Harga Beras Selalu Naik, Tapi Daya Beli Petani Makin Turun
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan awal pekan ini (4/5/2026), harga beras baik di penggilingan maupun di tingkat grosir dan ecderan terus meningkat.
Rata-rata harga beras (premium, medium, dan kualitas lainnya) di penggilingan pada April 2026 mencapai Rp13.685 per kg dibanding Maret 2026 sebesar Rp13.617. Naik 0,50 persen secara bulanan (mtm) dan 7,47 persen secara tahunan (yoy).
Sementara di tingkat grosir, rata-rata harga beras pada April 2026 tercatat Rp14.476 per kg dibanding Rp14.419 pada Maret 2026, atau naik 0,39 persen (mtm) dan 4,45 persen (yoy).
Sedangkan di tingkat eceran, rata-rata harga beras pada April 2026 mencapai Rp15.290 per kg dibanding Maret 2026 sebesar Rp15.202, atau naik 0,58 persen (mtm) dan 4,36 persen (yoy).
Berkebalikan dengan harga beras, daya beli petani yang menjadi produsennya justru makin menurun, yang tercermin dari nilai tukar petani (NTP).
NTP adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat daya beli petani di perdesaan.
NTP juga menunjukkan, daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian, dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi pertanian.
Menurut BPS, NTP nasional pada April 2026 mencapai 125,24, turun 0,09 persen dibanding NTP Maret 2026 sebesar 125,35 dan Februari 125,45. NTP Februari 2026 meningkat cukup signifikan dibanding NTP Januari 2026 sebesar 123,60, dan menjadi yang tertinggi dalam 12 bulan terakhir.
Baca juga: Harga Semua Jenis Beras di Tingkat Petani dan Penggilingan Turun Secara Tahunan
Penurunan NTP April 2026 terjadi, karena Indeks Harga yang Diterima Petani dari penjualan padi/beras, meningkat lebih rendah (0,16 persen) dibanding kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani untuk aneka barang dan jasa yang dikonsumsinya yang 0,24 persen.
Pada April 2026 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani di Indonesia sebesar 0,06 persen, dengan kenaikan IKRT tertinggi terjadi pada kelompok transportasi.
NTP di Yogyakarta mengalami penurunan terdalam (2,89 persen) dibandingkan provinsi lain. Sebaliknya, NTP di Riau mengalami kenaikan tertinggi (4,41 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 38 provinsi, BPS menyatakan, penurunan NTP April 2026 dipengaruhi oleh turunnya NTP di tiga subsektor pertanian: tanaman hortikultura sebesar 5,31 persen, peternakan 1,59 persen, dan perikanan 0,97 persen.
Baca juga: Ketimpangan Makin Tajam, Kini Harta 50 Orang Terkaya Setara Kekayaan 55 Juta Penduduk
Sementara dua subsektor lain mengalami kenaikan, yaitu tanaman pangan 0,43 persen dan tanaman perkebunan rakyat 1,62 persen.
Seiring penurunan NPT, juga merosot Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) nasional April 2026 sebesar 0,47 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya, menjadi 130,30.
Data NTP yang dirilis BPS menunjukkan, peningkatan daya beli petani selalu kalah dari kenaikan harga beras, atau kenaikan harga beras belum sepenuhnya dinikmati petani yang memproduksinya, karena biaya produksi dan kebutuhan rumah tangga petani meningkat lebih tinggi. Yang jelas selalu untung, para tengkulak baik pengepul padi maupun pedagang beras.