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga naik, karena keyakinan pelaku ekonomi dan penghasilan masyarakat tetap terjaga, ditopang kenaikan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri. Belanja pemerintah juga meningkat, seiring pemberian THR dan kenaikan belanja sosial serta berbagai insentif lainnya, termasuk transfer ke daerah.
Investasi, khususnya bangunan, juga tetap baik didorong terutama oleh akselerasi investasi terkait berbagai program prioritas pemerintah. “Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 4,9–5,7 persen,” kata Perry.
Terkait aliran modal asing portofolio yang sangat mempengaruhi fluktuasi nilai tukar rupiah, BI menyebut sepanjang Januari-Maret modal asing keluar bersih (net outflows) USD1,7 miliar. Terutama dipengaruhi oleh ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
“Namun, awal triwulan II 2026 (hingga 20 April 2026), aliran modal asing kembali mencatat net inflows (masuk bersih) 1,9 miliar dolar AS. Terutama ditopang aliran masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN (surat utang pemerintah), karena kenaikan imbal hasil (yield) di kedua instrumen tersebut,” ujar Gubernur Perry.
Baca juga: 3 Bulan Cadangan Devisa Terkuras USD8,4 Miliar untuk Intervensi, Tapi Rupiah Makin Payah
Posisi SRBI pada 21 April 2026 tercatat sebesar Rp885,41 triliun, dengan kepemilikan asing mencapai Rp165,98 triliun (18,75 persen dari total outstanding), yang mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Cadangan devisa RI per akhir Maret 2026 juga masih memadai sebesar USD148,2 miliar.
Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold tunai beli valas terhadap rupiah, peningkatan threshold jual DNDF/Forward, peningkatan threshold beli dan jual swap, yang berlaku mulai April 2026.
Kendati demikian, Gubernur BI mengakui, nilai tukar rupiah tetap melemah terutama karena faktor ketidakpastian global yang meningkat, ditambah faktor domestik menyangkut kondisi fiskal pemerintah. Per 21 April 2026 kurs rupiah tercatat Rp17.140 per USD, melemah 0,87 persen (ptp) dibanding akhir Maret 2026.
Baca juga: Pemerintah Tetap Pede Ekonomi RI Tangguh, Triwulan Satu Bisa Tumbuh 5,5 Persen atau Lebih
Namun, ke depan BI yakin rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung komitmen BI, yield surat utang yang tetap menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap baik. “Karena itu penting untuk terus menjaga optimisme terhadap perekonomian Indonesia,” tegas Gubernur Perry.