Rabu, Mei 6, 2026
HomeNewsEkonomiQ1 Ekonomi Tumbuh Tinggi, Neraca Dagang Tetap Surplus, Inflasi Melandai, Tapi Rupiah...

Q1 Ekonomi Tumbuh Tinggi, Neraca Dagang Tetap Surplus, Inflasi Melandai, Tapi Rupiah Kok Makin Payah?

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (5/4/2026), ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh lebih tinggi. Mencapai 5,61 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan I 2025 sebesar 4,87 persen (yoy) dan triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen.

Menurut Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, secara nominal PDB Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB), dan Rp3.447,7 triliun berdasarkan harga konstan (ADHK).

“Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 dibandingkan triwulan satu 2025, atau secara year on year, tumbuh 5,61 persen,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta.

Sementara secara triwulanan (qtq) ekonomi Indonesia mengalami kontraksi atau minus 0,77 persen dibandingkan triwulan IV 2025.

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi triwulan satu 2026 terutama ditopang penyediaan akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 13,14 persen, seiring momen libur nasional (Imlek, Nyepi, Ramadan dan Idul Fitri), dan implementasi program prioritas nasional sepertti MBG.

Kemudian oleh sektor jasa lainnya yang tumbuh 9,91 persen, terutama karena meningkatnya perjalanan wisatawan Nusantara selama libur nasional, dan naiknya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Lalu oleh sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,04 persen, didorong peningkatan mobilitas masyarakat selama libur nasional, yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi.

Berdasarkan lapangan usaha (LU), pertumbuhan PDB triwulan I 2026 masih disumbang LU yang itu-itu juga. Yaitu, industri pengolahan sebesar 1,03 persen basis poin, perdagangan dengan sumber pertumbuhan 0,82 persen basis poin, pertanian dengan sumber pertumbuhan 0,55 persen, serta konstruksi dengan sumber pertumbuhan 0,53 persen.

Baca juga: Ekspor RI Tetap Naik Meski Ekonomi Dunia Bergejolak, Surplus Dagang Berlanjut 71 Bulan Tanpa Putus

Begitu pula dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 disumbang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen dengan kontribusi terhadap PDB 54,36 persen.

Diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi baik pemerintah maupun swasta yang tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi terhadap PDB 28,29 persen, dan konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81 persen, karena ekspansi belanja yang tinggi selama triwulan pertama tahun ini baik belanja pegawai seperti THR maupun barang dan jasa untuk program prioritas seperti MBG.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar pada triwulan satu, mencapai 2,94 persen. Diikuti PMTB 1,79 persen, dan konsumsi pemerintah 1,26 persen.

Rupiah melemah, IHSG menguat
Sehari sebelumnya BPS juga melaporkan neraca perdagangan RI Maret 2026 masih terus surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dan inflasi makin melandai dalam empat bulan terakhir menjadi 2,42 persen (yoy) pada April 2026.

Baca juga: April Inflasi Kian Melandai, Tapi Konflik Timur Tengah Mulai Berdampak

Kendati ekonomi RI dihiasi berita positif secara beruntun dalam dua hari ini, rupiah yang sudah terpuruk sejak beberapa pekan ini tidak menguat tapi malah makin kepayahan. Kalau pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026) tercatat Rp17.380 per USD, hari ini makin melemah di atas Rp17.400.

Sebaliknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meningkat 1,25 persen hingga siang hari ini menjadi 7.058,81 atau naik 86,86 poin, menyusul aneka berita positif dalam ekonomi RI itu. Sehari sebelumnya IHSG terpuruk ke bawah 7.000, dipengaruhi sentimen geopolitik dan domestik yang membuat investor asing menarik dananya dari pasar saham RI.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Kita Sudah Keluar dari Jebakan Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen

Menteri Keuangan (Mnekeu) Purbaya Yudhi Sadewa sumringah, karena perekonomian...

Supaya Ekonomi Tetap Tumbuh Tinggi, Pemerintah Akan Lakukan Ini

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah melansir aneka pencapaian positif...

Full Nganggur 7,24 Juta, Setengah Nganggur 10,73 Juta, Proporsi Pekerja Informal Meningkat

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (5/5/2026), pengangguran terbuka...

PMI Manufaktur RI Terkontraksi, Kemenperin: Karena Tekanan Global

Manufaktur atau industri pengolahan adalah motor utama pertumbuhan ekonomi...

Berita Terkini