Maret Penyaluran Kredit Naik Lagi, Tapi Kredit Nganggur Tetap Tinggi
Rapat Dewamn Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (22/4/2026), melaporkan, transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut seiring kondisi likuiditas yang longgar.
Suku bunga deposito 1 bulan turun 62 basis poin (bps) dari 4,81 persen pada awal Januari 2025, menjadi 4,19 persen pada Maret 2026. Sementara suku bunga kredit turun 44 bps dari 9,20 persen menjadi 8,76 persen pada periode yang sama.
“Ke depan, upaya penurunan bunga dana dan kredit perbankan perlu terus ditingkatkan, untuk mendorong penyaluran kredit (lebih tinggi) dan pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers daring.
Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan koordinasi dalam mengurangi pemberian special rate (bunga khusus yang lebih tinggi) kepada deposan besar yang porsinya saat ini mencapai 26,30 persen dari total DPK (dana pihak ketiga) atau simpanan masyarakat di perbankan.
Kredit perbankan sendiri pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen (yoy), meningkat dibanding Februari 2026 sebesar 9,37 persen (yoy), kendati tetap masih lebih rendah dibanding Januari 2026 sebesar 9,63 persen.
Kredit investasi, kredit modal kerja (KMK), dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh 20,85 persen (yoy), 4,38 persen (yoy), dan 5,88 persen (yoy) pada Maret 2026. “Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 tetap terjaga pada kisaran 8-12 persen, dipengaruhi oleh sisi permintaan dan penawaran,” ujar Gubernur Perry.
Baca juga: Kendati Ada Tekanan Global, BI Bilang Triwulan Satu Pertumbuhan Ekonomi RI Meningkat
Kendati penyaluran kredit kembali naik, fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) atau kredit nganggur tetap tinggi, mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59 persen dari plafon kredit yang tersedia. Nyaris tidak berubah dibanding tahun lalu, yang menunjukkan debitur masih sangat berhati-hati memanfaatkan kredit yang sudah diperolehnya.
Kapasitas penyaluran kredit perbankan sendiri memadai. Terlihat dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,85 persen, dan DPK yang masih tumbuh tinggi sebesar 13,55 persen (yoy) pada Maret 2026.
Minat penyaluran kredit perbankan juga tetap baik. Tergambar dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang masih longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM karena dinilai masih berisiko tinggi.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan, termasuk pengembangan instrumen nontraditional funding (non-DPK) guna mendukung penyaluran kredit.
Baca juga: Pemerintah Bilang Triwulan I Kredit Tumbuh Double Digit, Tapi Kredit UMKM Masih Payah
Gubernur Bi menyatakan, ketahanan perbankan tetap kuat untuk memitigasi risiko dampak dari perang Timur Tengah. Terlihat dari likuiditas yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) pada Februari 2026 tercatat tinggi sebesar 25,83 persen, tergolong kuat dalam menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.
Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) secara agregat tetap rendah sebesar 2,17 persen (bruto) dan 0,83 persen (neto) pada Februari 2026.
“Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan, ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dampak rambatan gejolak global dari perang Timur Tengah, ditopang kemampuan bayar dan profitabilitas yang tetap terjaga,” tegas Gubernur Perry.