BI Pastikan Kebijakan Likuiditas Longgar untuk Dorong Kredit
Kebijakan likuiditas longgar yang dijalankan Bank Indonesia (BI) sudah cukup berhasil menurunkan bunga dana dan kredit perbankan. BI memastikan akan meneruskan kebijakan likuiditas longgar itu, guna mendorong penyaluran kredit dan pertumbuhan ekonomi.
Antara lain dengan menjaga pertumbuhan uang primer lebih dari 10 persen sesuai dengan ekspansi moneter, termasuk melalui transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.
Bank Indonesia melaporkan, Rabu (22/4/2027), BI membeli SBN sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal, dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, yang pada 2026 (hingga 21 April 2026) mencapai Rp111,54 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder senilai Rp56,53 triliun.
BI juga terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Implementasi penguatan KLM sejak 16 Desember 2025 diarahkan untuk memberikan insentif yang lebih tinggi, bagi bank yang mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan kepada sektor tertentu yang ditetapkan Bank Indonesia (lending channel), serta bank yang lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru (interest rate channel).
Baca juga: Maret Penyaluran Kredit Naik Lagi, Tapi Kredit Nganggur Tetap Tinggi
Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama April 2026 tercatat sebesar Rp427,9 triliun, dengan alokasi pada lending channel Rp358,0 triliun serta interest rate channel Rp69,9 triliun.
Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN Rp224,0 triliun, BUSN (bank swasta) Rp166,6 triliun, BPD (bank daerah) Rp29,6 triliun, dan KCBA (bank asing) Rp7,8 triliun.
Secara sektoral, KLM telah disalurkan ke sektor-sektor prioritas, mencakup sektor pertanian, industri, dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, sektor konstruksi, real Estate, dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan (pembiayaan hijau).
Salah satu indikator likuiditas longgar, pada Maret 2026 pertumbuhan uang primer (M0) mencapai 11,8 persen (yoy). Terutama dipengaruhi oleh giro bank umum di BI yang tumbuh 38,3 persen, dan uang kartal (uang kertas dan logam) yang tumbuh 8,6 persen. Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M0 pada Maret 2026 didorong ekspansi fiskal dan strategi operasi moneter.
Baca juga: Kendati Ada Tekanan Global, BI Bilang Triwulan Satu Pertumbuhan Ekonomi RI Meningkat
Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,7% (yoy), setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10 persen (yoy).
Pertumbuhan M2 itu, terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan pertumbuhan penyaluran kredit. “Ke depan, pertumbuhan uang beredar akan terus dikelola sehingga tetap konsisten menjaga stabilitas, dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah,” tulis laporan BI.